YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Keberadaan organisasi di universitas merupakan medium pembelajaran bagi mahasiswa. Yang dari situ, kata Irwan Akib, para mahasiswa ditempa sedemikian rupa untuk berkontribusi bagi kepentingan bangsa dan negara.
Tentu, hal tersebut perlu disepadukan dengan kondisi zamannya. Menurut Irwan, pasca-reformasi, dipandang bahwa hampir semua organisasi kemahasiswaan mengalami indolensi.
“Saya pernah memimpin perguruan tinggi 11 tahun. Dalam perjalanannya, daya kritisnya mulai tumpul. Turun ke jalan iya, tetapi tidak memberikan solusi,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Maka saat keynote speech Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Periode 2026/2027 di Auditorium Kampus 1, Kamis (15/1), Irwan mendorong agar wadah BEM UAD ini menjadi ruang perumusan kajian-kajian strategis arah masa depan bangsa.
“Sehingga, itu bisa menjadi kekuatan besar bagaimana memberikan kontribusi terhadap kepentingan bangsa dan negara kita hari ini,” ujarnya.
Di situlah diperlukan jalinan komunikasi yang baik antarsesama organisasi kemahasiswaan yang lain. Yang dari titik inilah kemudian, eksistensi aktivis mahasiswa memiliki makna tersendiri.
“Baik kepada sesama organisasi itu sendiri maupun terhadap kepentingan yang lebih luas,” sambung Irwan.
Yang paling substansial mengenai kepemimpinan. Ditekankan Irwan, keberhasilan seorang pemimpin ditinjau dari kemampuan dalam cara memimpin yang handal dan profesional. “Sehingga nanti tahun depan tidak mandeg ini (BEM),” harapnya, yakin.
Termasuk, para pengurus BEM UAD perlu membuat sejarah yang positif. Dan menggoreskan karya-karya terbaik untuk bangsa dan negara. “Juga untuk Muhammadiyah, khususnya,” imbuhnya.
Apabila itu dilakukan, maka akan menjadi catatan tinta emas bagi pengurus BEM yang dilantik hari ini. “Kita berharap bahwa mahasiswa, beserta para pengurus lainnya periode 2026/2027 bisa memberikan inspirasi bagi adik-adik pengurus berikutnya,” tandasnya. (Cris)

