Agar Tidak Terkesan Kaku, Dakwah Perlu Dibingkai dengan Sentuhan Sastra

Suara Muhammadiyah

5 October 2025

952
Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, dalam Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Ahad (5/10).

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menyampaikan terima kasih atas kehadiran Tasfir dalam pengajian kali ini. "Ahlan wa Sahlan, sugeng rawuh (selamat datang) Kiai di Tabligh Institute," ujarnya.

Fathurr menyebut, sosok Tafsir sebagai salah satu penasehat spiritual. “Beliau selalu membersamai kami di Majelis Tabligh PP Muhammadiyah,” ungkapnya.

Ditambahkan Fathurr, Tafsir dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang senantiasa mengajarkan tentang kearifan dalam berdakwah. Baginya, dakwah tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus disertai keteladanan, kebijaksanaan, dan kasih sayang sehingga dapat menumbuhkan persaudaraan.

“Ukhuwah (persaudaraan) itu tidak hanya sekadar dipidatokan. Ukhuwah itu dilakoni (dijalankan) dan dicontohkan,” katanya, seraya mengharapkan dengan adanya koalisi antara Santri Krapyak dengan Santri Madrasah Mua’llimin dalam konteks dakwah lewat pendekatan sastra, seni, dan budaya.

“Itu saya kira satu contoh yang sangat bagus,” ucapnya.

Seturut dengan itu, Tafsir mengatakan, perlunya menghadirkan pendekatan sastra sebagai bagian dari upaya menghadirkan dakwah sekaligus membangun peradaban dan kebudayaan manusia. “Kita tidak punya karya benda, punyanya karya non-benda berupa syair-syair,” tuturnya.

Pada titik inilah, pendekatan sastra perlu ditempatkan secara proporsional dalam denyut nadi gerak dakwah dan kebudayaan. “Bahwa ini karya sastra. Maka dibaca, diapresiasi pada konteks sebuah karya sastra,” sambungnya.

Sebab, di sanalah tersimpan sumber kekuatan umat Islam dalam menciptakan transformasi kebudayaan sesuai dengan aspirasi baru yang relevan. Tapi mengakar pada sumber otentik ajaran agama.

“Maka, tempatkan sebagai karya sastra. Aspirasnya sastra, sebagai karya sastra dan karya seni. Bukan untuk disakralkan, bukan untuk ritual yang sakral, tetapi untuk sebuah festival. Jadi kita ubah, dari sakral menjadi festival,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Tafsir menilai bahwa sastra dan budaya yang tumbuh di masyarakat tidak dihapus, tetapi dapat dijadikan festival rakyat atau wadah yang menjadikan masyarakat bergembira membangun kebersamaan dengan kreativitas budaya yang diciptakannya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sekolah Prestasi SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD Muhlas) melaksanaka....

Suara Muhammadiyah

28 March 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Utara, Dr. Drs. Agus Fatoni, M.Si, melak....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — DPR RI resmi menetapkan revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 34 Tah....

Suara Muhammadiyah

21 March 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Perguruan Tinggi Muhamm....

Suara Muhammadiyah

29 September 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Pemuda (PWPM) Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel)....

Suara Muhammadiyah

12 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah