Saad Ibrahim: Beragama Jangan Ekstrim

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
497
Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Dakwah sejatinya bukan sekadar menyampaikan teks dan ayat, tetapi mengajak manusia kembali mengaktualisasikan fitrah kebaikannya. Pesan inilah yang ditekankan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Saad Ibrahim dalam Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) II Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengusung tema “Akselerasi Dakwah Muhammadiyah Terpadu” (30/1).

Di hadapan peserta Rakornas, Saad menegaskan bahwa dakwah harus mampu membawa manusia menuju kebaikan yang nyata. Ia mengingatkan agar aktivitas dakwah tidak berhenti pada tataran normatif, melainkan menyentuh dimensi kehidupan manusia secara utuh.

Untuk menguatkan pandangannya, Saad mengutip firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara yang berisi pengakuan Nabi Ibrahim, “Dialah Allah yang menciptakan saya dan Dia memberi petunjuk kepada saya.” Mengacu pada tafsir ath-Thabari, ia menjelaskan bahwa petunjuk dimaknai sebagai segala hal yang mendekatkan manusia kepada kebenaran—baik dalam ucapan, pola pikir, cara pandang, hingga pada tahap aktualisasi yang lebih konkret. Dari proses itulah, manusia diarahkan menuju kecerdasan dan kematangan hidup.

Menurut Saad, manusia pada dasarnya memiliki potensi kebaikan. Karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan pendekatan yang baik dan manusiawi.

“Manusia itu punya hati, maka masuklah dari hatinya,” ujarnya. Pendekatan dakwah, lanjutnya, harus mampu menyentuh sisi batin dan kemanusiaan, bukan sekadar menekankan aspek formal keagamaan.

Ia juga mengingatkan para dai Muhammadiyah agar tidak menyampaikan Islam dengan cara-cara yang ekstrem. Salah satu kunci untuk menghindari sikap dan pemahaman keagamaan yang ekstrem, menurut Saad, adalah penguasaan ilmu ushul fikih. Dengan landasan metodologis yang kuat, dai diharapkan mampu bersikap proporsional dan bijak dalam menyikapi keberagaman persoalan keagamaan.

“Beragam jangan ekstrem,” tegasnya.

Lebih jauh, Saad menyoroti pentingnya transformasi dakwah di tengah perubahan zaman. Ia menilai, dakwah Muhammadiyah ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada nushush (teks-teks normatif), tetapi juga perlu mengintegrasikan pendekatan sains dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dakwah akan lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan masyarakat modern.

“Selain berdakwah berbasis pada nushush, sudah saatnya juga berbasis pada sains dan ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUPANG, Suara Muhammadiyah - Tanwir Muhammadiyah tahun 2024 diselenggarakan pada hari Rabu–Jum....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Berita

Meneguhkan Epistimologi dengan Merawat Harmoni  BANJARBARU, Suara Muhammadiyah - Peserta yang ....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Berita

TANAHLAUT, Suara Muhammadiyah - Pungga Zalzabila, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Aceh dari Fakul....

Suara Muhammadiyah

21 November 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Miris. Mungkin menjadi satu kata yang dapat mewakili tulisan ....

Suara Muhammadiyah

12 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tim Pengbdian Dosen Fakultas Kedokteran UII dan UAD berkolabo....

Suara Muhammadiyah

8 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah