Transformasi Manajemen Masjid, Takmir Dituntut Adaptif Menjawab Kebutuhan Jamaah

Suara Muhammadiyah

27 June 2026

190
Foto Istimewa

Foto Istimewa

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang publik yang harus dapat menjawab tantangan dan kebutuhan umat. Di sinilah pengelolaan masjid harus inklusif dan menyentuh akar rumput masalah yang dihadapi jamaah.

“Pengelolaan masjid hari ini perlu menyentuh masalah utama jamaah. Jika jamaah mempunyai utang, maka pengelola masjid perlu mencarikan solusi,” ujar Fathudin Achmad Widodo, Ketua Tim Pengabdian Universitas Negeri Yogyakarta.

Fathudin mengemukakan itu saat Pelatihan Manajemen Masjid bagi para takmir, Kamis (25/6) di SMP IT Muhammadiyah An-Najah Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.

“Apa pun latar belakang organisasi keagamaan kita, masjid adalah rumah bersama untuk tumbuh kembang,” tambahnya.

Tim pengabdi UNY membagikan best practice dari beberapa masjid besar yang sukses mengelola umat secara modern. Benni Setiawan, misalnya, membagikan pengalaman tentang Masjid Al-Falah Sragen.

Masjid ini menjadi tempat tujuan wisata Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Yang menarik untuk diamati lebih jauh adalah bahwa masjid ini dikenal berani menerapkan strategi keuangan "saldo minus" demi memaksimalkan pelayanan umat.

“Uniknya, saat saldo dilaporkan minus, antusiasme jamaah untuk bersedekah justru meningkat,” kata Benni, yang juga Ketua Bidang Konsolidasi Ideologi dan Wacana Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Salah satu trik manajemennya yang menarik, kata Benni, adalah mengganti kotak infak lama yang kecil dan kusam dengan kotak infak berdesain bagus dengan lubang yang besar.

“Sehingga mempermudah jamaah yang ingin berinfak dalam jumlah besar (seperti pecahan Rp10 juta),” terangnya.

Di sini, Beni menyebut, takmir masjid harus kreatif, lebih-lebih di era sekarang. “Kalau ingin infak banyak, maka harus ada perubahan paradigma dalam kotak amal,” tekannya.

Lebih lanjut, bagi Beni, kotak amal yang biasanya lubang kecil harus diubah dengan lubang besar untuk menampung uang yang banyak dari jamaah.

“Harus diubah menjadi lebih bagus sehingga jamaah malu kalau hanya infaq sedikit,” bebernya.

Melalui pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi momentum bagi para takmir di Kecamatan Jatinom untuk bangkit bersama.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Bahkan pasca-merdeka pun, m....

Suara Muhammadiyah

29 December 2025

Berita

BOJONEGORO, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim menuk....

Suara Muhammadiyah

15 September 2025

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kwartir Wilayah Jawa Tengah mengadak....

Suara Muhammadiyah

26 March 2024

Berita

JEMBER, Suara Muhammadiyah – Ivan Tanoto, mahasiswa program studi Hukum Keluarga Islam (HKI) U....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Berita

TUBAN, Suara Muhammadiyah — Suasana Masjid Darussalam, Jalan Basuki Rahmad, Kota Tuban, Jawa T....

Suara Muhammadiyah

11 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah