Sepak Bola dan Cara Kita Melihat Peristiwa

Suara Muhammadiyah

20 July 2026

256
Sumber Foto Unsplash

Sumber Foto Unsplash

Sepak Bola dan Cara Kita Melihat Peristiwa

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi

Beberapa hari sebelum laga final antara Argentina dan Spanyol berlangsung, beberapa kawan bertanya kepada saya tentang siapa yang akan saya dukung. Saya menjawab singkat, "Argentina dong." Mereka tidak tahu bahwa saya sebenarnya kurang mengikuti perkembangan dunia sepak bola. Selama Piala Dunia 2026 ini, saya hanya sesekali menonton cuplikan pertandingan. Itu pun pada pagi hari, sambil menunggu istri bersiap untuk saya antar ke Stasiun MRT.

Banyak perbincangan tentang sepak bola yang tidak mampu saya ikuti. Namun, justru di ruang marbot masjid, sehabis salat berjamaah, saya mendapatkan banyak penjelasan dengan bahasa yang mudah saya pahami. Pada laga final pun saya gagal menonton karena baru tiba dari luar kota. Saya langsung tertidur pulas. Sekitar pukul 04.00 saya terbangun dan melihat istri masih menatap layar iPad-nya. Saya bertanya, "Siapa yang menang?" Istri menjawab singkat, "Belum." Mendengar jawaban itu, saya pun tidur lagi dengan pulas.

Usai Subuh, saya baru mengetahui bahwa Spanyol keluar sebagai pemenang. WhatsApp pun dipenuhi beragam komentar. Ada yang bergurau sambil sedikit mengejek, ada yang bersorak merayakan kemenangan dengan menulis, "¡Que viva España!" (Hidup Spanyol!) dan "¡Campeones, campeones!" (Juara, juara!).

Satu Peristiwa, Beragam Makna

Bagi saya yang tidak terlalu mengikuti Piala Dunia, setiap pertandingan terasa biasa-biasa saja. Namun, saya sempat kaget ketika bertemu dengan seorang teman lama di area parkir Danau Situ Gintung. Penampilannya kini tampak sangat agamis. Sambil berbasa-basi, ia bertanya, "Ente dukung siapa nih?"

Saya pun menjawab seperti biasa, "Argentina dong."

Mendengar jawaban itu, ia langsung memegang tangan saya sambil bersuara lirih, "Ente enggak tahu soal VARgentina, ya? Mereka telah menzalimi Mesir yang 90 persen penduduknya bermazhab Sunni. Ente Muhammadiyah, kan? Tahu, kan, kalau Presiden Argentina, Javier Milei, itu dijuluki presiden paling Zionis di dunia? Gimana sih?"

Istri saya buru-buru memberi isyarat agar saya segera naik motor dan meninggalkan obrolan itu. Ia paham betul bahwa saya tidak memahami pernak-pernik maupun berbagai kontroversi seputar Piala Dunia. "Daripada malu-maluin, mendingan kita pergi aja...." ujarnya.

Saya pun membatin, ternyata cara orang memandang kompetisi sepak bola bisa sangat beragam, bahkan terkadang terasa liar. Saya menyadari bahwa cara setiap orang memberi makna terhadap sebuah peristiwa memang tidak mungkin dibatasi. Satu peristiwa yang sama dapat melahirkan beragam kesan, sudut pandang, dan kesimpulan karena setiap orang melihatnya dari pengalaman, pengetahuan, keyakinan, bahkan informasi yang mereka terima.

Seorang teman membagikan poster bergambar Lamine Yamal sedang memegang bendera Palestina, disertai kalimat, "Keberanian tidak diukur dari ketenaran atau jumlah pengikut. Ia diukur dari siapa yang tetap berdiri untuk keadilan ketika hal itu paling penting. Respect to Lamine Yamal." Poster itu membuat saya membaca informasi tentang Lamine Yamal. Saya membacanya sekilas, sekadar ingin tahu, lalu berhenti setelah mendapatkan informasi yang saya perlukan.

