YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah esok, Selasa (19/5) memasuki usia ke-109. Sebagai sebuah refleksi, dalam puncak miladnya, mengusung tema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian".
“Tema ini memang kita angkat melihat banyak akhir-akhir ini kondisi Indonesia, terutama global saat ini, dilanda sesuatu yang kurang nyaman, sehingga menganggu kenyamanan dunia, dan pada akhirnya menganggu perdamaian dunia,” terang Salmah Orbayinah.
Kondisi pelik itu kemudian, berimpak kepada ‘Aisyiyah. Mengapa begitu? Karena menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah tersebut, ‘Aisyiyah memiliki banyak amal usaha di akar rumput.
“Dengan kondisi geopolitik, tentunya sedikit menganggu kestabilan dari amal usaha yang juga ada di ‘Aisyiyah,” tuturnya, Senin (18/5) saat konferensi pers di SM Tower Malioboro Yogyakarta yang didampingi jajaran Ketua PP 'Aisyiyah yakni Siti Aisyah, Evi Sofia Inayati, dan Tri Hastuti Nur Rochimah (Sekretaris Umum).
Dalam spektrum lebih luas, gejolak tersebut niscaya berpengaruh bagi urat nadi ekonomi. Bukti empiris ditemukan secara benderang, yakni kenaikan harga bahan pokok dan nilai tukar rupiah per hari ini pun, anjlok ke level Rp. 17.648 per dolar AS.
“Ini tentunya sangat berdampak amal usaha ‘Aisyiyah yang saat ini sedang membangun, seperti perguruan tinggi, TK, dan ini tentunya tetap memberikan pengaruh dari kondisi seperti ini,” singkap Salmah.
Di situlah relevansi tema milad 109 ‘Aisyiyah. Bentang Salmah, tema ini menjadi komitmen ‘Aisyiyah dalam rangka mengantisipasi kondisi pelik tersebut.
“Selain dari tema milad itu, kita sudah mengkampanyekan hemat dalam segala hal,” ujarnya, yang itu pangkalnya dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. “Kita melakukan penghematan di segala bidang,” tambahnya.
Pada titik vital itulah kemudian, kehadiran ‘Aisyiyah menjadi sesuatu hal paling dinantikan. Yakni menebarkan kedamaian, kasih sayang, serta perlindungan bagi seluruh umat manusia.
“Dakwah ‘Aisyiyah selama ini adalah dakwah kemanusiaan. Dan salah satunya untuk mewujudkan perdamaian,” tekan Salmah.
Mengerucutkan konteks perdamaian tersebut, diharapkan terbentuk tanpa tiadanya perang berkecamuk. Tetapi, beber Salmah, kondisi di lapangan sangat mempengaruhi sangat signifikan.
“Jadi ‘Aisyiyah merasa sangat prihatin dengan kondisi ini. Kita selalu terus-menerus mengingatkan bahwa perdamaian itu sangat penting sekali,” tegasnya.
Nilai-nilai perdamaian tersebut berpokok pangkal pada nilai-nilai ketauhidan (Ilahiyah). Nilai ini yang diupayakan demikian rupa diperkuat dan dibumikan sebagaimana mestinya.
“Jadi kita harus percaya nilai inilah sebagai tempat inspirasi kita untuk mencari kedamaian hakiki,” tuturnya.
Berikutnya, melalui nilai kemanusiaan (insani). Diaksentuasikan Salmah, kalau kedamaian bisa digapai manakala pada basis keluarga.
“Keluarga damai dulu. Insyaallah kedamaian itu bisa menular di masyarakat. Kalau masyarakat damai, membuat negara ini menjadi damai,” jelasnya, yang hal demikian itu berimplikasi kepada tataran global.
Dan, nilai kauniyah (alam). Alam yang diciptakan oleh Allah, imbuhnya, dikehendaki-Nya untuk kebutuhan primer umat manusia sejagat. Dengan prasyarat utama: dikelola dengan baik sehingga menciptakan rahmatan lil ‘alamin.
“Ini yang harus kita pegang. Jadi tiga hal itu ingin ‘Aisyiyah wujudkan untuk mewujudkan kedamaian di muka bumi ini,” ulasnya.
Di sinilah peran dakwah ‘Aisyiyah di akar rumput meniscayakan memperkuat jangkar persatuan bangsa serta membangun budaya damai di tengah tantangan konflik sosial, kekerasan, dan polarisasi masyarakat.
“Dakwah-dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah dari awal memang sudah menekankan untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan di muka bumi,” bebernya. (Cris)

