ADAB BERTETANGGA
“Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris.” (HR Bukhari).
Beberapa bulan yang lalu, dunia media sosial Indonesia dihebohkan dengan dua keluarga yang bertetangga. Dua aktor utama yang bertikai itu bukan pribadi yang sembarangan. Yang satu seorang dosen yang berpendidikan jenjang tertinggi (S3). Satunya lagi sedang menempuh pendidikan S3. Institusi tempat mereka belajar juga bukan lembaga pendidikan sembarangan yang tidak bernama. Mereka juga tidak ada yang awam soal agama.
Dari latar belakang pendidikannya mereka pasti sudah pernah tahu potongan hadits yang sangat populer dan sudah biasa dihapalkan oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.” Namun, nyatanya mereka bertikai dan pertikaiannya itu direlakan untuk dijadikan tontonan publik.
Kalau boleh jujur, dalam skala dan wujud yang berbeda, pertikaian dua keluarga di Kota Malang yang menghebohkan itu juga sering kita jumpai di sekitar kita. Dua tetangga yang rumahnya berhadapan di satu kompleks perumahan ada yang tidak mau bertegur sapa. Saling membangun pagar tinggi dan rapat agar tidak dapat saling melihat. Ketika ada tukang paket yang bertanya alamat rumah yang di depannya, mereka saling menjawab tidak tahu.
Saat ini banyak keluarga yang “terperangkap” dalam suatu bentuk masyarakat yang sebelumnya tidak dikenali. Tahu-tahu kita bertetangga dengan berbagai tipe keluarga yang semuanya unik. Yang berbeda gaya, berbeda kebiasaan, juga berbeda kepentingan.
Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 23/2025

