YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Keberadaan masjid difungsikan bukan sekadar sebagai tempat untui ibadah salat fardu. Tetapi, Gita Danu Pranata menyingkap, fungsi masjid lebih daripada itu. “Masjid sebagai pusat peradaban,” ujarnya.
Sebagai pusat peradaban, masjid derivasi fungsi masjid mengerucut pada pusat dakwah, pusat pembinaan umat, pusat pelayanan, dan pusat pemberdayaan umat. Demikian Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut mengemukakan.
“Itu perlu, bahkan kalau kita sering mendengar masjid terbuka 24 jam. Jangan sampai ada masjid dikunci,” tegas Gita, Sabtu (26/9) saat Konsolidasi Majelis Tabligh se-DIY di Aula Lantai 2 Kantor PWM DIY, Gedongkuning, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta.
Pada titik ini, dapat terlihat betapa multifungsinya keberadaan masjid. “Apa pun masalahnya, masjid solusinya,” sambungnya. Ketika masyarakat menghadapi masalah, mereka datang ke masjid untuk mencari solusi oleh pengurus takmir.
“Sehingga masyarakat itu benar-benar merasakan keberadaannya masjid,” tekannya.
Di sinilah takmir masjid perlu peka terhadap realitas masyarakat. Sehingga, untuk memuluskan fungsi itu terejawantah dengan baik, maka Gita mengusulkan perlunya kaderisasi takmir.
“Kita sendiri itu ketika memilih takmir juga unik. Pertimbangannya adalah yang paling senior,” ujar Gita. Padahal, hal demikian itu tidak bisa dijadikan sebagai kepakeman. “Ya mesti tetap ada regenerasi,” sambungnya.
Lain sisi, keaktifan takmir masjid juga sangat niscaya. Aktif tidaknya takmir memengaruhi 4 fungsi terbentang tadi, apakah jalan atau justru mandeg di tempat.
“Kalau memang kita itu benar-benar menjadi takmir yang berjalan (aktif), ya rapat itu rutin karena apa? Setiap hari masuk itu ada kegiatan,” tekannya.
Kegiatan kemasjidan itu sangat beragam. Lebih tepatnya, kegiatan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan jamaah dan umat, lebih-lebih paralel dengan problema yang tengah dihadapi.
“Problem-problem kehidupan itu tidak kalah pentingnya. Problem keumatan, terutama aspek muamalah dan ekonomi. Itu benar-benar menjadi problem dan menjadi pembicaraan dan pembahasan kita,” tutur Gita.
Dengan semakin kompleksnya problema kehidupan, maka takmir tidak hanya mengutamakan para senioritas. Namun, perlu menghadirkan para kawula muda untuk terlibat aktif berkontribusi dalam melakukan manajemenisasi masjid.
“Remaja tidak mau ke masjid (terlibat aktif) karena tidak diberi panggung. Tidak diberi kesempatan,” bebernya.
Karenanya, takmir perlu memberi fasilitas kepada anak muda agar tertarik datang ke masjid sekaligus menjadi bagian dari pengurus.
“Maka kegiatan remaja kita fasilitasi biarlah untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan di masjid kita masing,” katanya. Dan dari situlah, regenerasi pengurus masjid menjadi sangat mendesak untuk dijalankan, pelan tapi pasti.
“Regenerasi bisa berjalan. Itu harapan kita,” tandasnya. (Cris)

