YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah Climate Center (MCC) menggelar Workshop Penajaman Visi-Misi dan Penyusunan Roadmap Muhammadiyah Climate Center Sesi II di Yogyakarta, 26–28 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi kelembagaan sekaligus merumuskan arah gerakan Muhammadiyah dalam merespons isu perubahan iklim.
Direktur Eksekutif MCC, Agus S. Djamil, menjelaskan bahwa MCC lahir sebagai tindak lanjut dari Global Forum on Climate Movement yang diselenggarakan Muhammadiyah dalam rangkaian Milad ke-111 di Universitas Ahmad Dahlan. Forum tersebut diikuti peserta dari 13 negara dan menghasilkan sejumlah rekomendasi, salah satunya pembentukan Muhammadiyah Climate Center.
“Dari keputusan forum itu salah satunya adalah Muhammadiyah mendirikan Muhammadiyah Climate Center,” ujar Agus.
Menurutnya, kelahiran MCC bukan berarti Muhammadiyah baru mulai bergerak dalam isu perubahan iklim. Sebaliknya, berbagai unsur Muhammadiyah telah lama melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mitigasi, adaptasi, perlindungan lingkungan, dan transisi energi. Hanya saja, berbagai inisiatif tersebut masih tersebar dan belum terkonsolidasi dalam satu ekosistem gerakan.
“Muhammadiyah ini sudah melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan climate issues, mitigasi dan adaptasi, tetapi masih sporadik, belum terepresentasikan dengan baik,” jelasnya, Rabu (26/8).
Karena itu, MCC diharapkan menjadi pusat kolaborasi yang mampu mengorkestrasi berbagai inisiatif tersebut agar lebih terintegrasi dan memberikan dampak yang lebih luas.
Mengembangkan Konsep Green Wasathiyah
Agus menjelaskan, salah satu fungsi penting MCC ke depan adalah mendokumentasikan sekaligus menampilkan berbagai capaian Muhammadiyah dalam merespons perubahan iklim.
Menurutnya, berbagai praktik baik sebenarnya telah berlangsung di banyak Amal Usaha Muhammadiyah dan berbagai lingkungan Persyarikatan. Misalnya, pemanfaatan panel surya, pengembangan energi terbarukan, pengurangan emisi karbon, hingga berbagai program lingkungan.
“Sekarang sudah ada di mana-mana tetapi belum terkonsolidasi,” ungkap Agus.
Karena itu, MCC diharapkan dapat menjadi semacam etalase atau dashboard yang menggambarkan kontribusi Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan iklim. Data mengenai kapasitas energi surya yang telah terpasang, jumlah energi yang dihasilkan, transisi energi, hingga pengurangan karbon diharapkan dapat dihimpun dan ditampilkan secara lebih sistematis.
“Keinginan didirikannya MCC ini adalah bisa menjadi etalase atau menunjukkan dashboard bagaimana Muhammadiyah sudah melakukan banyak hal,” katanya.
Agus menegaskan bahwa gerakan menghadapi perubahan iklim bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Muhammadiyah. Berbagai gerakan lingkungan telah dilakukan Persyarikatan selama bertahun-tahun. Kehadiran MCC dimaksudkan untuk memperkuat, menghubungkan, dan memperluas gerakan MCC.
Dalam workshop ini, MCC juga memperkenalkan arah visi sebagai pusat kolaborasi gerakan dalam mengatasi isu perubahan iklim bumi dengan pendekatan green wasathiyah.
Agus menjelaskan, pendekatan tersebut merupakan upaya Muhammadiyah mengambil posisi yang seimbang dalam menyikapi persoalan lingkungan. Muhammadiyah tidak ingin terjebak pada sikap alarmis yang berlebihan, tetapi juga tidak ingin bersikap abai terhadap perubahan iklim.
“Muhammadiyah tidak ingin terbawa-bawa pada hal yang romantik untuk melakukan green, seperti green alarmis. Bahwa dunia ini mau kiamat sebentar lagi lalu kita menjadi green sehingga tidak berbuat apa-apa. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang sangat tidak peduli terhadap perubahan iklim. Kita juga tidak ingin seperti itu,” paparnya.
Menurut Agus, sikap tersebut perlu diletakkan dalam kerangka nilai Islam. Al-Qur’an dan hadis telah memberikan prinsip-prinsip yang dapat menjadi pijakan dalam menjaga lingkungan dan bumi.
“Kita mempunyai patokan-patokan nilai yang sudah ada di dalam Al-Qur’an dan hadis untuk menjaga lingkungan, menjaga bumi ini,” tegasnya.
Konsep green wasathiyah selanjutnya akan menjadi bagian dari pembahasan dalam penyusunan misi dan roadmap MCC. Melalui workshop ini, MCC berupaya memastikan arah gerakannya memiliki pijakan nilai, strategi kelembagaan, serta program yang konkret.
Perkuat Kapasitas Kelembagaan
Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Maarif Institute yang turut mendukung proses penguatan kapasitas MCC. Menurutnya, MCC masih berada pada tahap awal pembangunan kelembagaan sehingga membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk membangun perangkat organisasi yang kuat.
“Muhammadiyah Climate Center ini masih merangkak-rangkak, masih baru. Tadi disebutkan masih ada baru kepala-kepalanya saja,” ujarnya.
Dukungan Maarif Institute, lanjut Agus, diarahkan untuk membantu MCC membangun kapasitas dan perangkat organisasi sebagai baseline dalam menjalankan gerakan. Selain itu, proses workshop menjadi ruang untuk menghimpun masukan dari berbagai pihak sebelum MCC menjalankan program-programnya secara lebih luas.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan apresiasi kepada para konsultan, fasilitator, dan berbagai unsur Muhammadiyah yang terlibat dalam proses pengembangan MCC. Ia berharap Workshop Penajaman Visi-Misi dan Penyusunan Roadmap Sesi II dapat menghasilkan rumusan yang menjadi pijakan bersama bagi MCC.
Workshop ini melibatkan berbagai Lembaga seperti MAARIF Institute, Konsultan, Muhammadiyah Climate Center, DIAN Interfidei, MDMC PP Muhammadiyah, LHKP PP Muhammadiyah, MLH PP Muhammadiyah, BPO PP Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, LHKI PP Muhammadiyah, LLHPB PP Aisyiyah, Kader Hijau Muhammadiyah, hingga CRCS Universitas Gadjah Mada.

