Waspada Burnout, Ancaman Diam-diam bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Publish

28 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
577
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Burnout kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, menurut dr. Rr. Tesaviani Kusumastiwi, Sp.KJ, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus spesialis kedokteran jiwa, burnout merupakan kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Hal tersebut disampaikan dr. Tesaviani dalam wawancara yang berlangsung di Gedung Erwin Santosa UMY, Senin (26/1). Ia menjelaskan bahwa kelelahan dan burnout memiliki perbedaan mendasar yang kerap luput dikenali oleh masyarakat.

“Kalau kelelahan itu stresnya bersifat sementara dan bisa membaik dengan istirahat. Sementara burnout merupakan stres jangka panjang. Meskipun sudah beristirahat, tubuh tetap merasa lelah,” jelasnya.

Selain dari durasi stres, perbedaan lainnya terletak pada tingkat risikonya. Kelelahan umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan yang serius, sedangkan burnout berpotensi memicu berbagai gangguan fisik maupun psikis. Beberapa di antaranya adalah gangguan lambung seperti GERD, nyeri kepala, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Menurut Tesaviani, tanda-tanda awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialami. Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

“Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” paparnya.

Dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur. Kondisi ini banyak dialami oleh mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Burnout dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Jika upaya menyeimbangkan aktivitas dan istirahat sudah dilakukan tetapi burnout masih dirasakan, jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater, agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” pungkasnya. (Jeed)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah - Setelah sukses menyelenggarakan sosialisasi mitigasi bencana k....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Kompetensi Kepala Sekolah salah satunya Kewirausahaan, maka dengan Bud....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar Muhammadiyah (SKBM) Kecamatan Mun....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Sekolah Prestasi SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD Muhlas) menggelar Pa....

Suara Muhammadiyah

24 February 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bangga dengan ....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah