Saad Ibrahim: Beragama Jangan Ekstrim

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

680
Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Dakwah sejatinya bukan sekadar menyampaikan teks dan ayat, tetapi mengajak manusia kembali mengaktualisasikan fitrah kebaikannya. Pesan inilah yang ditekankan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Saad Ibrahim dalam Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) II Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengusung tema “Akselerasi Dakwah Muhammadiyah Terpadu” (30/1).

Di hadapan peserta Rakornas, Saad menegaskan bahwa dakwah harus mampu membawa manusia menuju kebaikan yang nyata. Ia mengingatkan agar aktivitas dakwah tidak berhenti pada tataran normatif, melainkan menyentuh dimensi kehidupan manusia secara utuh.

Untuk menguatkan pandangannya, Saad mengutip firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara yang berisi pengakuan Nabi Ibrahim, “Dialah Allah yang menciptakan saya dan Dia memberi petunjuk kepada saya.” Mengacu pada tafsir ath-Thabari, ia menjelaskan bahwa petunjuk dimaknai sebagai segala hal yang mendekatkan manusia kepada kebenaran—baik dalam ucapan, pola pikir, cara pandang, hingga pada tahap aktualisasi yang lebih konkret. Dari proses itulah, manusia diarahkan menuju kecerdasan dan kematangan hidup.

Menurut Saad, manusia pada dasarnya memiliki potensi kebaikan. Karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan pendekatan yang baik dan manusiawi.

“Manusia itu punya hati, maka masuklah dari hatinya,” ujarnya. Pendekatan dakwah, lanjutnya, harus mampu menyentuh sisi batin dan kemanusiaan, bukan sekadar menekankan aspek formal keagamaan.

Ia juga mengingatkan para dai Muhammadiyah agar tidak menyampaikan Islam dengan cara-cara yang ekstrem. Salah satu kunci untuk menghindari sikap dan pemahaman keagamaan yang ekstrem, menurut Saad, adalah penguasaan ilmu ushul fikih. Dengan landasan metodologis yang kuat, dai diharapkan mampu bersikap proporsional dan bijak dalam menyikapi keberagaman persoalan keagamaan.

“Beragam jangan ekstrem,” tegasnya.

Lebih jauh, Saad menyoroti pentingnya transformasi dakwah di tengah perubahan zaman. Ia menilai, dakwah Muhammadiyah ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada nushush (teks-teks normatif), tetapi juga perlu mengintegrasikan pendekatan sains dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dakwah akan lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan masyarakat modern.

“Selain berdakwah berbasis pada nushush, sudah saatnya juga berbasis pada sains dan ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Tidak lupa kacang akan kulitnya,  Menteri Pendidikan Dasar dan M....

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

Berita

JEPARA, Suara Muhammadiyah - Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (....

Suara Muhammadiyah

18 February 2026

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Tim Tari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kembali mengukir....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – SMP Muhammadiyah 1 Depok (Musade) menerima kunjungan kerja dari D....

Suara Muhammadiyah

18 April 2026

Berita

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh menyelenggarakan agenda ru....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah