JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mendorong Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tingkat Nasional 2026 menjadi ruang untuk membangun budaya ilmiah dan penelitian di kalangan pelajar. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan OPSI Tingkat Nasional 2026 yang berlangsung di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (25/9/2026).
Mu’ti menilai penelitian tidak seharusnya berhenti pada pencapaian dalam sebuah kompetisi. Menurutnya, kegiatan penelitian perlu membangun kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan mendorong peserta menghasilkan solusi atas berbagai persoalan.
“Yang saya bawahi adalah bagaimana kita menjadikan OPSI sebagai salah satu ajang untuk membangun budaya ilmiah dan budaya penelitian di kalangan para pelajar dan murid kita,” ujar Mu’ti.
Selanjutnya, Mu’ti menyoroti perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan sekaligus tantangan dalam proses belajar. Ia mengingatkan penggunaan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), perlu disertai kemampuan untuk tetap berpikir dan tidak bergantung pada teknologi.
Karena itu, Mu’ti mendorong penguatan bidang science, technology, engineering, mathematics (STEM) yang dikembangkan menjadi STEAM. Konsep tersebut mencakup science, technology, engineering, art, mathematics, dan sport. Mu’ti juga menjelaskan fungsi ilmu pengetahuan dalam mendukung proses memahami dan menyelesaikan suatu persoalan.
“Ilmu pengetahuan itu memiliki empat fungsi, yaitu deskripsi, narasi, eksplanasi, dan preskripsi. Jadi, ilmu pengetahuan tidak hanya menggambarkan suatu persoalan, tetapi juga menjelaskan dan memberikan arah penyelesaiannya,” tambahnya.
Selain teknologi, Mu’ti menyoroti perubahan iklim dan pemanasan global yang berdampak pada pertanian serta ketahanan pangan. Ia menekankan pentingnya penelitian dan perubahan perilaku yang disertai kesadaran terhadap lingkungan.
“Untuk membangun kesadaran tersebut, kita memperkenalkan konsep 4R, yaitu reduce, reuse, recycle, dan reproduce. Kemudian ada STEP 5X yang terdiri atas easy, cheap, fun, mindful, dan meaningful untuk membangun budaya sains dan penelitian sejak usia dini,” jelasnya.
Di sisi lain, Mu’ti menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengembangkan potensi sumber daya alam. Ia mencontohkan tuna dan singkong sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan melalui penelitian sehingga memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan.
“OPSI yang kita selenggarakan ini tidak boleh berhenti hanya pada aspek kejuaraannya saja. Kami harus membangun budaya meneliti, budaya cinta ilmu, dan kemudian merancang sebuah sikap bahwa hal tersebut harus berkorelasi dengan kesejahteraan dan kemakmuran,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mu’ti mengaitkan proses pendidikan dengan konsep deep learning yang mencakup mindful, meaningful, dan joyful learning. Konsep tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bernalar, kreativitas, dan rasa ingin tahu.
Mu’ti menyampaikan bahwa para peserta OPSI telah menjadi bagian dari generasi muda yang memiliki kemampuan dalam penelitian. Ia mendorong mereka untuk terus belajar dari proses yang dijalani, termasuk ketika menghadapi kegagalan, agar penelitian dapat terus berkembang dan menghasilkan solusi.
OPSI Tingkat Nasional 2026 merupakan ajang penelitian bagi pelajar yang mempertemukan murid dari berbagai daerah untuk mempresentasikan hasil penelitian dan gagasan mereka. Kegiatan tersebut berlangsung pada 24–30 September 2026 dengan melibatkan 125 tim finalis dari 24 provinsi serta satu tim dari Sekolah Indonesia di Malaysia.