Pertandingan Sepak Bola dan Pemilihan Presiden

Meski saya mendukung Argentina, kenyataannya mereka kalah 0–1 dari Spanyol. Saya bersyukur karena kekalahan itu sama sekali tidak memengaruhi suasana batin, apalagi sikap hidup saya. Biasa saja. Saya memahami bahwa dalam setiap kompetisi selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Saya tidak sedih, kecewa, apalagi marah. Mungkin karena tidak ada apa pun yang saya pertaruhkan. Saya juga tidak mengeluarkan modal material apa pun sebagai bentuk dukungan. Risiko paling jauh yang saya terima hanyalah di-mention oleh beberapa teman karena jagoan saya kalah. Namun, gurauan itu justru saya anggap sebagai ungkapan hangat dalam persahabatan yang membuat saya senang.

Pengalaman batin yang saya peroleh dari Piala Dunia 2026 ini tampaknya akan tetap saya pertahankan saat menyikapi Pilpres 2029 nanti. Saya mungkin akan memilih salah satu calon dan memberikan dukungan kepadanya. Namun, suasana batin dan sikap hidup yang berhasil saya praktikkan selama Piala Dunia ini ingin tetap saya bawa dalam menghadapi Pilpres.

Saya memilih tidak mengomentari teknik dan strategi para pemain bola karena saya memang tidak memahaminya, sikap yang sama akan saya pertahankan dalam menyikapi berbagai analisis dan perdebatan politik. Begitu pula mengenai proses penyelenggaraan pemilu. Saya tidak ingin tergesa-gesa menghakimi atau menilai sesuatu yang tidak saya pahami secara utuh. Siapa pun yang akhirnya terpilih, saya berharap tetap akan legawa. Biarkan saja.

Di Balik Satu Pertandingan

Dari satu peristiwa sepak bola, saya belajar bahwa hampir tidak pernah ada satu pemaknaan yang benar-benar seragam. Di sekelilingnya selalu hadir beragam sudut pandang, pengalaman, kepentingan, pengetahuan, bahkan emosi yang memengaruhi cara setiap orang memaknainya. Karena itu, tidak setiap perbedaan harus disikapi dengan permusuhan. Melalui kompetisi, saya belajar tentang kedewasaan: kemampuan berpikir jernih, kesediaan menghargai cara pandang orang lain, serta kerendahan hati untuk menyadari bahwa cara saya memahami sebuah peristiwa bukanlah satu-satunya jalan untuk mendekati kebenaran.

Bisa jadi, orang lain melihat sisi yang belum sempat saya lihat, sebagaimana saya pun mungkin melihat sisi yang luput dari pandangannya. Di situlah dialog, saling menghormati, dan kesediaan untuk terus belajar menemukan maknanya.

Saya terus belajar bahwa dalam setiap kompetisi, termasuk pemilu, saya boleh memiliki jagoan, memberikan dukungan dengan sepenuh hati, dan berharap pilihan saya menjadi pemenang. Namun, kedewasaan ternyata tidak diukur dari seberapa keras saya membela pilihan, melainkan dari seberapa lapang saya menerima hasil yang berbeda dari harapan. Belajar menyikapi setiap kompetisi menjadi salah satu cara terbaik bagi saya untuk mengasah akal sehat dan menajamkan mata batin, agar mampu bercermin, menghormati hasil, menerima kenyataan, serta menjaga kebahagiaan tanpa kehilangan persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dampak Kesehatan Kesejahteraan Guru Oleh: Nabil Syuja Faozan, Mahasiswa Program Profesi Dokter Univ....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Wawasan

Gaji Bangkai: Ketika Bekerja Dicampuri Ghibah Oleh: Deri Adlis, SHI, Mubhaligh Muhammadiyah Kepulau....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Wawasan

Saat Hatimu Butuh Istirahat Oleh: Ernawati, Ketua Bidang Dakwah PDNA Batang Hati adalah pusat dar....

Suara Muhammadiyah

20 January 2025

Wawasan

Lagu, Seni Musik dan Puisi: Sebuah Wakaf Literasi Oleh: Khafid Sirotudin Pada upacara penutupan Mu....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Wawasan

Kemerdekaan untuk Mempersiapkan Generasi Emas Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko, Anggota LPCRPM PP Muh....

Suara Muhammadiyah

26 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah