Ya’kub dan Pekerjaan Panjang Merawat Kader Muhammadiyah

Publish

9 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
126
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Di layar besar di depan ruangan, huruf merah menyala: PROMOSI PROGRAM STUDI DOKTOR. Di bawahnya, nama Ya’kub, S.Pd.I., M.Pd.I., tampil bersama judul disertasi yang panjang, padat, dan seperti merangkum separuh hidupnya: Implementasi Kurikulum Sistem Perkaderan Muhammadiyah dalam Penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Aula Teater I GIFt, lantai 2 Gedung Iqra, Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, siang itu terasa seperti ruang yang menahan napas. Lampu plafon memantul di lantai kayu. Kursi-kursi biru tersusun rapi. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau berornamen lambang Muhammadiyah. Beberapa botol air mineral, mikrofon, dan rangkaian bunga menjadi benda-benda kecil yang diam-diam ikut menyaksikan satu peristiwa akademik: ujian promosi doktor seorang kader.

Di sisi depan, para guru besar dan penguji duduk dengan toga akademik. Di layar lain, seorang penguji mengikuti sidang secara daring. Suara mikrofon kadang terdengar pecah, lalu kembali jernih. Di podium, Ya’kub berdiri tegak. Jas hitam, peci hitam, dan naskah di depannya menjadi semacam perlengkapan terakhir sebelum ia menyeberangi satu jenjang akademik.

Ia tidak sedang mempertahankan topik yang jauh dari dirinya. Ia mempertahankan sesuatu yang telah lama ia hidupi.
“Perkaderan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial,” begitu inti gagasan yang berulang dalam paparannya. Ia ingin mengatakan, kaderisasi bukan hanya agenda. Ia adalah urat nadi.

Pada Selasa, 9 Juni 2026, Ya’kub mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar. Disertasi itu dibimbing Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. sebagai promotor dan Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag. sebagai kopromotor. Dewan penguji terdiri atas Prof. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Prof. Dr. H. Bahaking Rama, M.S., Dr. M. Ilham Muchtar, Lc., M.A., serta Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, M.Si. sebagai penguji eksternal.

Namun, sidang itu bukan sekadar seremoni akademik. Di ruangan itu, pertanyaan yang lebih besar seperti ikut duduk bersama para penguji: bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah merawat ideologi, membentuk karakter, dan menyiapkan kader di tengah kampus yang makin kompleks?

Ya’kub menjawabnya lewat riset.

Disertasinya menempatkan Universitas Muhammadiyah Makassar bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi, melainkan juga sebagai ruang dakwah dan kaderisasi. Di kampus seperti ini, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, yang lazim disingkat AIK, bukan tempelan kurikulum. Ia mestinya menjadi atmosfer: terasa dalam tata kelola, cara dosen mengajar, budaya kerja karyawan, pilihan program mahasiswa, hingga ritme kepemimpinan kampus.

Dalam abstrak disertasinya, Ya’kub menulis bahwa penelitian ini bertujuan menemukan program dan kegiatan yang diimplementasikan dalam kurikulum sistem perkaderan Muhammadiyah, menganalisis bentuk penguatan Keislaman dan Kemuhammadiyahan pada civitas akademika, serta mengidentifikasi dampaknya. Ia menggunakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif, fenomenologis, dan etnografi. Bahasanya akademik. Tetapi yang ia teliti sesungguhnya sangat sehari-hari: bagaimana nilai hidup atau mati dalam tubuh institusi.

Dari situlah cerita ini bermula.

Di Unismuh Makassar, menurut temuan Ya’kub, perkaderan menyasar empat kelompok utama: pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa. Setiap kelompok memiliki pintu masuk masing-masing. Pimpinan diperkuat melalui Darul Arqam pimpinan utama dan Baitul Arqam. Dosen melalui Darul Arqam, Baitul Arqam, dan pengajian rutin. Karyawan melalui Darul Arqam dan Baitul Arqam. Mahasiswa melalui Baitul Arqam lembaga mahasiswa, Baitul Arqam mahasiswa berasrama, Baitul Arqam mahasiswa profesi dan purna studi, penguatan ideologi bagi lembaga mahasiswa dan penerima beasiswa, serta pengajian pekanan dan bulanan.
Daftar itu terdengar administratif. Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang tidak sederhana: dapatkah sistem kaderisasi membuat orang bekerja dengan nilai yang sama?

Seorang informan dalam disertasi, yang ditulis dengan inisial SM, melihat program perkaderan bagi pimpinan sebagai bagian strategis untuk memperkuat ideologi gerakan Muhammadiyah di perguruan tinggi. “Kegiatan Baitul Arqam dilaksanakan sebagai forum strategis untuk menyatukan persepsi dan membangun kesadaran kolektif di kalangan pimpinan mengenai pentingnya menjadikan kampus sebagai pusat dakwah dan kaderisasi,” katanya.

Pernyataan itu seperti menemukan gema di ruang sidang. Kampus, dalam logika disertasi Ya’kub, bukan sekadar kumpulan fakultas, biro, dan program studi. Kampus adalah medan nilai. Jika nilai tidak dirawat, ia lekas menjadi slogan. Jika slogan terlalu lama tidak diperiksa, ia bisa berubah menjadi dekorasi.

Ya’kub tampaknya mengetahui risiko itu.

Ia tumbuh dari jalur yang sangat Muhammadiyah. Ia lahir di Ponre Waru, 15 September 1985. Pendidikan menengahnya ditempuh di MTs dan MA Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah. Setelah itu ia belajar di Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar, lalu menempuh S1 Pendidikan Agama Islam, S2 Magister Pendidikan Islam, hingga S3 Pendidikan Agama Islam di kampus yang sama. Jalan pendidikannya seperti garis yang terus kembali ke satu rumah besar: Muhammadiyah.

Kariernya juga bergerak di lingkungan yang sama. Ia pernah menjadi guru SMP Darul Arqam Muhammadiyah Gombara pada 2016-2018, lalu guru SMA Muhammadiyah 1 Unismuh Makassar pada 2018-2021. Sejak 2017, ia tercatat sebagai Dosen Tetap Persyarikatan Unismuh Makassar.

Maka, ketika ia menulis tentang perkaderan, ia tidak menulis dari luar pagar. Ia berada di dalamnya. Kadang sebagai peserta, kadang sebagai penggerak, kadang sebagai pengamat yang perlu menjaga jarak ilmiah.

Jarak itulah yang diuji di ruang promosi doktor.

Dalam disertasinya, Ya’kub mencatat bahwa penguatan AIK memiliki empat bentuk utama. Pertama, penguatan nilai ideologi gerakan Muhammadiyah. Kedua, penguatan paham agama menurut Muhammadiyah. Ketiga, penguatan kader sebagai pelaku gerakan. Keempat, penguatan sistem gerakan Muhammadiyah.
Empat bentuk itu menjadi semacam peta. Ideologi memberi arah. Paham agama memberi landasan. Kader menjadi pelaku. Sistem memastikan semua tidak bergantung pada semangat sesaat.

“Dengan kegiatan perkaderan dan pengajian yang tertib dan berkesinambungan, maka nilai ideologi tetap segar dan kuat menjadi spirit, sikap, wawasan, dan karakter dalam kehidupan,” kata informan lain, MA, sebagaimana dikutip dalam disertasi.

Kata “tertib” dan “berkesinambungan” menjadi kunci. Muhammadiyah, organisasi yang usianya telah melampaui satu abad, tidak mungkin bertahan hanya dengan nostalgia pendiri. Ia bertahan melalui pengulangan yang dirawat: pengajian, sekolah, kampus, rumah sakit, forum kaderisasi, rapat, keputusan, dan kerja amal usaha. Semua tampak rutin. Justru di situlah daya tahannya.

Tapi rutinitas juga bisa menjadi jebakan. Kegiatan yang terlalu biasa dapat kehilangan nyawa. Maka Ya’kub mengajukan perkaderan sebagai sistem yang harus terus diperiksa dampaknya.

Di sinilah disertasi itu menjadi menarik. Ia tidak berhenti pada pertanyaan apakah program ada atau tidak. Ia bertanya lebih jauh: apa akibatnya?

Hasil penelitian Ya’kub menunjukkan sejumlah dampak. Implementasi Kurikulum Sistem Perkaderan Muhammadiyah berdampak pada penguatan ideologi dan identitas Bermuhammadiyah, pembentukan karakter dan moralitas etik civitas akademika, penguatan tata kelola dan budaya kelembagaan, peningkatan reputasi institusi, meningkatnya aktivitas Bermuhammadiyah di berbagai tingkatan struktural, serta penguatan masa depan karier kader di Muhammadiyah.

Bagi kampus, temuan ini penting. Unismuh Makassar bukan hanya mengejar akreditasi, kerja sama, publikasi, atau pemeringkatan. Ia juga membawa mandat Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Pada titik ini, AIK bukan urusan tambahan. Ia bagian dari identitas.

Dalam disertasinya, Ya’kub mencatat pula adanya tantangan di lingkungan kampus. Sumber daya manusia di perguruan tinggi Muhammadiyah makin plural dan tidak semuanya berlatar belakang Muhammadiyah. Pergantian kepemimpinan struktural secara periodik dapat membawa konflik kepentingan jika tidak diimbangi pembinaan ideologi. Sebagian warga kampus bisa tertarik pada paham atau gerakan lain tanpa memahami Muhammadiyah secara substantif. Gejala melemahnya militansi, karakter, identitas, dan visi gerakan juga menjadi catatan.

Dengan kata lain, kampus besar memerlukan sistem nilai yang juga besar.

Seorang informan lain, NM, memberi catatan kritis. Menurut dia, program perkaderan untuk pimpinan di lingkungan Unismuh Makassar belum sepenuhnya berjalan sesuai pedoman. “Di kalangan pimpinan yang seharusnya dilakukan adalah pengkaderan Darul Arqam, sedangkan yang sering dilakukan adalah pengkaderan Baitul Arqam,” katanya.
Catatan seperti itu membuat disertasi Ya’kub tidak jatuh menjadi laporan yang serba memuji. Ia memperlihatkan tegangan antara ideal dan praktik. Antara pedoman dan pelaksanaan. Antara niat besar dan kemampuan institusi menjalankannya.

Tegangan itu justru membuat penelitian ini bernapas.
Pada bagian lain, Ya’kub mencatat adanya perbaikan. Dalam pengamatan ulang pada November 2025, ia menemukan pelaksanaan Darul Arqam pimpinan utama Unismuh Makassar pada 8-11 November 2025 di Balai Sidang Muktamar. Kegiatan itu dinilai berjalan sesuai idealitas pedoman sistem perkaderan Muhammadiyah. 

Rektor Unismuh Makassar, Abdul Rakhim Nanda, yang menjadi informan dalam disertasi Ya'kub, menegaskan bahwa seluruh civitas akademika wajib mengikuti Darul Arqam sebagai proses kaderisasi formal yang menyatukan nilai dan orientasi perjuangan Muhammadiyah.
“Baitul Arqam akan tetap berjalan, tetapi Darul Arqam menjadi program utama yang wajib diikuti seluruh pimpinan,” kata Rakhim. 

Kalimat itu menunjukkan perubahan nada. Dari sekadar pembinaan menuju pelembagaan. Dari kegiatan menuju sistem. Dari acara menuju budaya.
Dalam bahasa Ya’kub, perkaderan yang kuat harus mampu menyatukan nilai, pemahaman, sikap, budaya, dan tindakan. Ia bukan hanya transfer materi. Ia juga proses membentuk cara memandang kampus, kerja, dan pengabdian.

Di ruang promosi doktor, gagasan itu memperoleh panggung akademik.
Ya’kub, yang berdiri di podium, bukan sosok yang datang tiba-tiba ke dunia kaderisasi. Jejak organisasinya panjang. Ia aktif di IRM/IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, serta MPK/MPKSDI Muhammadiyah. Ia pernah menjadi Ketua Umum PC IMM Kota Makassar, Ketua Bidang Kader DPP IMM, Ketua Korps Instruktur DPD IMM Sulawesi Selatan, Wakil Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Divisi Pendidikan dan Pelatihan MPK PWM Sulawesi Selatan, Wakil Sekretaris MPKSDI PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan, serta Wakil Dekan IV Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar.

Ia juga menempuh jenjang kekaderan yang tidak pendek: Darul Arqam Madya, Darul Arqam Paripurna, Latihan Instruktur Dasar, Latihan Instruktur Madya, Latihan Instruktur Paripurna, Baitul Arqam Dosen Persyarikatan, Darul Arqam Wilayah, Darul Arqam Nasional, hingga Pelatihan Instruktur Nasional Muhammadiyah.

Maka disertasi ini seperti simpul dari banyak pengalaman. Ia mengumpulkan apa yang pernah ia jalani sebagai kader, lalu memeriksanya sebagai peneliti.

Namun kehidupan seorang promovendus tidak hanya terdiri atas forum ilmiah dan organisasi. Dalam kata pengantar disertasinya, Ya’kub mempersembahkan karya itu untuk istrinya, Hernawati, S.Pd.I., M.Pd., serta empat anaknya: Afrahatul Huriyah Ya’kub, Afizah Syaffira Ya’kub, Muhammad Afnan Ya’kub, dan Afdhaliah Dzakira Ya’kub. Ia menulis bahwa mereka kadang terabaikan karena pengerjaan disertasi. Kalimat itu sederhana, tapi jujur. Di balik setiap gelar akademik, selalu ada jam keluarga yang dipinjam.

Di aula itu, ketika para penguji berbicara dan Ya’kub menjawab, yang sedang berlangsung bukan hanya percakapan ilmiah. Ada riwayat panjang pesantren, kampus, organisasi, keluarga, dan Persyarikatan yang ikut berdiri di belakangnya.
Di akhir sidang, meja depan masih sama: kain hijau, mikrofon, bunga, dan layar besar. Tetapi ruangan itu telah menyimpan satu peristiwa kecil dalam sejarah akademik Unismuh Makassar. Dari sana, Ya’kub membawa pulang lebih dari satu gelar. Ia membawa pertanyaan yang akan terus menagih kampus-kampus Muhammadiyah: apakah perkaderan sudah menjadi sistem yang hidup, atau baru menjadi acara yang selesai ketika sertifikat dibagikan?

Di luar ruangan, suara langkah peserta sidang perlahan menghilang. Kursi-kursi biru kembali diam. Layar mungkin sudah dipadamkan. Namun gagasan tentang kaderisasi, yang siang itu diuji di hadapan para guru besar, belum selesai. Ia justru baru memulai perjalanan berikutnya. (Hadisaputra)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Ilmu Komunikasi UM Bandung Gelar Kuliah Umum BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Program studi Ilmu....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Komitmen Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) dal....

Suara Muhammadiyah

23 December 2025

Berita

TUBAN, Suara Muhammadiyah - SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban mengadakan Workshop Pembuatan Kurikulum....

Suara Muhammadiyah

22 July 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan menjadi momen ibadah yang dinantikan umat Muslim, te....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah