Sisi Lain Surah As-Saff Ayat 6: Dari Makna Linguistik hingga Klaim Mirza Ghulam Ahmad
Penulis Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Di dalam Al-Qur'an, Nabi Isa disebut pernah mengabarkan kedatangan seorang nabi setelahnya yang bernama Ahmed. Pertanyaannya, siapakah sebenarnya sosok Ahmed ini? Untuk itu kita mulai dengan membahas Surah As-Saff ayat 6.
"Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata, 'Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian. Aku datang untuk membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan membawa kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmed.' Namun, tatkala Rasul itu datang dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka justru berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata!'"
Di sini, Nabi Isa menegaskan kepada kaumnya bahwa beliau datang membawa dua misi: membenarkan Taurat dan membawa kabar baik tentang sosok utusan setelahnya yang disebut "Ahmad". Kalau kita membaca teksnya secara harfiah, maka bagi kita yang terbiasa berpikir dengan struktur bahasa modern, sekilas kata "Ahmad" di situ langsung terbaca sebagai nama orang.
Bahkan mayoritas ahli tafsir klasik pun sepakat dengan logika ini. Mereka menyimpulkan bahwa Ahmad adalah nama lain dari Nabi Muhammad SAW. Jadi, ayat ini adalah nubuat yang sangat terang tentang kedatangan beliau. Namun, kalau kita selami ilmu kebahasaan Arab, ada rahasia linguistik yang seru di balik nama ini. Nama "Ahmad" dan "Muhammad" itu sebenarnya lahir dari rahim yang sama, yaitu akar kata tiga huruf: ha, mim, dan dal, yang artinya pujian.
Ketika diubah menjadi "Muhammad" dengan tambahan huruf mim di depan, maknanya menjadi "sosok yang dipuji". Nah, ketika diubah menjadi "Ahmed" dengan awalan alif (vokal "A"), bentuknya berubah menjadi superlatif—artinya "paling" atau "ter-". Sama seperti kata Kabir (besar) yang berubah menjadi Akbar (paling besar), atau Saghir (kecil) menjadi Asghar (paling kecil). Jadi, jika hamida artinya memuji, maka kata "Ahmad" secara bahasa berarti "yang paling terpuji".
Dari sini muncul sebuah diskusi ilmiah: Apakah Nabi Isa sedang menyebutkan nama asli sang nabi, atau beliau sedang menggambarkan karakter nabi tersebut—bahwa siapa pun namanya nanti, ia akan menjadi sosok yang paling terpuji di dunia?
Ini berarti ada dua sudut pandang. Bisa berarti namanya memang Ahmad, atau bisa juga sebuah gelar bahwa ia adalah "sosok yang paling terpuji". Tergantung bagaimana kita membedah ayatnya. Lalu bagaimana dampaknya? Jika kita mengambil makna kedua (yang paling terpuji), artinya bukan berarti orang-orang akan memanggil beliau dengan sapaan, "Halo, Yang Paling Terpuji!" Bukan begitu. Maknanya adalah dunia akan terus-menerus memuji dan memuliakan namanya.
Dalam tradisi Islam, hal ini terbukti nyata. Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam Al-Qur'an disebutkan, "Dan Kami tinggikan sebutan namamu." Namanya menjadi nama yang paling gema terdengar di seluruh penjuru bumi.
Saking indahnya makna "yang paling terpuji" ini, banyak orang tua Muslim yang akhirnya menamai anak mereka "Ahmad", karena mengira itu adalah nama literal sang Nabi sejak awal.
Namun, celah bahasa ini jugalah yang sempat memicu kontroversi di akhir abad ke-19. Ada seorang tokoh pembaru di wilayah India-Pakistan yang kebetulan memiliki nama Ahmad. Namanya Mirza Ghulam Ahmad. Karena melihat ada kata "Ahmad" di ayat ini, dia merasa ayat ini sedang membicarakan dirinya! Dia mengklaim, "Lihat, namaku Ahmad, dan ayat ini meramal kedatangan nabi bernama Ahmad. Jadi, akulah nabi itu."
Dia memproklamirkan dirinya sebagai representasi modern dari Yesus yang turun kembali ke bumi. Padahal, mayoritas umat Islam percaya bahwa Nabi Isa yang asli diangkat ke langit dan masih hidup.
Mirza Ghulam Ahmad berkilah bahwa Yesus tidak akan turun dari awan bersama malaikat, melainkan lahir kembali dalam wujud orang lain, yaitu dirinya. Dia tidak mengaku menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW, melainkan menjadi "nabi bayangan" yang bertugas meneruskan ajarannya. Semua klaim ini bermula dari tafsiran sepihak atas kata "Ahmed" tadi.
Padahal, secara logika sejarah, klaim tersebut sangat lemah. Sangat aneh jika Nabi Isa yang hidup 600 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW, justru melompati waktu hingga 2.000 tahun ke depan untuk meramal seorang tokoh di abad ke-19, alih-alih meramal nabi yang akan datang tepat setelah masanya selesai.
Ini jelas tidak logis. Nah, jika umat Islam ingin mencari bukti kuat bahwa Nabi Isa memang meramalkan kedatangan Nabi Muhammad SAW, rujukan yang paling ilmiah justru ada pada teks Alkitab, tepatnya tentang nubuat sosok Paraclete (Parakletos) dalam Injil Yohanes.
Di sana, Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa beliau harus pergi, karena jika beliau tidak pergi, sang Paraclete tidak akan datang. Apa tugas Paraclete ini? Di Yohanes pasal 16, digambarkan bahwa ia akan melakukan tugas-tugas layaknya seorang nabi dan mengingatkan manusia pada ajaran asli Yesus. Deskripsi ini sangat klop dengan profil Nabi Muhammad SAW.
Memang ada bantahan karena di Yohanes pasal 14 ayat 26, sosok Paraclete ini disebut sebagai "Roh Kudus". Namun, menurut analisis ahli biblika ternama seperti C.K. Barrett, kata "Kudus" sebenarnya tidak ada dalam manuskrip-manuskrip Injil Yohanes yang paling tua dan paling otentik. Kata tersebut kemungkinan besar adalah sisipan di masa kemudian.
Jadi, lewat analisis kritis seperti inilah kita bisa melihat sebuah benang merah yang indah: apa yang diramalkan Yesus tentang sosok Paraclete di Alkitab, selaras dengan kabar gembira tentang sosok "Ahmad" (yang paling terpuji) yang diabadikan dalam Al-Qur'an.

