Oleh Dr. Nurul Fahimah, Koordinator Divisi PAUD Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat
BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Sepuluh sesi bootcamp membekali sekolah mengenali kebutuhan anak, menyesuaikan pembelajaran, dan menyusun dukungan bersama keluarga.
Bootcamp Pendidikan Inklusif ‘Aisyiyah Jawa Barat dibuka secara daring pada Senin, 14 September 2026. Sebanyak 347 pendidik dan tenaga kependidikan dari 100 satuan pendidikan mengikuti program 10 sesi yang dirancang untuk mengubah pemahaman tentang inklusi menjadi langkah nyata di sekolah. Kegiatan ini berlangsung melalui Zoom pada 14–18 dan 21–25 September 2026.
Kegiatan bertema “Berbeda Karakter, Satu Tujuan: Tumbuh Bersama” ini diselenggarakan oleh Divisi PAUD Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat bekerja sama dengan program Kemitraan Pemerintah Australia – Indonesia INOVASI. Bootcamp ini juga merupakan upaya praktik baik untuk mendukung program Gerakan Pendidikan Inklusif Muhammadiyah (GembiraMu).
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal, Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus melayani kebutuhan semua anak melalui pembelajaran yang adaptif. “Pelaksanaannya memerlukan kerja sama sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan mitra layanan,” ungkap Gogot.
Deputy Director Development Priorities INOVASI, Feiny Sentosa, menekankan perlunya mengubah cara memandang kesulitan anak. Guru perlu mengidentifikasi hambatan yang dialami anak, memahami kebutuhan, dan menentukan dukungan yang dapat diberikan, bukan segera menyimpulkan bahwa masalah terletak pada diri anak. Cara pandang ini menjadi dasar bagi sekolah untuk menyesuaikan lingkungan dan pembelajaran.
Dalam sambutannya, Ketua PWA Jawa Barat, Dra. Hj. Ia Kurniati, M.Pd., mengapresiasi kerja sama dengan INOVASI. Ia meminta peserta mengikuti seluruh sesi dan menerapkan hasil belajar di sekolah masing-masing.
“Layanan pendidikan yang memuliakan setiap anak merupakan bagian dari dakwah ‘Aisyiyah melalui Pendidikan,” ungkap Ia. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Webinar Pendidikan Inklusif yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh PWA Jawa Barat.
Keterlibatan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan menjadi pilihan penting dalam program ini. Anak berinteraksi dengan kepala sekolah, guru kelas, tenaga kependidikan, keluarga, dan lingkungan sekolah. Jika pengetahuan tentang pendidikan inklusif hanya dimiliki satu orang, penyesuaian mudah berhenti ketika orang tersebut tidak berada di kelas.
Memahami dan Menjawab Kebutuhan Anak
Pada sesi pertama, pemateri Eni Martina, S.IP., M.Ed. mengajak peserta membedakan eksklusi, segregasi, integrasi, dan inklusi. Perbedaannya terlihat pada tindakan sekolah. Berbeda dengan praktik eksklusi, segregasi, dan integrasi yang masih menempatkan anak dengan kebutuhan berbeda secara terpisah dengan anak lainnya, pendidikan inklusif menghadirkan sekolah yang mampu menyesuaikan lingkungan, strategi pengajaran, dan dukungan agar anak dapat belajar bersama.
Pemateri selanjutnya Redita Yuliawanti, S.Pd., M.A. membahas karakteristik murid dan asesmen fungsional. Melalui observasi, wawancara dengan anak dan orang tua, dan penyusunan profil belajar, guru mengumpulkan informasi tentang kemampuan dan kekuatan anak dalam kegiatan sehari-hari, hambatan yang muncul, serta dukungan apa yang diperlukan.
Kegiatan akan dilanjutkan dengan materi tentang Desain Universal untuk Pembelajaran, Strategi Pengajaran, Rencana Layanan Keluarga Individual (IFSP), serta Rencana Perilaku Individual (IBP). Setiap materi konseptual diikuti sesi praktik agar peserta tidak berhenti pada pengetahuan. Pembelajaran menggabungkan refleksi, kuis, curah gagasan, studi kasus, demonstrasi, simulasi, praktik terbimbing, presentasi, dan umpan balik.
Setelah seluruh rangkaian selesai, setiap sekolah akan menerapkan hasil belajar sesuai kebutuhan anak dan sumber daya yang tersedia. Data kehadiran, partisipasi, tugas, evaluasi, serta rencana tindak lanjut digunakan untuk memetakan kebutuhan pendampingan. Sepuluh sekolah akan memperoleh supervisi lanjutan melalui kunjungan, observasi, dialog reflektif, telaah perangkat, dan konsultasi. Pemilihan ini bukan untuk menentukan peringkat atau mengaudit sekolah, melainkan memastikan dukungan diberikan kepada sekolah yang paling memerlukannya.
Sekolah yang inklusif tidak menunggu semua anak mampu belajar dengan satu cara yang sama. Sekolah memperbaiki caranya agar setiap anak dapat hadir, berpartisipasi, belajar, dan bertumbuh bersama.

