Tiongkok Diprediksi Akan Geser AS dalam 10 Tahun ke Depan

Publish

24 April 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1318
Faris Al Fadhat

Faris Al Fadhat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pakar ekonomi-politik Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY), Prof Faris Al-Fadhat, SIP, MA, PhD, mengatakan bahwa ekonomi perdagangan Indonesia masih akan bergantung baik pada Amerika Serikat (AS) maupun Tiongkok. Namun, Tiongkok diprediksi akan menjadi kekuatan dagang teratas di dunia dalam 10 tahun ke depan, menggeser AS.

Hal tersebut Ia sampaikan dalam sesi diskusi bertajuk “Trumpnomics & Pengaruhnya pada Ekonomi Politik Global” yang digelar oleh Pusat Studi Keamanan Internasional (COISS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu pagi (23/4) di Ruang Amphitheater Gedung E6 KH Ibrahim lantai 5 UMY. 

Menurut Faris, kebijakan tarif yang diberlakukan oleh AS ke berbagai negara ini merupakan upaya untuk menghalau pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang digadang-gadang akan menjadi negara adidaya ekonomi teratas dunia, pada tahun 2035. 

“AS belum siap memberikan posisi teratas bagi Cina. Kebijakan tarif ini adalah sebagai upaya untuk memperlambat perekonomian Cina. Dengan menarik kembali negara-negara yang mesra dengan Cina untuk balik ke gerbong AS melalui kebijakan tarif tadi,” ujar Faris.

AS merupakan sponsor terbesar untuk IMF, World Bank, dan WTO. Sementara itu, Tiongkok selama beberapa dekade hingga sekarang masih giat membangun kekuatan ekonomi melalui proyek mega infrastrukturnya, yakni AIIB (Asian Infrastructure Invesment Bank) dan BRI (Belt Road Initiative). Menurut beberapa ahli ekonomi, Tiongkok pasti akan menggeser posisi nomor 1 AS sebagai kekuatan ekonomi dunia. Faris pun senada dengan pernyataan ini.

“Itu pasti (Cina akan menggeser AS). Pertanyaan, kapan itu akan terjadi? Prediksinya 10 tahun ke depan,” kata Wakil Rektor bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan UMY.

Faris juga menambahkan, perlunya menggandeng investor dari luar secara masif lagi demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 6 persen.

“Pertumbuhan ekonomi terakhir Indonesia di angka 5,1 persen. 2 persennya didukung dari ekonomi domestik. Jika ingin menyentuh pertumbuhan di angka 6 persen, maka kita membutuhkan setidaknya 4,6 persen dari total GDP untuk menaikkan 1 persen pertumbuhan ekonomi. Artinya, kita tidak bisa menambah investasi dari domestik, kita harus mengundang dari luar, utamanya dari AS dan Cina,” tegasnya.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Tiongkok Xi Jin Ping, memperingatkan negara-negara yang lebih dekat dengan AS, khususnya negara-negara ASEAN. Xi Jin Ping mengatakan bahwa AS perlahan meninggalkan ASEAN dan hanya Tiongkok yang peduli dengan ASEAN. Bagi Faris, Indonesia tetaplah membutuhkan kedua negara tersebut sebagai kekuatan penopang ekonomi makro Indonesia.

“Kita masih bergantung kepada AS dan juga Cina. Cina adalah negara mitra dagang terbesar bagi Indonesia, dengan 118 Miliar USD. Sementara AS merupakan investor terbesar bagi Indonesia secara kumulatif mulai dari perusahaan yang sudah hadir sejak 70 tahun yang lalu hingga sekarang. Berdagang dengan Cina adalah nomor 1, investasi dari AS juga nomor 1,” pungkas Faris. (FU/m)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Surabaya, Suara Muhammadiyah – Memahami peta dakwah sebelum terjun di lapangan menjadi bekal p....

Suara Muhammadiyah

11 August 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah sukses menyeenggarakan Baitul Arqam (BA) pertama di Melbour....

Suara Muhammadiyah

29 December 2023

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Su....

Suara Muhammadiyah

22 October 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Para sarjana tidak boleh terpaku dengan apa yang sudah diraih, tapi har....

Suara Muhammadiyah

19 November 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Umat Muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 Hij....

Suara Muhammadiyah

19 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah