BANTUL, Suara Muhammadiyah – Kiai Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912 pada dasarnya ingin membawa umatnya maju. Salah satu jalan yang ditempuh sejak awal adalah membangun gerakan ilmu melalui sekolah dan pendidikan.
“Ilmu merupakan salah satu kunci kemajuan. Karena itu, Muhammadiyah terus mengembangkan pendidikan,” tegas Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Lewat pendirian ribuan sekolah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, orientasi utamanya selain daripada merebut masa depan dengan hidup maju, bersamaan dengan itu hendak mencetak generasi yang unggul.
Menukil pandangan Allahuyarham AR Fakhruddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1968-1990, menyebut ada tiga model generasi unggul, pertama, unggul dalam moral dan spiritual. Kedua hal ini sangat berkelindan dalam membentuk karakter generasi yang berakhlak mulia.
“Kalau moral spiritualnya juga baik, hatinya juga baik, Insyaallah ilmu yang diterima tidak akan membawa kepada hal-hal yang buruk,” tegas Agus saat Tabligh Akbar Ahad Pon PCM/PCA Banguntapan Selatan-Utara di Lapangan Jambidan, Banguntapan, Bantul, Ahad (18/10).
Kedua, unggul dalam intelektual. Kata Agus, banyak murid dari sekolah Muhammadiyah yang berprestasi, baik di tingkat nasional bahkan sampai ke tingkat internasional.
“Anak-anak kita yang ahli matematika pulang dengan membawa berbagai medali. Mereka pintar-pintar. Ini menunjukkan bahwa anak-anak sekolah Muhammadiyah unggul secara intelektual,” terangnya.
Jika mereka sudah unggul secara moral-spiritual sekaligus unggul secara intelektual, maka ketika hidup di tengah masyarakat, sebut Agus, yang ketiga, akan unggul dalam menjalankan peran sosial. Menjadi pemimpin akan baik, menjalankan bisnis pun akan baik.
“Bisnisnya tidak menipu karena sudah dilandasi keunggulan moral-spiritual dan intelektual. Dengan demikian, dalam menjalankan peran sosial pun mereka akan baik. Inilah yang harus terus dikembangkan,” tekannya.
Karena itu, pendidikan Muhammadiyah harus menghasilkan anak-anak yang unggul secara intelektual, unggul secara moral-spiritual dan dalam menjalankan ritual keagamaan, serta unggul dalam peran sosial. “Moral harus dikedepankan terlebih dahulu,” ucap Agus, menggarisbawahi lebih lanjut. (Cris)

