YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid atau pembaruan Islam. Memang, dalam pandangan umum, pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah berimplikasi pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah, dan Rasyid Ridha.
Tetapi, Haedar Nashir, dalam Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (20/2) menyingkap, ada sesuatu hal distingtif (pembeda) dari pembaru-pembaru Islam pada periode sebelumnya.
Sebagai fakta di lapangan, Muhammadiyah mampu melahirkan ‘Aisyiyah, sebagai Gerakan Perempuan Islam Berkemajuan. “Itu tidak dilahirkan dan tidak menjadi pemikiran utama dalam pergerakan pembaruan Islam sebelumnya,” kata Haedar, menukil pandangan Mukti Ali.
Di lain sisi, terpotret juga Muhammadiyah mendirikan pranata-pranata sosial modern. Selain pendidikan, yaitu dalam konteks gerakan kesehatan, pelayanan sosial. Yang itu merupakan pantulan teologi Al-Maun.
"Tidak ada pergerakan Islam lain hatta disebut dengan gerakan tajdid al-Islam yang menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk pranata atau institusi modern. Dan itulah Muhammadiyah,” terang Haedar di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah yang didirikannya secara historis dan sosiologis menghadirkan Islam sebagai jawaban atas modernisme awal abad ke-20.
“Ada kekhasan (distingtif) yang tidak punya akar pada sejarah dan format pemikiran pembaruan Islam sebelumnya,” terangnya.
Meskipun berbagai studi dan ahli selalu menempatkan dua objek antara Kiai Dahlan dan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam yang bersifat pemurnian.
Karakter permunian itu, kata Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, memerlukan kedalaman pemahaman, perluasan pemahaman, dan perkembangan tafsir.
“Dengan pendekatan yang tentu memerlukan pengayaan juga. Yang Alhamdulillah, Tarjih memberi kita alat dalam memahami Islam perlu pendekatan bayani, burhani, dan irfani,” jelas Haedar. (Cris)

