Saling Belajar Satu Sama Lain: Mempererat Hubungan antara Komunitas Muslim di Indonesia dan Inggris

Suara Muhammadiyah

2 October 2026

416
Dominic Jermey, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste

Dominic Jermey, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste

Saling Belajar Satu Sama Lain: Mempererat Hubungan antara Komunitas Muslim di Indonesia dan Inggris

Oleh: Dominic Jermey CVO, OBE, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste 

Selama saya tinggal dan bekerja di Indonesia, salah satu hal yang paling membuat saya bahagia adalah menyaksikan tumbuhnya hubungan-hubungan baru antar komunitas. Karena itu, saya sangat senang mengetahui bahwa PCIM UK & Ireland (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah UK dan Irlandia) menjadi organisasi Indonesia pertama yang diterima sebagai anggota Muslim Council of Britain (MCB), sebuah jaringan yang menaungi lebih dari 500 masjid, lembaga pendidikan, organisasi amal, dan organisasi profesi dari seluruh Inggris. Ini merupakan tonggak sejarah penting bukan hanya bagi Muhammadiyah dan diaspora Indonesia, tetapi juga bagi hubungan yang terus berkembang antara komunitas Muslim di Indonesia dan Inggris. 

Yang paling menarik bagi saya dari perkembangan ini adalah bagaimana hal tersebut mencerminkan kehidupan Muslim di Inggris saat ini. 

Menurut Sensus 2021, sekitar 4,1 juta penduduk Inggris mengidentifikasi diri sebagai Muslim, menjadikan Islam sebagai agama terbesar setelah Kristen di negara saya. Organisasi-organisasi Muslim mengelola sekolah, membantu keluarga yang membutuhkan, menyediakan layanan kesejahteraan sosial, dan memberikan kontribusi bagi komunitas lokal di berbagai wilayah Inggris. Secara keseluruhan, kontribusi tersebut menunjukkan peran aktif komunitas Muslim dalam kehidupan masyarakat Inggris saat ini.

Kontribusi tersebut dapat dilihat di berbagai bidang kehidupan.

Banyak masyarakat Indonesia mengenal Sadiq Khan, Wali Kota London. Ia memimpin salah satu kota paling beragam di dunia, yang sekaligus merupakan kota dengan keberagaman agama tertinggi di Inggris dan menjadi rumah bagi sekitar 1,3 juta Muslim.

Para penggemar sepak bola mungkin lebih mengenal Mohamed Salah, dengan prestasinya yang menjadikannya salah satu pemain paling dikagumi dalam sejarah Liga Primer Inggris. Sebagai pendukung Chelsea, saya harus mengakui bahwa menyaksikannya bermain untuk Liverpool sering kali bukanlah hal yang mudah bagi saya. Namun demikian, ia mendapat apresiasi luas dari para pendukung sepak bola di seluruh Inggris, termasuk saya. Jutaan orang mengaguminya terutama karena kemampuan sepak bolanya yang luar biasa, sekaligus menghargai bahwa keimanan dan identitasnya merupakan bagian penting dari jati dirinya.

Namun, nama-nama yang telah dikenal luas tersebut hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar. Di seluruh Inggris, organisasi amal Muslim, lembaga pendidikan, asosiasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan berkontribusi dalam kehidupan publik serta melayani masyarakat setiap hari, sering kali bekerja sama dengan mereka dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Warga Muslim, Kristen, Hindu, Sikh, Yahudi, Buddha, dan komunitas lainnya secara rutin berkolaborasi melalui program kepemudaan maupun kegiatan sosial untuk membantu sesama dan kelompok rentan. Dalam banyak kesempatan, kemitraan praktis semacam ini membangun saling pengertian secara lebih efektif dibandingkan dialog formal semata.

Salah satu contoh inisiatif lain adalah Inter Faith Week (Pekan Kerukunan Antariman), yang tahun ini akan berlangsung pada 8-15 November. Kegiatan ini mempertemukan berbagai organisasi dari seluruh Inggris untuk memperkuat kerja sama dan merayakan kontribusi dari beragam komunitas-komunitas keagamaan. Upaya-upaya tersebut mencerminkan nilai saling menghormati dan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (Freedom of Religion or Belief/FoRB), yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Inggris modern.

Seiring dengan lamanya saya tinggal di Indonesia, saya semakin menghargai makna Bhinneka Tunggal Ika. Seiring Inggris terus tumbuh dalam keberagaman, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman satu sama lain dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman budaya, identitas, dan keyakinan. Komitmen Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keragaman yang luar biasa merupakan pelajaran berharga bagi banyak negara di dunia, termasuk negara saya, Inggris. 

Kehadiran Muhammadiyah dalam MCB juga menunjukkan semakin pentingnya peran kepemimpinan diaspora. Melalui organisasi seperti PCIM UK & Ireland, Muslim Indonesia turut berkontribusi dalam berbagai diskusi mengenai pendidikan, pelayanan masyarakat, dan partisipasi warga. Pada saat yang sama, mereka membantu mendorong pertukaran gagasan dan pengalaman antara Indonesia dan Inggris sehingga kedua negara dapat terus saling belajar satu sama lain. 

Hubungan tersebut terlihat sangat jelas dalam bidang pendidikan dan pelayanan masyarakat. Pertemuan Prof. Syafiq Mughni beberapa waktu lalu dengan institusi seperti Oxford Centre for Islamic Studies dan East London Mosque menunjukan adanya perhatian bersama dalam pengembangan keilmuan, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan sosial.

Pertukaran pendidikan juga menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan masyarakat Indonesia dan Inggris. Salah satu contohnya adalah Prof. Abdul Mu'ti, yang menerima Chevening Fellowship yang didukung Pemerintah Inggris di Universitas Birmingham pada tahun 2004. Program-program pendidikan dan pertukaran semacam ini membantu melahirkan para pemimpin masa depan, memperkuat jejaring profesional, dan memperdalam pemahaman antar masyarakat. Yang tak kalah penting, pertukaran tersebut membuka ruang bagi kedua negara untuk saling belajar dari pengalaman satu sama lain.

Seiring saya semakin mengenal berbagai kiprah Muhammadiyah di Indonesia, saya semakin menyadari bahwa kita menghadapi banyak pertanyaan yang sama. Bagaimana kita mempersiapkan generasi masa depan? Bagaimana kita memperkuat komunitas kita? Bagaimana kita mendukung generasi muda di tengah dunia yang berubah dengan cepat? Dan bagaimana kita menciptakan ruang bagi orang-orang dari latar belakang dan keyakinan yang berbeda untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati?

Hubungan yang semakin erat antara Muhammadiyah dan MCB mencerminkan kemitraan yang lebih dari sekadar hubungan antar organisasi. Yang terpenting, hubungan ini mengingatkan kita bahwa banyak hubungan internasional yang kuat tidak dibangun hanya antar institusi, melainkan oleh orang-orang yang bersedia membuka diri, saling belajar dan saling memahami satu sama lain. Di masa dimana informasi bergerak begitu cepatnya, namun pemahaman antar satu sama lain tidak selalu bisa mengikuti, maka kesempatan untuk berdialog, bertukar pengalaman, dan menjalin hubungan yang tulus akan selalu sangat berharga.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Komunikasikanlah Iu Rusliana, Dosen Program MM Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammad....

Suara Muhammadiyah

22 August 2026

Wawasan

Presiden Prabowo, Himbara dan Tantangan Lapangan Kerja  Oleh: Buya Anwar Abbas  Angka pe....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Wawasan

Refleksi Filosofis Candu Judi Online: Kenikmatan Perbuatan Maksiat Oleh: Muzdakir Muhlisin, M.Phil.....

Suara Muhammadiyah

29 July 2024

Wawasan

Menggalang Energi Pemimpin Muhammadiyah untuk Memperkuat Persyarikatan Oleh: Agus Setiyono  M....

Suara Muhammadiyah

25 November 2023

Wawasan

Memaknai Hari Guru Nasional 2024: “Guru Hebat Muhammadiyah untuk Indonesia Kuat” Oleh: ....

Suara Muhammadiyah

25 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah