YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela belum serta-merta menghadirkan kepastian pemulihan ekonomi bagi negara tersebut. Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., menilai bahwa dampak ekonomi pasca-invasi masih berada dalam wilayah abu-abu dan sulit diprediksi secara pasti.
Faris menyoroti sektor minyak sebagai titik krusial dalam menentukan arah pemulihan ekonomi Venezuela. Selama ini, negara tersebut sangat bergantung pada industri minyak yang menyumbang sekitar 90 persen pendapatan negara. Namun, rencana AS untuk mengambil alih pengelolaan negara sekaligus operasi sektor minyak dinilai masih sarat ketidakjelasan.
“Ketika Amerika Serikat menyampaikan akan running the country dan mengambil alih operasi minyak, itu masih sangat ambigu. Pertanyaannya, apakah manfaat ekonomi tersebut akan sepenuhnya kembali ke Venezuela, atau justru lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan Amerika,” ujar Faris saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/1).
Guru Besar Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY ini juga mengingatkan bahwa krisis ekonomi Venezuela tidak bisa dilepaskan dari peran AS di masa lalu. Kebijakan blokade dan pembatasan ekspor minyak yang diberlakukan AS sebelumnya telah memberikan kontribusi signifikan terhadap memburuknya kondisi fiskal Venezuela, mengingat minyak merupakan tulang punggung anggaran negara.
Di sisi lain, Faris mengakui bahwa terdapat kelompok masyarakat Venezuela yang menyambut langkah AS tersebut. Hal ini tidak terlepas dari persepsi sebagian publik terhadap rezim Presiden Nicolás Maduro yang dinilai otoriter dan gagal mengelola perekonomian nasional.
Krisis ekonomi berkepanjangan, inflasi yang sangat tinggi, serta ketidakmampuan negara memenuhi kebutuhan dasar—mulai dari pembayaran gaji aparatur hingga penyediaan layanan publik—mendorong munculnya harapan akan perubahan.
“Sebagian masyarakat Venezuela meyakini kehadiran Amerika Serikat bisa membawa perbaikan ekonomi, karena kondisi ekonomi di bawah pemerintahan Maduro memang sangat memprihatinkan,” imbuh Faris.
Namun demikian, Wakil Rektor UMY Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan ini menegaskan bahwa harapan tersebut belum tentu sejalan dengan realitas kebijakan ekonomi yang akan dijalankan pasca-invasi. Hingga kini, belum ada jaminan bahwa pengambilalihan peran negara oleh AS benar-benar akan berorientasi pada kepentingan ekonomi Venezuela.
“Pertanyaan besarnya adalah apakah Amerika Serikat sungguh-sungguh ingin memperbaiki ekonomi Venezuela, atau justru lebih fokus mengamankan kepentingan ekonominya sendiri, terutama di sektor energi,” jelasnya.
Faris menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa invasi AS akan membawa dampak positif bagi pemulihan ekonomi Venezuela. Menurutnya, arah ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan konkret yang dijalankan di lapangan, bukan sekadar narasi politik di ruang publik.
“Situasinya belum bisa dipastikan apakah akan membaik atau justru memperpanjang krisis. Yang jelas, kondisi ekonomi Venezuela saat ini masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian,” pungkas Faris. (ID)

