SLEMAN, Suara Muhammadiyah — Tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan (FEB UAD) menyelenggarakan Pelatihan dan Pendampingan Tata Kelola Manajemen Organisasi Otonom Angkatan Muda Muhammadiyah se-Kapanewon Depok, Sleman, pada Ahad, 19 April 2026.
Kegiatan yang berlangsung di SD Muhammadiyah Condongcatur, Depok, Sleman ini dihadiri oleh para pengurus organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah, meliputi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM, Nasyiatul Aisyiyah atau NA, Pemuda Muhammadiyah atau PM, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah atau IPM.
Program ini diselenggarakan oleh tim pengabdian masyarakat FEB UMY yang diketuai oleh Dr. Meika Kurnia Puji Rahayu DA, bekerja sama dengan Rintan Nuzul Ainy, S.E., M.Sc. dari FEB UAD. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam memperkuat kapasitas kader muda persyarikatan, khususnya dalam aspek tata kelola organisasi, kepemimpinan, dan penguatan peran sosial.
Melalui pelatihan yang bersifat aplikatif dan partisipatif, para pimpinan AMM diajak untuk memahami kembali pentingnya manajemen organisasi yang tertib, adaptif, dan berorientasi pada kebermanfaatan. Pelatihan tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga mendorong peserta untuk merefleksikan kondisi organisasi masing-masing, mengidentifikasi tantangan kelembagaan, serta merumuskan langkah perbaikan yang dapat diterapkan secara nyata.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr. Meika Kurnia Puji Rahayu DA, menyampaikan bahwa Angkatan Muda Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan gerakan persyarikatan. Menurutnya, organisasi otonom tidak hanya menjadi ruang kaderisasi, tetapi juga arena pembentukan kepemimpinan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“AMM memiliki peran penting sebagai ruang tumbuhnya kader-kader muda Muhammadiyah. Karena itu, kapasitas organisasi dan kepemimpinan perlu terus diperkuat agar gerakan yang dilakukan tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi umat dan masyarakat,” ujar Meika.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai ruang belajar bersama yang menempatkan para pimpinan AMM sebagai subjek pembelajar sekaligus penggerak perubahan organisasi. Dengan demikian, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga didorong untuk mampu membaca kebutuhan organisasi, memperbaiki pola kerja, serta membangun tata kelola yang lebih efektif.
Sementara itu, Rintan Nuzul Ainy, S.E., M.Sc. dari FEB UAD menegaskan bahwa penguatan kapasitas pimpinan organisasi menjadi kebutuhan penting di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, organisasi kepemudaan perlu memiliki kemampuan manajerial yang baik agar dapat menjalankan program secara terarah, terukur, dan berkelanjutan.
“Organisasi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh semangat anggotanya, tetapi juga oleh kemampuan mengelola visi, program, sumber daya, dan kolaborasi. Melalui pelatihan ini, kami berharap para pimpinan AMM mampu mengembangkan tata kelola organisasi yang lebih sistematis dan responsif terhadap kebutuhan zaman,” ungkap Rintan.
Dalam kegiatan ini, peserta mengikuti proses pelatihan dengan pendekatan partisipatif. Mereka diajak berdiskusi, berbagi pengalaman, memetakan persoalan organisasi, serta merancang solusi praktis yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing ortom. Pendekatan ini dipilih agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses pendampingan kelembagaan yang berkelanjutan.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya pengelolaan organisasi yang lebih rapi dan terencana. Menurutnya, pelatihan tersebut membantu pimpinan AMM melihat bahwa gerakan organisasi perlu ditopang oleh manajemen yang baik agar program dapat berjalan lebih efektif.
“Pelatihan ini membuka cara pandang kami bahwa organisasi tidak cukup hanya bergerak karena semangat. Kami juga perlu belajar menyusun program, membagi peran, mengelola komunikasi, dan mengevaluasi kegiatan agar organisasi bisa semakin bermanfaat,” tutur salah satu peserta.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian masyarakat FEB UMY dan FEB UAD berharap para pimpinan AMM se-Kapanewon Depok mampu meningkatkan kualitas tata kelola organisasi sekaligus memperkuat peran mereka sebagai kader persyarikatan dan agen perubahan sosial. Program pelatihan terapan dan pendampingan kelembagaan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun organisasi muda Muhammadiyah yang lebih solid, adaptif, dan berdampak.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pelatihan, tim pengabdian masyarakat FEB UMY dan FEB UAD juga merancang kegiatan pendampingan tata kelola organisasi bagi pimpinan AMM se-Kapanewon Depok. Pendampingan masih berlangsung saat berita ini ditayangkan. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu organisasi dalam memperbaiki sistem administrasi, memperjelas pembagian peran, menyusun program kerja yang lebih terukur, serta membangun mekanisme evaluasi kegiatan yang lebih sistematis.
Melalui pendampingan tersebut, para pimpinan AMM diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan pada saat pelatihan, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam pengelolaan organisasi masing-masing. Dengan demikian, program pengabdian masyarakat ini diharapkan memberi dampak yang lebih nyata terhadap peningkatan kualitas kelembagaan AMM di tingkat kapanewon.
Kegiatan ini juga menjadi wujud sinergi antarlembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah dalam mendukung penguatan kader dan pemberdayaan masyarakat. Dengan kapasitas organisasi yang semakin baik, AMM diharapkan mampu hadir sebagai kekuatan muda yang tidak hanya menjaga nilai-nilai persyarikatan, tetapi juga aktif menjawab tantangan sosial di lingkungan sekitarnya.

