LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - ditengah zaman yang sering kali mengukur manusia dari produktivitas dan kesempurnaan fisiknya, Muhammadiyah kembali memilih berdiri di barisan yang kerap dilupakan: mereka yang sunyi, mereka yang terluka jiwanya, mereka yang selama ini hanya dipandang sebagai angka statistik dan beban sosial.
Rabu, 20 Mei 2026, suasana berbeda terasa di Yayasan Berkas Bersinar Abadi milik Ipda Purnomo di Babat, Lamongan. Di tempat sederhana itu, kehangatan kemanusiaan dihidangkan bukan hanya lewat semangkuk bakso gratis, tetapi juga melalui pelukan empati dan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.
Kegiatan bertajuk Makan Bakso Gratis tersebut merupakan kolaborasi antara Program Day Care Mentari Pagi Sehat Jiwa RS Muhammadiyah Lamongan bersama LAZISMU Jawa Timur. Lebih dari 600 porsi bakso didistribusikan kepada warga binaan yayasan dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari gerakan kecil yang membawa pesan besar: kesehatan jiwa bukan sekadar urusan medis, tetapi juga perjuangan sosial dan kemanusiaan.
Di hadapan para peserta kegiatan, Ipda Purnomo menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya terhadap gerakan yang diinisiasi Muhammadiyah tersebut.
“Kami sangat senang dan bangga dengan hadirnya Muhammadiyah di tempat ini. Kegiatan seperti ini membuat kami semakin bersemangat dan semakin yakin bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Bagi Muhammadiyah, pelayanan kepada umat memang tidak berhenti di ruang-ruang seremonial. Ia harus hadir di lorong-lorong sunyi kehidupan, menemui mereka yang kerap dipinggirkan oleh stigma dan ketidakpedulian sosial. Sebab luka batin tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat, tetapi juga dengan penerimaan, penghormatan, dan rasa dimanusiakan.
Era Catur Prasetya, penggagas Program Day Care Mentari Pagi RS Muhammadiyah Lamongan, mengaku terharu dengan antusiasme dan kolaborasi lintas sektor dalam kegiatan tersebut.
“Kami ingin Lamongan sehat jiwa. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa semua orang memiliki hak yang sama, semua orang setara, dan semua berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ini adalah langkah awal bagi perjuangan bersama, semoga dampaknya semakin luas,” ungkapnya dengan mata yang tampak berkaca.
Pernyataan itu seakan menjadi kritik halus terhadap wajah pembangunan yang sering kali megah secara fisik, tetapi abai terhadap kesehatan mental masyarakatnya. Ketika banyak orang sibuk membangun gedung tinggi, Muhammadiyah justru memilih membangun ruang aman bagi jiwa-jiwa yang rapuh.
Sementara itu, Wakil Ketua LAZISMU Jawa Timur Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Aditio, menegaskan komitmen LAZISMU untuk terus membersamai program-program kemanusiaan yang digagas Day Care Mentari Pagi RS Muhammadiyah Lamongan. “LAZISMU siap mengawal dan berkolaborasi menghadirkan berbagai keceriaan bersama Day Care Mentari Pagi Sehat Jiwa RS Muhammadiyah Lamongan. Hari ini kami mendistribusikan lebih dari 600 porsi bakso untuk warga binaan yayasan milik Pak Purnomo sebagai bagian dari gerakan kepedulian sosial,” tuturnya.
Apa yang dilakukan Muhammadiyah di Babat ini mungkin tampak sederhana. Hanya bakso gratis. Hanya perjumpaan kecil. Namun sejarah kemanusiaan memang sering lahir dari meja-meja sederhana tempat orang-orang yang terluka akhirnya merasa diterima kembali sebagai manusia.
Dan di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kepentingan, Muhammadiyah memilih tetap setia merawat sunyi. Menghidupkan harapan. Menjaga nurani. Sebab bagi Muhammadiyah, menolong manusia bukan sekadar program kerja,melainkan cara menjaga kemanusiaan itu sendiri agar tidak mati.

