Spirit Berqurban untuk Keutuhan Rumah Tangga
Dr. Furqan Mawardi, MPI, Ketua LPCR PM PWM Sulawesi Barat dan Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin jamah sholat idul Adha rahimakumullah,
Marilah kita menundukkan hati seraya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena atas kasih sayang dan karunia-Nya kita masih diberi umur, kesehatan, iman, dan kesempatan untuk kembali merasakan suasana Idul Adha 1447 H di tahun 2026 ini dengan penuh keberkahan. Bersholawat kita kepada nabi Muhammmad shallallahu 'alaihi wasallam, rasul utusan Allah yang menjadi teladan kita sepanjang zaman.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Hari ini kita berkumpul dalam suasana yang penuh kemuliaan. Takbir menggema di mana-mana. Kalimat tauhid membasahi langit dan bumi. Idul Adha kembali datang menyapa seluruh hati kaum beriman.
Idul Adha merupakan hari raya qurban, dimana kita diperintahkan untuk menyembelih hewan dan membagikannya kepada khalayak sebagai wujud ketataan kita kepada Allah. Namun dibalik itu, sesungguhnya Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Ada pesan yang jauh lebih besar yang ingin Allah tanamkan dalam kehidupan kita. Pesan tersebut adalah tentang keikhlasan, ketundukan, pengorbanan, dan cinta yang lahir karena keimanan
Karena itu, jika Ramadhan mendidik kita untuk menahan diri, maka Idul Adha mendidik kita untuk rela berkorban. Dan pengorbanan terbesar dalam hidup ini sering kali bukan tentang harta. Tetapi tentang kemampuan manusia menundukkan egonya.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Jama’ah sholat idul Adha yang senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah swt
Saat ini kita diperlihatkan banyak rumah tangga yang terlihat megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak pasangan tinggal dalam satu rumah, tetapi hati mereka saling berjauhan. Demikian pula tidak sedikit rumah tangga yang hancur bukan karena kurangnya cinta, akan tetapi karena terlalu banyak ego dan kurang saling mengalah.
Begitu banyak rumah tangga yang bubar bukan hanya disebabkan karena kurangnya harta, namun yang terbanyak adalah ketidakmampuan menahan emosi dan amarah, sehingga yang terjadi adalah pertengkaran yang terus menerus yang akhirnya berujung pada perceraian.
Sering terjadi adalah masing-masing selalu ingin dipahami, tetapi kurang mau memahami. Selalu ingin menang, dan sedikit yang mau mengalah. Selalu merasa paling benar dan jarang mau mengakui kesalahan. Sedikit yang mau berkorban demi mempertahankan rumah tangga. Padahal rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang tanpa masalah. Rumah tangga yang kuat adalah rumah tangga yang di dalamnya ada orang-orang yang rela menurunkan ego demi menjaga keutuhan keluarga.
Di sinilah Idul Adha mengajarkan sesuatu yang sangat dalam kepada kita semua bahwa kadang yang perlu disembelih dalam hidup ini bukan hanya hewan kurban saja, tetapi juga sifat keras kepala, gengsi, amarah, dan ego yang ada dalam diri kita.
Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa yang paling penting dari berkurban itu bukan hanya sekadar hewannya, tetapi nilai ketakwaan dan pengorbanan di baliknya.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketika kita berbicara tentang Idul Adha, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sebuah keluarga yang sangat ideal, yaitu keluarganya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ibrahim adalah sosok seorang ayah yang memliki ketaatan kepada Allah yang luar biasa. Ismail adalah anak yang patuh dan penuh kesabaran. Kemudian ada Siti Hajar seorang istri sekaligus ibu yang luar biasa kuat dan penuh keikhlasan.
Kita bisa lihat bagaimana keluarga ini dibangun bukan di atas kemewahan, akan tetapi terbangun di atas iman dan pengorbanan.
Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail, dan tentu ini bukan sebuah ujian yang ringan. Perintah ini adalah sebuah ujian cinta dan ujian keikhlasan bagi seorang ayah kepada anaknya
Allah mengabadikan dialog mereka dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah contoh keluarga yang dibangun dengan keimanan, komunikasi, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hadirin rahimanii warahimakumullah
Sebenarnya memang jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya banyak rumah tangga hari ini tidak hanya hancur karena kekurangan harta, bukan pula semata-mata karena hadirnya orang ketiga. Faktanya banyak keluarga perlahan runtuh karena hilangnya tiga fondasi utama dalam kehidupan rumah tangga, yaitu hilangnya iman, hilangnya komunikasi, dan hilangnya semangat pengorbanan.
Pertama, Ketika iman mulai lemah, maka rumah tangga tidak lagi dibangun karena Allah, tetapi hanya dibangun di atas perasaan yang mudah berubah. Sedikit saja masalah membuat hati mudah goyah. Sedikit datang ujian membuat hubungan mudah retak. Padahal rumah tangga yang kokoh bukan rumah tangga yang bebas masalah, tetapi rumah tangga yang di dalamnya ada iman yang membuat setiap anggota keluarga tetap bertahan dan saling menguatkan di tengah badai kehidupan.
Lalu yang kedua, banyak pula rumah tangga yang kehilangan komunikasi. Suami sibuk dengan dunianya, kerjaannya, hobinya dan kegiatan lainnya. Istri sibuk dengan pikirannya, belanjaannya, arisannya, serta asesorisnya. Adapun Anak-anak sibuk dengan gadget dan media sosialnya. Mereka tinggal serumah, tetapi hatinya saling berjauhan. Padahal begitu banyak persoalan rumah tangga sebenarnya bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena tidak pernah dibicarakan dan dikomunikasikan dengan hati yang tenang dan penuh kasih sayang.
Dan yang ketiga, yang paling banyak hilang hari ini dalam rumah tangga adalah semangat pengorbanan. Semua ingin dimengerti, tetapi sedikit yang mau mengerti. Semua ingin diperhatikan, tetapi sedikit yang mau memperhatikan. Semua ingin dicintai, tetapi sedikit yang siap berkorban demi mempertahankan cinta itu sendiri.
Padahal sesungguhnya, berkurban terbesar dalam rumah tangga sering kali bukan tentang uang, bukan tentang kemewahan, dan bukan pula tentang besarnya materi yang diberikan. Tetapi berkurban terbesar adalah ketika seorang suami mampu menahan amarahnya demi menjaga ketenangan keluarganya. Ketika seorang istri rela menurunkan gengsinya demi menjaga keutuhan rumah tangganya. Ketika orang tua rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan lelahnya demi melihat anak-anaknya tumbuh dalam kebahagiaan dan pendidikan yang terbaik.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin jamaah sholat idul Adha rahimakumullāh…
Karena itu cinta sejati bukan sekadar ucapan romantis yang indah di awal pernikahan. Cinta sejati adalah kesiapan untuk tetap bertahan, tetap mengalah, tetap memaafkan, dan tetap berjuang sekalipun keadaan tidak selalu mudah.
Hari ini banyak orang ingin dicintai, tetapi sedikit yang siap berkorban. Banyak yang menuntut perhatian, tetapi sedikit yang mau belajar memahami pasangannya. Banyak yang ingin didengar, tetapi sedikit yang bersedia mendengarkan.
Di sinilah Idul Adha mengajarkan kepada kita makna pengorbanan yang sesungguhnya. Bahwa kadang yang paling perlu disembelih dalam hidup ini bukan hanya hewan kurban, tetapi juga ego kita, amarah kita, gengsi kita, dan kerasnya hati kita. Karena ketika ego lebih besar daripada cinta, maka rumah tangga perlahan akan kehilangan kehangatannya. Tetapi ketika pengorbanan lebih besar daripada ego, insyaAllah rumah tangga akan tetap bertahan meskipun badai kehidupan datang silih berganti.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin jamaah sholat idul Adha rahimakumullāh…
Sebagai penutup khotbah Idul adha saya pada hari ini, ijinkan saya membacakan sebuah syair arab tentang keluarga,,:
إِنَّ الْبُيُوتَ تُبْنَى بِالْمَحَبَّةِ لَا بِالْحِجَارَةِ
وَتَبْقَى بِالصَّبْرِ لَا بِالْقُوَّةِ
وَتَجْمُلُ بِالتَّسَامُحِ لَا بِالْكِبْرِيَاءِ
“Sesungguhnya rumah tangga dibangun dengan cinta, bukan dengan batu-batu bangunan.
Ia bertahan dengan keshabaran, bukan dengan kekuasaan.
Dan ia menjadi indah dengan saling memaafkan, bukan dengan kesombongan.”
Semoga Allah menjaga keluarga-keluarga kita, menjaga rumah tangga kita, dan menjadikan rumah-rumah kita dipenuhi sakinah, mawaddah, rahmah, dan full keberkahan. Aamiin.
Mari kita tutup dengan doa bersama :
اللَّهُمَّ يَا وَدُودُ يَا رَحِيمُ، يَا مَنْ بِيَدِهِ سَكِينَةُ الْقُلُوبِ وَطُمَأْنِينَةُ النُّفُوسِ، أَنْزِلْ عَلَى بُيُوتِنَا السَّكِينَةَ وَالْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ.
“Ya Allah Yang Maha Mencintai dan Maha Penyayang, wahai Dzat yang di tangan-Mu ketenangan hati dan ketenteraman jiwa, turunkanlah ke dalam rumah-rumah kami ketenangan, cinta, dan kasih sayang.”
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْأَزْوَاجِ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا يَغْلِبُ فِيهَا الْحِلْمُ عَلَى الْغَضَبِ وَالْعَفْوُ عَلَى الْخُصُومَةِ، وَالْمَحَبَّةُ عَلَى الْأَنَانِيَّةِ.
“Ya Allah, satukanlah hati pasangan-pasangan kami, perbaikilah hubungan di antara mereka, dan jadikan rumah-rumah kami rumah yang di dalamnya kesabaran mengalahkan kemarahan, maaf mengalahkan pertengkaran, dan cinta mengalahkan ego.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا فِي حَيَاتِنَا مَعْنَى الْقُرْبَانِ الْحَقِيقِيِّ، أَنْ نُضَحِّيَ بِكِبْرِيَائِنَا مِنْ أَجْلِ الْمَحَبَّةِ، وَأَنْ نَذْبَحَ أَنَانِيَّتَنَا مِنْ أَجْلِ بَقَاءِ الْأُسَرِ وَالْعَائِلَاتِ.
“Ya Allah, ajarkan kepada kami makna pengorbanan yang sesungguhnya dalam kehidupan ini; agar kami mampu mengorbankan kesombongan demi cinta, dan menyembelih ego kami demi tetap utuhnya keluarga dan rumah tangga kami.”
اللَّهُمَّ احْفَظْ أُسَرَنَا مِنَ التَّفَكُّكِ وَالشِّقَاقِ وَالنِّزَاعِ، وَأَعِذْنَا مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَنَزَغَاتِ الْغَضَبِ وَالْكِبْرِيَاءِ.
“Ya Allah, jagalah keluarga-keluarga kami dari perpecahan, perselisihan, dan pertengkaran. Lindungilah kami dari godaan setan, dari ledakan amarah, dan dari kesombongan yang merusak hubungan.”
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata dan hati kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.”
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
“Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.”
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

