Setan Menyerang dari Segala Arah, Kaprodi PAI UM Bandung Ungkap Strateginya

Suara Muhammadiyah

6 April 2026

463
Dok Istimewa

Dok Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Kaprodi PAI Universitas Muhammadiyah Bandung Dr Iim Ibrohim MAg mengatakan bahwa Ramadhan yang sudah dilewati beberapa waktu lalu merupakan momentum pembersihan diri yang luar biasa bagi setiap muslim untuk meraih derajat ketakwaan. Selain salat dan puasa, sistem merancang kefitrahan diri juga dibangun dengan zakat fitrah.

Dalam kajian rutin mingguan di Masjid Raya Mujahidin (PWM Jawa Barat), Jalan Sancang Nomor 6, Kota Bandung, akhir Maret lalu, Iim menekankan bahwa sistem pemurnian jiwa yang dirancang Allah melalui salat dan puasa merupakan sarana penghapus dosa, selama hamba-Nya menjauhi kemaksiatan besar.

Lebih lanjut, Iim menjelaskan bahwa ampunan Allah akan mengalir bagi mereka yang berpuasa dengan landasan iman. Namun, dia memberikan catatan akademis sekaligus teologis bahwa kefitrahan pasca-Ramadhan bukanlah akhir dari perjuangan spiritual. Sejatinya titik awal dari ujian konsistensi iman yang sesungguhnya di tengah realitas kehidupan.

Dalam membedah tantangan menjaga kesucian diri, Iim mengupas strategi tipu daya setan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 17. Dia menjabarkan bahwa iblis secara sistematis menyerang manusia dari empat penjuru: depan, belakang, kanan, dan kiri.

“Serangan dari depan dan belakang sering kali berupa penanaman keraguan terhadap akhirat serta pembentukan ambisi duniawi yang berlebihan terhadap harta dan keturunan,” ujar Iim.

Hal yang menjadi sorotan khusus dalam kajian tersebut adalah godaan dari "arah kanan" yang sering kali tidak disadari oleh para ahli ibadah. Iim menjelaskan bahwa setan tidak hanya masuk melalui pintu maksiat. Namun, menyusup ke dalam amal saleh melalui penyakit hati seperti riya dan ujub. Adapun godaan dari arah kiri merupakan serangan yang lebih gamblang, yakni ajakan langsung menuju kemaksiatan dan dosa-dosa terbuka.

Menghadapi ancaman yang mengepung dari segala arah tersebut, Iim menawarkan solusi berbasis hadis sahih, yakni kekuatan istighfar dan tobat. Dia mengungkapkan sebuah hakikat spiritual bahwa meskipun setan berusaha membinasakan manusia dengan dosa, manusia memiliki senjata untuk membinasakan pengaruh setan dengan senantiasa memohon ampunan kepada Allah, karena rahmat-Nya jauh lebih luas daripada murka-Nya.

Secara akademis, dia juga menekankan prinsip hifzhun-nafs atau menjaga diri sebagai prioritas utama dalam maqashid syariah. Mengutip sebuah kaidah, dia mengingatkan bahwa barang siapa yang tidak menyibukkan dirinya dengan kebenaran (al-haqq), maka secara otomatis dia akan disibukkan dengan kebatilan.

”Oleh karena itu, mengisi waktu dengan zikir dan membaca Al-Qur'an menjadi benteng pertahanan yang mutlak diperlukan oleh setiap muslim,” imbuh Iim.

Sebagai peta jalan menuju kematangan spiritual, Iim memperkenalkan tangga makam (manzil) seperti yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali. Tahapan yang dimulai dari tobat, wara’, zuhud, hingga bermuara pada makrifat merupakan proses sistematis untuk mengubah pribadi yang "bersih sesaat" menjadi pribadi bertakwa secara istikamah.

Di samping itu, penting juga untuk membangun hubungan sosial yang elegan yang dimulai dari orang terdekat (keluarga), masyarakat luas, hingga media sosial. Hal ini penting dipahami karena banyak orang yang tidak sadar bahwa kotornya hari karena tidak mampu menjaga diri.

”Bekal terbaik dalam meniti jalan ini adalah konsistensi dalam menjaga ketakwaan. Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh membiarkan api semangat Ramadhan padam setelah Idul Fitri berlalu. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara kontinu, meskipun secara kuantitas terlihat sedikit atau sederhana,” tandasnya.

Iim pun berharap agar Idul Fitri dan bulan Syawal menjadi titik tolak transformasi kualitas hidup muslim. Dia mengajak umat Islam untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam lisan, sikap, dan perbuatan sehari-hari, sehingga kefitrahan yang telah diraih dapat terjaga dengan kokoh sebagai bentuk manifestasi dari pendidikan tinggi Islam yang berkemajuan.*(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mewujudkan generasi muda yang kritis dan berakhlak mulia di era dig....

Suara Muhammadiyah

27 January 2025

Berita

Global Qur’an Movement hingga Open Iftar Ajak Global Muslim Terus Bergerak untuk #MenangkanLan....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Pemuda (PWPM) Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel)....

Suara Muhammadiyah

12 April 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung....

Suara Muhammadiyah

12 July 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Senin, 13 Nopember 2023 bertempat di Masjid Mu’Tashim Billah d....

Suara Muhammadiyah

14 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah