Navigasi Iman di Era Digitalisasi
Penulis: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Dosen IAIN Pontianak
Tanpa terasa waktu bergulir tanpa bisa diprediksi apa dan bagaimana akhirnya. Sebagai hamba Allah, kita hanya bisa berikhtiar untuk menjadi manusia baik, ikhlash dan bermanfaat. Tiga diksi tersebut terasa sangat mudah diucapkan, namun teramat sulit bahkan berat diwujudkan. Mengapa demikian, karena memang manusia tempat salah dan lupa (Al-Insanu mahallul khota’ wa nisyan). Saat iman menduduki tangga tertinggi, terkadang masalah bisa dengan bijak dihadapi, namun ada fase dimana lelah mendominasi tanpa sadar kita pun menggerutu, seolah hidup begitu sulit dan Allah tidak menunjukkan kasih sayangNya.
Dalam hadist disebutkan "Iman itu kadang naik kadang turun maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah." (HR. Ibnu Hibban), "Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!" (HR. Hakim, dishahihkan Al-Albani).
Hadist diatas memberikan kita suluh tentang urgensi menjaga iman di era digital, ibarat berjalan di atas bara api, meniti jembatan tipis yang dikelilingi arus deras fitnah, hoaks, dan konten perusak akhlak semua berseliweran tanpa jedah. Kita pun sebenarnya sadar tontonan, konten yang wara wiri tersebut merusak akal sehat, namun terkadang sulit menghindar dengan dalih mencari hiburan, belajar dan informasi. Kehidupan sosial zaman now yang tidak dapat lepaskan dari gawai menjadi penyebab utama kita kesulitan untuk tidak berteman akrab dengan gawai.
Maka dapat disimpulkan fungsi gawai dengan platform digital akan bernilai baik, jika individu bijak memanfaatkannya. Berlebihan tidak hanya merusak jasmani tetapi juga mental dan psikologis. Telah banyak kasus dengan resiko nyawa dan tidak memandang usia. Tulisan ini secara singkat mengulas hubungan media sosial dan bulan mulia ramadan, dengan tinjauan sosiologis.
Media Sosial dan Bulan Mulia
Dalam tinjauan sosial, platform digital memfasilitasi interaksi, komunikasi individu dengan individu lainnya tidak hanya dalam komunitas kecil. Siapapun kita dapat berbagi konten (tulisan, foto, atau video), kemudian membentuk relasi secara daring tanpa batasan waktu dan jarak. Sebagai alat komunikasi dua arah, platform digital mengubah pengguna menjadi kreator aktif (prosumer) yang berpartisipasi dalam kolaborasi dan diskusi, didukung fitur seperti like, share, dan comment.
Dalam teori Teori Efek Jaringan (network effect/externality theory) disebutkan nilai suatu produk atau layanan meningkat seiring bertambahnya jumlah pengguna, sering dikaitkan dengan konsep ekonomi digital dan platform. Walau telah menjadi kebutuhan primer, media sosial masih sering disebut sebagai perusak fokus, ketenangan hidup. Munculnya berbagai masalah sosial seperti kecemasan, stres, Fear of missing Out (FOMO), kecanduan, brain rot atau penurunan fungsi kognitif. Namun, saat ramadan kebermanfaatan media sosial mampu menjadi ruang positif untuk menyuarakan kebaikan secara masif.
Jika fisik, jarak tidak memungkinkan untuk datang pada majelis ilmu, melalui gawai siapapun dapat memilih tema kajian, waktu, durasi hingga siapa penceramah yang diminati. Peran bisa berganti menyesuaikan kebutuhan. Namun ada beberapa hal yang harus kita jaga untuk menjaga kualitas ibadah khususnya di bulan suci Ramadan yang tinggal beberapa waktu menghampiri. Diantaranya, pertama, tidak berlebihan membagikan informasi tentang kegiatan bukber atau wisata rohani lainnya yang dikhawatirkan mengikis rasa syukur, tetapi bisa saja memunculkan riya digital dan ghibah online
Kedua, tidak menghabiskan banyak waktu scrolling tanpa henti (doomscrolling) yang seharusnya digunakan untuk tadarus atau istirahat yang bernilai ibadah. Ketiga, menjaga jangan sampai mudah terprovokasi dengan informasi yang cenderung merusak akal sehat, terkait perdebatan dalam ranah ibadah dan sebagainya di grup WhatsApp. Polusi informasi menjadi tantangan siapun kita di era digitalisasi. Untuk itu penting memfilter informasi dengan bijak juga cerdas memanfaatkan gawai untuk kesehatan diri dan lingkungan.

