YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ajaran Islam pada hakikatnya adalah rahmat bagi semesta. Demikian Qs al-Anbiya ayat 107 menegaskan. "Maka kita sebagai manusia penganutnya juga harus menjadi rahmat bagi seluruh alam," terang Hamim Ilyas.
Kata alam di sini, dalam bahasa Arab secara pokok digunakan untuk menunjukkan makhluk-makhluk Allah yang memiliki akal.
Namun, ketika diobyektivikasikan untuk seluruh alam semesta, termasuk benda-benda mati, hal ini mengisyaratkan penerima rahmat risalah Islam bukan hanya manusia, melainkan seluruh alam.
"Penggunaan tata bahasa ini menunjukkan bahwa alam, termasuk benda-benda mati, sebenarnya memiliki kesadaran," terang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut dalam Pengajian Ramadhan 1447 H PWM DIY, Ahad (1/3) di Kampus 4 UAD Yogyakarta.
Perbedaannya, kata Hamim, terletak pada jenis kesadarannya, di mana umat manusia memiliki kesadaran reflektif, sedangkan alam atau benda mati memiliki kesadaran ontologis, yaitu kesadaran mengenai tujuan keberadaan mereka.
"Al-Qur'an menunjukkan hal ini melalui ayat yang menyatakan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah," jelasnya.
Dalam pandangan etika ekologi profetik, pemahaman ini memposisikan manusia dan alam sebagai sesama subjek yang memiliki kesadaran, sehingga hubungan yang terjalin seharusnya adalah hubungan antar-subjek yang saling merahmati dan memberi kebaikan.
"Bukan hubungan penguasa terhadap objek yang dikuasai sebagaimana yang sering dipraktikkan dalam pengaruh filsafat modern," sambungnya.
Hamim menambahkan, alam memiliki nilai-nilai fundamental terhadap keberlangsungan hidup manusia. Pertama, nilai pendidikan.
Sebuah istilah dalam bahasa Jawa menggunakan ilmu padi, di mana semakin tua, semakin berilmu, semakin pintar, semakin menunduk.
"Kalau berisi, maka semakin tua, semakin berilmu, semakin berisi, semakin menunduk. Itu adalah nilai pendidikan dari alam semesta," bebernya.
Mencontohkan Albert Einstein, yang menemukan teori relativitas dari sebuah apel yang jatuh. "Itu berarti nilai pendidikan yang ada di alam," ujar Hamim.
Kedua, nilai spiritual. Sebagai permisalan, ketika melihat bunga yang indah, maka spontanitas membaca tasbih: Subhanallah.
"Itu adalah nilai spiritual yang ada di alam yang membuat kita kemudian terhubung dengan Allah SwT," jelasnya.
"Kemudian kalau kita memiliki spiritualitas yang tinggi, maka kemudian kita juga bisa menghayati ketundukan kita kepada Allah itu tunduk bersama alam," tambahnya.
Di samping itu, Hamim menguatkan, dalam mengelola alam, harus bersandarkan pada ihsan. Ihsan itu memberikan kebaikan yang nyata terhadap alam dan kita.
"Alam yang kita beri perlakuan, kemudian kita yang mendapatkan manfaat dari alam yang kita beri perlakuan," tegasnya, di samping topangan Mizan.
"Karena Allah menciptakan alam semesta ini dengan menggunakan mizan," lanjutnya.
Bagi Hamim, mizan menempatkan posisi strategis. Tanpanya, alam akan terjadi ketidakseimbangan. "Sehingga harus dengan memperhatikan mizan-nya," tekannya.
Jangkar Etika sebagai Prinsip Dasar Utama
Dalam konteks ini, Zahrul Mufrodi menyebut, kontekstualisasi terkait dengan alam ini, memiliki etika elementer yang mesti dijadikan jangkar utama dalam mengelola alam. Pertama, menjaga dan melindungi alam.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sleman itu menyebut, sifat melindungi itu seperti orang tua kepada anak.
Pada saat yang sama, sifat menjaga itu memiliki makna universal, dalam konteks alam dan lingkungan, menjadi keniscayaan untuk melakukan perawatan secara keseluruhan.
"Harus ada perawatan dan lain sebagainya itu bentuk dari kemudian melindungi," bebernya.
Kedua, menghargai alam sebagai subjek bukan sekedar objek. Manusia tidak boleh mengeksploitasi alam. Namun, sikap arif yang ditunjukkan harus memanfaatkan.
"Dan ketika memanfaatkan itu ada norma-norma juga yang dimanfaatkannya sehingga apa? Anak turun kita itu juga mendapatkan sesuatu yang baik atau lebih baik dari apa yang ada sekarang," jelasnya.
Ketiga, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam dan memiliki kepedulian untuk merawat alam itu.
Keempat, menumbuhkan sikap solidaritas terhadap sesama makhluk hidup.
"Kita merawat bumi ini sehingga Allah kirimkan banyak makhluk-makhluk lain untuk bisa hidup di sini untuk menikmati alam ini," tegasnya.
Dan, kelima, hidup sederhana selaras dengan alam dengan mengurangi konsumsi. Konsep ini menekankan pengurangan jejak ekologis dengan meminimalkan penggunaan sumber daya alam secara berlebihan.
"Hidup sederhana juga memastikan keadilan antar generasi agar sumber daya tetap tersedia untuk masa depan," tandasnya. (Cris)

