KENDARI, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Kali ini, Tim PKM UM Kendari kembali mengunjungi Pondok Pesantren Abdurrahman Bin Auf Kendari, Ahad (26/7/2026), untuk melanjutkan pendampingan pengembangan urban farming berbasis pengelolaan limbah organik.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian program yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Sebelumnya, pada Juni 2026, tim telah melaksanakan sosialisasi program kepada pihak pesantren.
Dalam kunjungan kali ini, tim memberikan pelatihan pembuatan eko-enzim, fermentasi jeroan ikan menjadi pupuk organik cair, serta pembibitan berbagai jenis sayuran bersama para pembina dan santri.
Ketua Tim PKM UM Kendari, Dr. Rosmawati, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat pesantren mengenai pentingnya pengelolaan limbah organik sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
"Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan edukasi bahwa limbah dapur tidak harus berakhir menjadi sampah. Kulit buah maupun jeroan ikan dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk mendukung budidaya tanaman di lingkungan pesantren," ujarnya.
Rosmawati menjelaskan, limbah buah seperti kulit semangka, kulit jeruk, kulit nanas, dan belimbing difermentasi menggunakan molase dan air selama kurang lebih tiga bulan hingga menghasilkan eko-enzim.
Cairan hasil fermentasi tersebut mengandung unsur hara penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair bagi tanaman.
Sementara itu, limbah jeroan ikan juga difermentasi menggunakan molase dan bagian nanas yang tidak dikonsumsi untuk membantu proses penguraian protein menjadi asam amino.
Hasil fermentasi kemudian dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah organik.
Menurut Rosmawati, program pendampingan ini akan berlangsung hingga Desember 2026 agar seluruh proses, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga pemanfaatan hasil fermentasi dapat berjalan secara optimal.
Selain pelatihan pengolahan limbah, tim PKM bersama para santri juga mulai menyemai berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, pakcoy, dan beberapa komoditas hortikultura lainnya.
Seluruh tanaman tersebut nantinya akan menggunakan pupuk organik hasil fermentasi yang diproduksi secara mandiri oleh warga pesantren.
Program ini diharapkan menjadi contoh penerapan nilai-nilai Islam tentang menjaga kebersihan, memanfaatkan sumber daya secara bijaksana, dan membangun kemandirian pangan di lingkungan pesantren.
Pada kegiatan tersebut turut hadir Dr. Nurcayah, S.P., M.P., dan Dr. Dwiprayoga Wibowo, S.Si., M.Si., bersama mahasiswa UM Kendari, yakni L.D. Irhan, Eka Priska Febrianti, Rey Syad Wiandika, Fatir Muhammad, Adit Jakaria Rahman, Athira Syukra, Putra Kurniawan, Arga Imiawan Saputra, dan Wahyu Rahmansyah yang berperan aktif mendampingi para santri selama pelatihan berlangsung.
Melalui program ini, UM Kendari menegaskan komitmennya dalam menjalankan salah satu pilar Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yakni pengabdian kepada masyarakat.
Pendampingan berbasis ilmu pengetahuan diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan warga pesantren, tetapi juga melahirkan praktik pertanian ramah lingkungan yang mendukung ketahanan pangan serta keberlanjutan lingkungan hidup. (Ila/yahya).

