Waspada Burnout, Ancaman Diam-diam bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Suara Muhammadiyah

28 January 2026

732
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Burnout kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, menurut dr. Rr. Tesaviani Kusumastiwi, Sp.KJ, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus spesialis kedokteran jiwa, burnout merupakan kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Hal tersebut disampaikan dr. Tesaviani dalam wawancara yang berlangsung di Gedung Erwin Santosa UMY, Senin (26/1). Ia menjelaskan bahwa kelelahan dan burnout memiliki perbedaan mendasar yang kerap luput dikenali oleh masyarakat.

“Kalau kelelahan itu stresnya bersifat sementara dan bisa membaik dengan istirahat. Sementara burnout merupakan stres jangka panjang. Meskipun sudah beristirahat, tubuh tetap merasa lelah,” jelasnya.

Selain dari durasi stres, perbedaan lainnya terletak pada tingkat risikonya. Kelelahan umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan yang serius, sedangkan burnout berpotensi memicu berbagai gangguan fisik maupun psikis. Beberapa di antaranya adalah gangguan lambung seperti GERD, nyeri kepala, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Menurut Tesaviani, tanda-tanda awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialami. Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

“Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” paparnya.

Dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur. Kondisi ini banyak dialami oleh mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Burnout dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Jika upaya menyeimbangkan aktivitas dan istirahat sudah dilakukan tetapi burnout masih dirasakan, jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater, agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” pungkasnya. (Jeed)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Senin, 20 November 2023 dilaksanakan pertemuan Pondok Pesantre....

Suara Muhammadiyah

21 November 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah– Dalam puncak perayaan milad ke-9 yang berlangsung di Auditorium K....

Suara Muhammadiyah

2 July 2025

Berita

BUTON, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) sukses menggelar seraseha....

Suara Muhammadiyah

26 June 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar berhasi....

Suara Muhammadiyah

24 July 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Program Gramedia Goes to Campus hadir dengan beragam kegiatan menarik b....

Suara Muhammadiyah

25 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah