Sekolah Peradaban: Darul Arqam dan Lahirnya Pemimpin yang Tidak Pernah Berhenti Belajar

Suara Muhammadiyah

13 July 2026

278
Darul Arqam

Darul Arqam

Sekolah Peradaban: Darul Arqam dan Lahirnya Pemimpin yang Tidak Pernah Berhenti Belajar 

Oleh: Amrizal 

Ada pemandangan yang selalu indah dalam sebuah organisasi besar. Bukan ketika ruang sidang dipenuhi pidato. Bukan ketika panggung dipenuhi para pejabat. Bukan pula ketika kamera mengabadikan seremoni yang megah. Pemandangan paling indah justru ketika seorang pemimpin bersedia duduk kembali sebagai murid. Itulah yang sedang kita saksikan dalam Darul Arqam Tingkat Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara yang dilaksanakan tanggal 9-12 Juli 2026 di Mes Porapora Parapat.

Di ruangan yang sama, duduk Ketua dan para anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Ketua dan anggota Pimpinan Wilayah Aisyiyah, serta para Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah dari seluruh Kabupaten dan Kota Sumatera Utara. Mereka adalah orang-orang yang sehari-hari memimpin Persyarikatan di wilayah dan daerahnya masing-masing. Mereka memimpin rapat, mengambil keputusan, membina amal usaha, menyelesaikan persoalan organisasi, bahkan menjadi rujukan bagi ribuan warga Muhammadiyah.

Namun, di forum Darul Arqam, semua identitas itu seakan dilepaskan sejenak. Tidak ada lagi kursi kehormatan. Tidak ada lagi ruang istimewa. Yang ada hanyalah peserta. Murid. Pembelajar. Pencari ilmu. Bukankah ini pelajaran yang sangat mahal? Di zaman ketika banyak orang merasa cukup hanya karena telah memegang jabatan, justru para pemimpin Muhammadiyah menunjukkan bahwa jabatan tidak pernah menghapus kewajiban untuk terus belajar.

Barangkali di sinilah kita kembali diingatkan oleh filosofi padi. Semakin berisi, semakin menunduk. Ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan. Ia justru melahirkan kerendahan hati. Orang yang merasa paling tahu biasanya berhenti belajar. Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu justru semakin menyadari betapa luasnya samudra ilmu Allah.

Allah Swt. berfirman,

"... dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada Yang Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 76)

Ayat ini seakan menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang selesai belajar. Tidak ada ketua yang terlalu tinggi untuk menerima nasihat. Tidak ada pimpinan yang terlalu senior untuk mengikuti kaderisasi. Karena sesungguhnya yang berhenti belajar bukanlah orang yang telah selesai menuntut ilmu. Melainkan orang yang mulai kehilangan kerendahan hati.

Darul Arqam juga mengingatkan kita pada filosofi bambu. Semakin tinggi bambu tumbuh, semakin ia lentur mengikuti angin. Kelenturan bukan tanda kelemahan. Kelenturan adalah tanda kedewasaan. Pemimpin yang besar bukanlah pemimpin yang merasa selalu benar. Melainkan mereka yang masih bersedia mendengar. Masih bersedia dikoreksi. Masih bersedia belajar bersama. Sebab organisasi yang dipenuhi orang-orang yang merasa paling benar akan kehilangan ruang musyawarah. Sebaliknya, organisasi yang dipimpin oleh para pembelajar akan terus menemukan jalan pembaruan.

Sesungguhnya inilah ruh Muhammadiyah sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan. Beliau bukan hanya mengajarkan agama. Beliau mengajarkan budaya belajar. Beliau mengulang pengajian Surat Al-Ma'un berkali-kali hingga murid-muridnya benar-benar mengubah pemahaman menjadi amal. Pelajaran terbesar dari kisah itu bukan sekadar isi suratnya. Tetapi keteladanan bahwa seorang guru pun tidak pernah berhenti mendidik, dan seorang murid tidak pernah berhenti belajar.

Hari ini, semangat itu kita lihat kembali. Para pimpinan wilayah dan daerah rela meninggalkan kesibukan yang tidak sedikit. Sebagian meninggalkan pekerjaan. Sebagian meninggalkan keluarga. Sebagian menunda berbagai agenda organisasi. Semuanya demi satu tujuan. Belajar. Karena mereka memahami bahwa memimpin Muhammadiyah bukan sekadar mengelola organisasi. Memimpin Muhammadiyah adalah amanah ideologi. Dan ideologi hanya dapat dijaga oleh orang-orang yang terus memperbarui pemahamannya.

Dalam Filosofi Akar, kita belajar bahwa pohon tidak pernah menjadi besar tanpa akar yang terus menguat. Akar tidak terlihat. Tidak dipuji. Tetapi akar menjaga seluruh kehidupan pohon. Begitu pula kaderisasi. Ia sering kali tidak viral. Tidak menghasilkan tepuk tangan. Namun darinya lahir pemimpin-pemimpin yang menjaga Persyarikatan tetap tegak.

Darul Arqam adalah proses memperdalam akar itu. Semakin tinggi seseorang memimpin, semakin dalam pula ia harus menanamkan akar ideologinya. Karena pohon yang tinggi dengan akar yang dangkal akan mudah tumbang ketika badai datang. Begitu pula organisasi.

Kita juga bisa belajar dari filosofi sungai. Sungai tidak pernah berhenti mengalir. Ia tidak memilih hanya melewati tempat-tempat yang mudah. Ia menembus batu. Menyusuri lembah. Menghidupi sawah. Memberi minum manusia. Mengalir hingga akhir. Belajar adalah seperti sungai. Ia tidak mengenal kata selesai. Selama hayat masih dikandung badan, seorang kader Muhammadiyah seharusnya tetap mengalir dalam pencarian ilmu. Jabatan hanyalah titik singgah. Belajar adalah perjalanan seumur hidup.

Di tengah suasana Darul Arqam ini, kita juga diingatkan oleh filosofi lebah. Lebah tidak sibuk memperdengarkan suara sayapnya. Ia sibuk menghasilkan madu. Begitu pula para peserta. Tidak datang untuk menunjukkan kedudukannya. Tidak datang untuk memperlihatkan pengaruhnya. Tetapi datang untuk memperbaiki dirinya. Karena pemimpin yang baik selalu memulai perubahan dari dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain berubah.

Namun tulisan ini juga mengajak kita melakukan muhasabah. Masih ada di antara kita yang menganggap kaderisasi sebagai kegiatan biasa. Ada yang merasa terlalu sibuk. Merasa sudah berpengalaman. Merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Bahkan ada yang menganggap mengikuti kaderisasi tidak lagi penting setelah memegang jabatan. Padahal justru di situlah letak bahayanya.

Dalam Filosofi Jamur, kita belajar bahwa sesuatu yang tumbuh terlalu cepat sering kali tidak memiliki akar yang kuat. Sedangkan dalam Filosofi Lumut, kita diingatkan bahwa sesuatu yang tidak dirawat perlahan akan ditutupi oleh kelalaian. Kaderisasi bukan sekadar menambah pengetahuan. Kaderisasi adalah merawat hati. Merawat ideologi. Merawat keikhlasan. Merawat semangat pengabdian. Tanpa itu, organisasi memang masih dapat berjalan. Tetapi ruhnya perlahan memudar.

Darul Arqam sesungguhnya bukan arena mengubah orang yang tidak tahu menjadi tahu. Darul Arqam adalah arena mengingatkan orang-orang yang sudah tahu agar tetap rendah hati. Ia bukan tempat mencari gelar. Ia bukan tempat mengejar sertifikat. Ia adalah ruang untuk memperbarui niat. Memperkuat persaudaraan. Menyamakan visi. Meneguhkan langkah.

Dalam suasana seperti ini, kita melihat sesuatu yang sangat indah. Seorang Ketua Pimpinan Daerah duduk berdampingan dengan Ketua dan anggota Pimpinan Wilayah. Pimpinan Muhammadiyah belajar bersama Pimpinan Aisyiyah. Mereka berdiskusi. Mereka saling mendengar. Mereka saling menguatkan. Tidak ada sekat wilayah. Tidak ada sekat jabatan. Yang ada hanyalah persaudaraan dalam dakwah.

Inilah yang pernah kita pelajari dari Filosofi Pelangi. Berbeda warna. Tetapi menghadirkan satu keindahan. Berbeda tugas. Berbeda pengalaman. Berbeda latar belakang. Namun dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu menegakkan risalah Islam Berkemajuan.

Pada akhirnya, Darul Arqam bukan sekadar agenda kaderisasi. Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan bahwa sebesar apa pun amanah yang kita emban, kita tetap seorang murid di hadapan Allah. Dan mungkin, inilah pelajaran terbesar yang harus dibawa pulang oleh setiap peserta. Bahwa kepemimpinan bukanlah puncak perjalanan. Ia adalah awal dari kewajiban untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Sebab umat tidak membutuhkan pemimpin yang merasa paling tahu. Umat membutuhkan pemimpin yang paling haus ilmu. Yang paling mudah menerima nasihat. Yang paling siap memperbaiki diri. Yang paling ikhlas duduk bersama kader-kadernya.

Bukankah matahari setiap pagi tetap terbit meskipun telah menerangi bumi sejak dahulu?

Bukankah sungai tetap mengalir meskipun telah menghidupi kehidupan selama berabad-abad?

Bukankah padi tetap menunduk ketika bulirnya semakin penuh?

Demikian pula seorang kader Muhammadiyah. Semakin tinggi amanahnya, semakin dalam kerendahan hatinya. Semakin luas pengaruhnya, semakin kuat keinginannya untuk belajar. Karena sesungguhnya masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi oleh apakah para pemimpinnya masih bersedia menjadi murid. Selama para pemimpin tetap mencintai ilmu, menjaga kaderisasi, dan menjadikan belajar sebagai jalan hidup, selama itu pula cahaya fajar Muhammadiyah akan terus menyingsing, menerangi Sumatera Utara, Indonesia, dan dunia dengan nilai-nilai Islam Berkemajuan yang mencerahkan.

Wallahu a’lam bish shawab 

Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut, Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UNY, Dosen Universitas Negeri Medan


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Islam Berkemajuan: Dinamika Sosiospiritual dalam Ruh Bermuhammadiyah Oleh: Soleh Amini Yahman, Drs.....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025

Wawasan

Oleh: Royyan Mahmuda AD., SH., MH, Pengurus PCPM Bumiayu Bagi setiap muslim, perbuatan menjaga....

Suara Muhammadiyah

4 July 2025

Wawasan

Bulan Ramadhan sebagai Bulan Pencerdasan, Pencerahan, dan Pemajuan Umat Islam Oleh: Mohammad Fakhru....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Wawasan

Gerakan Bersepeda di tengah Krisis Energi: Antara Anomali dan Revolusi Paradigma Oleh: Miqdam A. Ha....

Suara Muhammadiyah

2 April 2026

Wawasan

Membangun Karakter di Era Digital: Antara Smart School dan Jeda Ceria Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ket....

Suara Muhammadiyah

23 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah