Adakah Pemimpin Yang Menghianati Bangsanya?
Oleh: Immawan Wahyudi, Pengajar di FH UAD
Dalam berbagai era kepemimpinan nasional seringkali muncul diksi politik yang seronok: penghianat bangsa. Jika kita perhatikan akhir-akhir ini kata penghianat itu banyak kita baca dari ungkapan netizen bahkan dari kalangan tokoh-tokoh berkelas. Perlu kiranya kita dalami asumsi-asumsi keras itu dengan sedikit menggunakan pendekatan sederhana psiko politik. Pada intinya pendekatan ini akan mengatakan sulit untuk membenarkan adanya pemimpin yang menghancurkan bangsa. Namun fakta sejarah mencatat beberapa kasus di beberapa negara yang berkaitan dengan karakter buruk pemimpin dan berujung pada kehancuran negara.
Sebenarnya menunjuk siapa dan bagaimana ia bisa disebut sebagai penghianat negara adalah sesuatu yang sulit. Mengapa sulit? Karena karena pada umumnya seorang pimpinan bisa diibaratkan sebagai orang tua dari warga bangsanya. Tentu cita-citanya adalah menyelamatkan, membahagiakan, memajukan dan hal-hal yang senada dengan itu. Narasi tentang pemimpin yang "sengaja menghancurkan bangsanya melalui konspirasi" sering kali muncul jika kita mau mengarungi teori konspirasi politik modern.
Istilah-istilah yang bersifat ”abu-abu” biasanya digunakan untuk membungkus bahasa akademis, misalnya kegagalan penilaian (miscalculation), yakni sang Pemimpin merasa tindakannya akan menguntungkan, namun justru sebaliknya menjadi bumerang. Akibatnya dicaplah ia sebagai penghianat. Lalu ada istilah yang tidak mau frontal, misalnya istilah ketergantungan pada aktor negara lain. Nalar logisnya: pemimpin terjebak dalam utang atau perjanjian politik dengan kekuatan global yang perlahan-lahan mengikis kedaulatan negaranya. Ada istilah yang mungkin paling keras keserakahan individu: Pemimpin lebih fokus pada kekayaan pribadi daripada ketahanan negara. Dengan dasar fakta tersebut negara hancur bukan sebagai kesengajaan atau konspirasi namun sebagai "efek samping." Alhasil tidak bisa dicapai dengan pasti bahwa ia penghianat bangsa.
Penulis menanyakan lebih lanjut kepada AI apakah dalam era modern ada seorang pemimpin dari suatu negara yang secara sengaja merancang kehancuran negaranya melalui konspirasi dengan pihak asing. Pertanyaan ini penulis rasakan cukup bombastis. AI menjawab; ”Hingga saaat ini tidak ada catatan sejarah atau bukti hukum yang secara sah membuktikan adanya seorang pemimpin negara yang secara sadar dan sengaja merancang ”kehancuran total” negaranya sendiri melalui konspirasi dengan pihak asing sebagai tujuan akhir. Namun, dalam studi politik dan sejarah, terdapat fenomena yang mendekati narasi tersebut –biasanya berupa pemimpin yang dituduh menjadi ”boneka” (puppet leader) atau melakukan pengkhianatan demi kepentingan pribadi/kekuasaan yang pada akhirnya berujung pada keruntuhan negara.”
Atas pendalaman jawaban itu AI memberikan gambaran yang mirip dengan pertanyaan penulis dan memerinci tokoh-tokoh yang telah dicatat sejarah sebagai tokoh yang mengkhianati negaranya, meskipun kasus mereka masih sering diperdebatkan oleh para pakar sejarah dan politik. Tokoh-tokoh tersebut antara lain.
1. Viktor Yanukovych, tokoh Ukraina, tahun 2014. Tuduhan terhadap Viktor dalam konteks tuduhan dari rakyatnya sendiri dan oleh pemerintahan setelahnya karena dianggap telah "menjual" kedaulatan Ukraina kepada Rusia.Tuduhan itu mendasarkan kepada penolakannya terhadap perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa demi pinjaman dari Rusia yang memicu revolusi Maidan. Setelah ia kabur ke Rusia, ditemukan bukti-bukti korupsi masif yang melumpuhkan ekonomi negara. Banyak pihak di Ukraina menganggap tindakannya sebagai konspirasi untuk melemahkan pertahanan Ukraina demi kepentingan Rusia.
2. Mobutu Sese Seko pemimpin Zaire, yang namanya saat ini berubah menjadi Republik Demokratik Kongo. Tuduhan terhadap dirinya dalam konteks sebagai contoh pemimpin "Kleptokrat". Selama Perang Dingin, Mobutu dianggap bekerja sama dengan pihak Barat (terutama AS dan Belgia) untuk mengeksploitasi kekayaan alam negaranya sambil membiarkan infrastruktur dan sistem sosial negaranya hancur total. Meskipun tujuannya mungkin bukan "kehancuran", tindakannya yang mengutamakan kepentingan asing dan pribadi menyebabkan kehancuran sistemik yang dampaknya terasa hingga hari ini.
3. Vidkun Quisling pemimpin Norwegia di Era Perang Dunia II. Sedemikian rupa tuduhan ini, sampai-sampai nama "Quisling" diubah menjadi sinonim dengan kata "pengkhianat" dalam bahasa Inggris. Quisling secara aktif berkonspirasi dengan Adolf Hitler untuk membantu Nazi menginvasi negaranya sendiri (Norwegia) agar ia bisa diangkat menjadi pemimpin. Ia membantu Jerman dalam menguras sumber daya negaranya dan menindas rakyatnya sendiri demi kekuasaan di bawah naungan asing.
4. Mohammad Reza Pahlavi “Raja Diraja” Iran yang sejak 1953 sampai ditumbangkan dengan revolusi Islam Iran tahun 1979. Konteks tuduhan terhadap Reza Pahlevi berkaitan dengan Operasi Ajax yang dirancang oleh CIA (AS) dan MI6 (Inggris). Mereka yang menuduh Syah Iran bekerja sama dengan kekuatan Barat untuk menggulingkan perdana menteri terpilih secara demokratis (Mohammad Mossadegh) yang ingin menasionalisasi minyak. Meskipun ia ingin memodernisasi Iran, ketergantungannya pada dukungan asing menciptakan ketidakstabilan sosial yang memicu Revolusi 1979 yang hikmahnya adalah kehancuran sistem monarki Iran.
Dengan mendasarkan pada pepatah Arab as Siyasah al-Hud’ah” (politik itu tipu daya) mewaspadai akan adanya penghianatan boleh-boleh saja. Karena kata demokrasi saja sebenarnya istilah yang tidak pernah rampung. Ia masih bermasalah dan oleh sebab itu ada pakar yang menyebut demokrasi itu omong kosong.
Melihat contoh sejarah, baik yang dikutip oleh AI maupun yang kita saksikan dalam panggung politik dunia dan nasional penghianatan itu sebenarnya ada. Bentuk-bentuk penghianatan yang berpotensi menghancurkan bangsa antara lain: korupsi yang TSM (terstruktur sistemik dan masif), pemutarbalikan hukum: yang salah dilindungi yang benar dipenjarakan sekurang-kurangnya disingkirkan, demokrasi tinggal kata-kata yang muncul menjelang perhelatan politik pemilihan umum namun menghilang ketika kekuasaan sudah ada dalam genggaman, sumberdaya alam dinikmati sebesar-besarnya oleh super elite yang berkonspirasi dengan super elite lainnya, mengurus negara dengan selera keluarga atau kelompok.
Memang berat dirasa jika kita takut bayang-bayang penghianatan. Semoga Pak Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana dinyatakannya sendiri dalam pidato-pidatonya, dan khususnya ketika menerima silaturahmi dengan 50 Tokoh, kuat dalam mengemban amanat, memajukan dan memakmurkan bangsa Indonesia. Aamiin.*

