Tafsir At-Tanwir Sebagai Pijakan Tajdid yang Responsif dan Dinamis

Suara Muhammadiyah

13 December 2024

1456
Haedar Nashir

Haedar Nashir

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai tema yang dipakai dalam Konferensi Mufasir Muhammadiyah jilid ke-II kali ini cukup strategis, yakni tentang bagaimana mewujudkan Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah sebagai landasan pemikiran tajdid yang responsif dan dinamis untuk memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta.  

“Saya menyampaikan selamat atas Konferensi Mufasir Muhammadiyah yang kedua ini, dan mohon maaf belum bisa hadir secara langsung di Uhamka,” ujar Haedar. 

Menurutnya, konferensi ini sangat penting dan strategis untuk memobilisasi para mufasir Muhammadiyah dalam rangka memperkaya khazanah Muhammadiyah di bidang penafsiran ayat suci Al-Qur’an. Dengan bekal berbagai keahlian di bidang-bidang tertentu dan melalui disiplin ilmunya masing-masing, Haedar berharap para mufasir Muhammadiyah dapat terus mengembangkan tafsir At-Tanwir. 

Hal ini menurut Haedar menjadi salah satu program strategis Muhammadiyah, khususnya bagi Majelis Tarjih dan Tabligh Muhammadiyah. 

Haedar menambahkan, tafsir At-Tanwir yang telah diterbitkan sebanyak dua jilid itu diharapkan dapat terus bertambah, hingga sampai menyelesaikan 30 juz Al-Qur’an. 

Kehadiran para mufasir dinilainya dapat mengoptimalkan peran Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam menghasilkan karya penafsiran yang berkualitas, sebagai produk kolektif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara keilmuan maupun hukum syari. 

Menurutnya, melalui konferensi ini, ada dua agenda penting Persyarikatan yang perlu untuk menjadi referensi bagi alam pikiran, dan kemudian menjadi kajian yang berkelanjutan. Pertama, bagaimana Tafsir At-Tanwir betul-betul menjadi landasan pemikiran tajdid Muhammadiyah. Tajdid yang bersifat responsive dan dinamis. 

Kehidupan saat ini, dengan ekosistem global yang bergerak sedemikian rupa, mengalami proses liberalisasi politik, ekonomi, budaya, hingga keagamaan, kehadiran Tafsir At-Tanwir harus betul-betul mampu menjadi pijakan bagi tajdid Muhammadiyah yang responsive dan dinamis. 

“Saya percaya banyak ahli di Tarjid dan Persyarikatan secara keseluruhan, banyak sosok dan pemikir yang mampu menterjemahkan tajdid (pembaharuan) dalam konteks kekinian,” ungkap Haedar saad membuka Konferensi Mufasir Muhammadiyah secara daring (13/12). 

Muhammadiyah memiliki tradisi besar dalam bidang tajdid, yang mana hal ini telah dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan dalam mewujudkan Islam berkemajuan. Menurutnya, kerangka besar ini perlu terus diimplementasikan oleh para mufasir Muhammadiyah.  

“Kita harus membuktikannya dalam merespon setiap perkembangan,” tegasnya. 

Kedua, merumuskan tafsir sebagai landasan tajdid dan dakwah. Upaya ini memiliki konteks yang melekat untuk memajukan kehidupan umat dan bangsa. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) kembali menggelar kompetisi olahra....

Suara Muhammadiyah

12 February 2026

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

17 April 2026

Berita

KALIMANTAN TENGAH, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil zakat, infak dan sedekah Muhammadiyah (LazisMu)....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Berita

BANJARBARU, Suara Muhammadiyah – Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) resmi....

Suara Muhammadiyah

19 July 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah adalah organisasi dan gerakan dakwah. Dakwah Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah