YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Prestasi sebuah universitas dinilai tidak boleh berhenti pada pengakuan akademik semata. Agenda Syawalan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin (30/3) menjadi penegasan bahwa kemajuan kampus harus diiringi dengan penguatan spiritual dan nilai-nilai keislaman.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., yang menyampaikan hikmah Syawalan di hadapan seluruh dosen dan tenaga kependidikan UMY. Agus menegaskan bahwa capaian institusi pendidikan tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan akademik dan reputasi global, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai keislaman menjadi fondasi dalam kehidupan kampus.
Menurutnya, UMY sebagai perguruan tinggi yang relatif muda telah menunjukkan perkembangan signifikan hingga dikenal di tingkat internasional. Namun, capaian tersebut harus dimaknai sebagai nikmat yang menuntut tanggung jawab spiritual yang lebih besar.
“Ketika kita diberi kenikmatan seperti ini, maka tugas kita adalah menjadikan seluruh kenikmatan itu semakin mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Agus.
Ia mengingatkan bahwa tanpa rasa syukur yang diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari, capaian tersebut justru berpotensi menjadi ujian. Karena itu, ia mendorong seluruh civitas academica untuk terus memperkuat dimensi keislaman dalam aktivitas akademik maupun nonakademik.
Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya integrasi antara keunggulan keilmuan dan kekuatan nilai-nilai Islam. Ia mencontohkan bagaimana tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah seharusnya tidak hanya melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak.
“Kampus harus mampu melahirkan insan yang unggul secara keilmuan, tetapi pada saat yang sama memiliki basis akidah dan nilai-nilai Islam yang kuat,” imbuhnya.
Ia juga mencontohkan implementasi integrasi tersebut, salah satunya melalui kebijakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY yang mensyaratkan mahasiswa menghafal juz 30 Al-Qur’an sebagai salah satu syarat kelulusan.
Selain itu, ia menyoroti berbagai bentuk fasilitas dan dukungan yang telah diberikan institusi kepada seluruh civitas academica, seperti peningkatan kesejahteraan hingga pemberangkatan ibadah haji dan umrah. Hal tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri.
“Jika nikmat ini tidak menjadikan kita semakin tertib menjalani hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki, maka itu justru menjadi peringatan bagi kita,” pungkasnya. (ID)
