YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dari pemikiran genius Dahlan dan Fachrodin lahirlah sebuah media Suara Muhammadiyah—dulu “Soeara Moehammadiyah”. Kelahiran media ini sejak 1915, dan sampai sekarang, masih menunjukkan eksistensinya—terbit berkesinambungan dan menjadi media tertua di Republik Indonesia.
“Insyaallah dia tetap berada sesuai garisnya untuk tidak hanya sekedar pemberitaan, tetapi juga sebagai pencerahan, pengayaan, dan pemberdayaan,” ujar Deni Asy’ari.
Atas tiga sokongan variabel itu, menjadi bantalan keyakinan Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah, bertahan terbit, kendati angin puyuh tantangan media datang begitu rupa dengan silih berganti.
“Inilah ciri khas yang selama ini ditekankan oleh Prof Haedar dalam membimbing kami di Majalah Suara Muhammadiyah,” ungkapnya, Kamis (13/8) saat Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
“Paling tidak ada Majalah Suara Muhammadiyah ini,” yang karena itulah, berondongan apresiasi datang menghampiri. Dengan tidak pongah diri, tapi justru memecut untuk terus melangkah lebih jauh, tumbuh lebih tangguh. Demikian spirt tema utama milad tahun ini.

“Filosofinya tantangan media di era digital atau di era disrupsi ini tidak mudah. Bagaimana sekarang konflik antara dapur redaksi dengan dapur perusahaan luar biasa,” bebernya.
Persoalan semakin kompleks ketika dapur keredaksian harus berhadapan dengan dapur perusahaan. Kepentingan bisnis dan tuntutan finansial tidak jarang menggoyahkan independensi, bahkan menyeret idealisme jurnalisme ke titik kompromi.
“Kami tidak ingin terjadi aspek yang seperti ini, sehingga idealisme pers Muhammadiyah itu hilang. Maka mau tidak mau, Suara Muhammadiyah melampaui satu abad ini, kami harus melakukan diversifikasi usaha agar idealisme pasti tetap terjaga,” tegas Deni.
Karena itu, yang dilakukan kemudian ialah diversifikasi usaha. Tidak hanya mandeg dalam dataran penerbitan majalah, dalam spektrum lebih luas, ekonomi cum pariwisata menjadi bidikannya.
“Hari ini melebihi satu abad, Insyaallah sampai ke depan kita akan melihat Majalah Suara Muhammadiyah dalam versi tunjang, bangunan, restoran, dan berbagai jenis usaha yang kami sebut ini bagian dakwah bilhal, tidak lagi dakwah bilqalam,” tandasnya. (Cris)

