KUDUS, Suara Muhammadiyah – Pendidik di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Mereka juga perlu menjaga kedekatan dengan Allah SWT. Pesan itu mengemuka dalam Pengajian Guru dan Karyawan AUM di lingkungan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kota Kudus. Kegiatan berlangsung pada Jum'at (9/10/2026) di Aula Muhammadiyah, Jalan KHR Asnawi No. 7, Damaran, Kota Kudus.
Sebanyak 130 guru dan karyawan hadir dari SD Birrul Walidain Kudus, SD Muhammadiyah 1 Kudus, MI Muhammadiyah 1 Kudus, MI Muhammadiyah Program Khusus Kudus, SMP Muhammadiyah 1 Kudus dan Anggota Majelis Dikdasmen PNF PCM Kota Kudus.
Dalam sambutannya, Bendahara Majelis Dikdasmen PNF PCM Kota Kudus, Basuki, S.Pd., berpesan agar para guru dan karyawan AUM disiplin serta profesional dalam mendidik anak dengan nilai-nilai Islami dan berkemajuan. Menurutnya, kedisiplinan dan profesionalitas pendidik menjadi fondasi agar nilai-nilai tersebut benar-benar hadir dalam keseharian peserta didik di sekolah Muhammadiyah.
Pengajian mengangkat tema "Ruhiyah Kuat di Sekolah Muhammadiyah Berkemajuan". Pemateri, H. Noor Muslikan, S.Sos, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa manusia terdiri atas dua unsur, jasmani (jasadiyah) dan rohani (ruhiyah), dan keduanya wajib dipenuhi kebutuhannya. Kebutuhan jasmani mencakup makan, olahraga, istirahat, dan tempat tinggal. Kebutuhan rohani mencakup membaca Al-Qur'an, zikir, shalat, puasa, dan menuntut ilmu.
Noor Muslikan menjelaskan tarbiyah ruhiyah atau pendidikan rohani. Pendidikan ini adalah usaha yang terstruktur untuk mengarahkan, melatih, dan membimbing unsur kerohanian manusia menuju tujuan pendidikan menurut ajaran Islam. Ia merujuk pandangan 'Abd al-Halim Mahmud bahwa tujuan pendidikan ruhiyah adalah mengajarkan ruh cara menjaga, memperbaiki, dan mengembangkan hubungannya dengan Allah SWT melalui ibadah, ketundukan, dan kepatuhan. Arah akhirnya adalah terbentuknya peserta didik yang ideal dan berakhlak mulia (insan kamil).
Pilar pendidikan ruhiyah, menurutnya, bertumpu pada seluruh rukun iman: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.
Ia juga mengutip hadis riwayat Muslim nomor 1631 tentang tiga amal yang tidak terputus setelah seseorang meninggal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan yang baik tidak berhenti di ruang kelas. Dampaknya terus mengalir sebagai amal jariyah bagi para pendidik.
Pendidikan sendiri bertujuan menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Mereka juga diharapkan dewasa dan bertanggung jawab atas masa depannya, cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, serta berakhlak mulia dan gemar beramal saleh.
Pesan yang paling ditekankan kepada peserta adalah bahwa ruhiyah siswa tidak mungkin tumbuh bila ruhiyah gurunya kering. Karena itu, pendidik diajak menghidupkan ruhiyahnya sendiri. Caranya dengan memperkuat iman dan ilmu, menjaga keikhlasan dan tekad, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendidik juga diminta menjaga kerendahan hati di tengah ketinggian ilmu, dan memberi teladan sebelum menyampaikan nasihat. Nilai simpati, empati, ihsan, dan tawakal disebut sebagai bekal sikap di hadapan peserta didik.
Untuk siswa, internalisasi nilai ruhiyah di sekolah Muhammadiyah Berkemajuan dilakukan lewat pembiasaan, antara lain shalat berjamaah di masjid sekolah; tilawah Al-Qur'an secara rutin; zikir dan doa; puasa sunnah; berinfak; berbakti kepada orang tua dan guru.
Pembiasaan ini dimaksudkan menumbuhkan kesadaran spiritual dan keimanan yang kelak menjadi karakter, bukan sekadar rutinitas.(Supardi)

