War Takjil Apakah Fenomena Toleransi?

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

2177
Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

MALANG, Suara Muhammadiyah - Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan konten yang disebut dengan ‘War Takjil’. Dari konten tersebut, kita tahu bahwa takjil tidak hanya digemari oleh masyarakat muslim yang berpuasa. Namun juga populer bagi masyarakat non-muslim. Hal ini, membuat suasana Ramadan menjadi lebih cair dan ceria. 

Di lain sisi, peringatan hari besar agama lain cenderung lebih terkesan formal dan sakral. Bahkan sering muncul pertanyaan dan pernyataan provokatif, milsanya terkait pengucapan selamat natal. Apakah ini termasuk intoleran? Rachmad K. Dwi Susilo, dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa takjil tidak berdimensi agama ritual, namun lebih ke kedermawaan sosial. Sehingga, kelompok non Islam pun bisa masuk dan tidak ada beban untuk menikmatinya. 

“Jika masalah ucapan hari raya natal ini tergantung individunya. Cukup hormati dan hargai perayaan agama lain dengan tidak mengecamnya,” ucapnya. 

Lalu bagaimana agar hari perayaan agama itu bisa sama-sama dinikmati oleh agama lain? Menurut Rachmad, agama lain harus membuka ruang publik sehingga semua agama bisa turut terlibat dalam suasana saling menghormati dan penuh kegembiraan. Tetapi pemerintah memang butuh tindakan yang hati-hati, agar tidak masuk wilayah keyakinan personal. 

Kemudian, perlu ide pemerintah untuk membangun inklusivitas. Pemerintah bisa menyediakan kelembagaan yang bernama rumah bersama antar umat beragama. Forum tersebut harus produktif, menghasilkan kerja-kerja kolektif yang inklusif. Sehingga, semua kelompok bisa terlibat tanpa menyentuh aspek-aspek asasian atau aspek personal agama tersebut. Jika rutin bertemu, tidak akan muncul kecemburuan, superioritas, dan merasa agama yang paling bagus. 

“Jika telah mengalami kelembagaan, kelak akan cair dengan sendirinya. Kalau kita tidak pernah bertemu dengan penganut agama lain dan memiliki tafsir tersendiri terhadap mereka, nanti akan mudah terprovokasi,” jelasnya. 

Sejak kecil, anak jangan di sosialisasikan seakan-akan agamanya lebih bagus dan dikomparasikan dengan agama lain. Jika dibandingkan, maka bisa memicu permusuhan. Konstruksi sosial mengenai agama perlu di bangun sejak kecil dan dimulai dari lembaga keluarga. 

Dengan itu, Rachmad berharap tidak akan ada keluarga yang mengalami disorganisasi atau fungsi fungsi yang hilang antar hubungan orang tua dengan anak. Contohnya, orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga dititipkan kepada orang lain. Jika seperti itu, maka mereka tidak bisa mengontrol sang anak dengan baik. Padahal keluarga menjadi tempat pertama dalam mengajarkan toleransi. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SERANG, Suara Muhammadiyah - Menurut Haedar Nashir, kunci peradaban maju terletak pada tiga hal. Yak....

Suara Muhammadiyah

4 September 2025

Berita

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy turut hadir di har....

Suara Muhammadiyah

21 September 2025

Berita

KUALA LUMPUR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dan Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

28 November 2024

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah Kalimantan....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Berita

Model dalam Pemberdayaan Perempuan Judul               : Pengelo....

Suara Muhammadiyah

20 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah