Tinjau Pengungsian Gempa NTT, Bendum PP Muhammadiyah Apresiasi Tugas Kemanusiaan Relawan

Suara Muhammadiyah

7 September 2026

36
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MANGGARAI TIMUR, Suara Muhammadiyah - Relawan Muhammadiyah berjibaku sediakan makanan bagi penyintas di pengungsian lewat layanan dapur umum. Pada situasi lainnya, relawan kesehatan andalkan fasilitas rumah sakit lapangan tangani pasien. Relawan lainnya menyortir bantuan logistik berupa family kit, school kit, rendangmu dan bantuan lainnya untuk disalurkan tepat waktu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bertugas selama hampir tiga pekan dalam penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief mengungkapkan, pengabdian para relawan selama berada di lapangan bukan perkara mudah. 

Sebagian dari mereka harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas profesional untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. “Atas nama PP Muhammadiyah, saya ucapkan terima kasih, seluruh relawan mengawal proses yang berjalan tiga pekan di lapangan”, ujar Hilman di Dampek, Manggarai Timur, NTT pada Ahad, (6/9/2026).

"Ini bukan perkara mudah. Alhamdulillah, saya dengar teman-teman relawan yang lain telah datang untuk mengganti jadwal. Ini momentum yang baik kita menjaga keberlanjutan," imbuhnya. Kesinambungan aksi layanan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam respons bencana oleh Muhammadiyah. 

Ia mengingat ungkapan di lingkungan gerakanh persyarikatan bahwa relawan-relawan Muhammadiyah berusaha datang lebih awal ketika bencana terjadi dan kembali pulang paling akhir setelah proses penanganan layanan kemanusiaan berjalan.

Hilman menuturkan, sebagian relawan yang diterjunkan merupakan tenaga kesehatan dan dokter spesialis yang harus meninggalkan keluarga dan tempat praktiknya selama menjalankan misi kemanusiaan.

“Relawan-relawan ini meninggalkan pekerjaannya. Dokter-dokter spesialis yang praktik, meninggalkan ruang kerjanya selama tiga minggu”, katanya.

Pengorbanan itu, lanjut Hilman, tidak dapat dilepaskan dari spirit keagamaan yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Ia mengutip pesan Al-Qur’an, wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā, yakni saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.

Hilman juga menyinggung Surah Al-Balad yang berbicara tentang al-‘aqabah, yakni jalan yang berat dan sulit. Menurutnya, pesan Al-Qur’an itu mengajarkan keberanian untuk mengambil keputusan nyata dalam membantu sesama, seperti memberi makan, menolong masyarakat dalam kesulitan, serta hadir bagi kelompok rentan.

“Kita tidak sedang bicara pribadi. Alhamdulillah, Muhammadiyah dan tentu organisasi keagamaan yang lain memperkuat level itu sehingga kita menjadi gerakan kolektif”, ujarnya. Ia menambahkan, kesiapan para relawan Muhammadiyah merupakan hasil proses panjang yang dibangun melalui konsolidasi internal, antara lain bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), LAZISMU, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), serta berbagai unsur Persyarikatan.

Salah satu bentuk penguatannya dilakukan melalui pengembangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang telah dipersiapkan sejak 2018. Proses itu mencakup peningkatan pengetahuan, kapasitas dan keterampilan, prosedur, sertifikasi, serta mentalitas relawan dalam memberikan pelayanan kedaruratan.

“Kami tidak ingin semangat kawan-kawan ini terhambat hanya karena masalah administrasi,” jelas hilman. Ia menyebut proses panjang ini memungkinkan relawan Muhammadiyah bergerak dengan standar yang lebih jelas, baik dalam penanganan bencana di dalam negeri maupun dalam misi kemanusiaan internasional.

Hilman menilai capaian ini merupakan hasil perjuangan bersama MDMC, tenaga kesehatan, relawan, serta banyak pihak yang selama bertahun-tahun membangun kapasitas kemanusiaan Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang turut berperan dalam proses penanganan bencana di NTT. 

Menurutnya, kerja kemanusiaan membutuhkan kekuatan kolektif karena proses pemulihan tidak berlangsung singkat. “Misi keagamaan dan kemanusiaan itu perlu kerja keras yang luar biasa. Kalau tidak kuat dan tidak kolektif tentu sangat berat. Kita ingin membangun persaudaraan kemanusiaan yang kuat dari proses yang kita jalankan,” pungkasnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Keluarga Besar Alumni Mu’allimin Mu’allimaat Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Sleman m....

Suara Muhammadiyah

5 August 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1445 H j....

Suara Muhammadiyah

10 March 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Kemeriahan menyelimuti keluarga besar SD Muhammadiyah Ngaglik dal....

Suara Muhammadiyah

25 November 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – “Kreativitas Tanpa Batas, Inspirasi Tiada Henti.”....

Suara Muhammadiyah

15 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah