Amal Usaha Besar, Dakwah Kecil?

Publish

29 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
66
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Amal Usaha Besar, Dakwah Kecil?

Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Muhammadiyah dikenal luas sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di dunia. Kebesaran itu terutama tercermin dari amal usahanya yaitu ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, panti asuhan, lembaga sosial, hingga unit-unit pemberdayaan ekonomi umat yang tersebar dari kota besar hingga pelosok negeri. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah menjadi wajah paling kasat mata dari dakwah Persyarikatan.

Namun, di tengah kebesaran itu, muncul refleksi kritis yang perlu disambut dengan kebesaran jiwa yaitu apakah kebesaran amal usaha telah sepenuhnya berbanding lurus dengan daya dakwah yang dihasilkan? Apakah AUM masih berfungsi sebagai instrumen utama dakwah Islam berkemajuan, atau justru perlahan bergerak menjadi institusi profesional yang netral secara ideologis?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika dibaca dalam terang Risalah Islam Berkemajuan, sebuah dokumen ideologis yang menegaskan arah dakwah Muhammadiyah: Islam yang berorientasi pada kemajuan peradaban, keadilan sosial, pembebasan manusia, dan pemuliaan martabat kemanusiaan.

Istilah “Amal Usaha Besar, Dakwah Kecil?” bukanlah vonis, melainkan refleksi kritis. Istilah ini mengajak kita menimbang ulang hubungan antara institusi dan gerakan, antara profesionalisme dan ideologi, serta antara kemajuan material dan misi keumatan.

Sejak kelahirannya, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan dakwah dari kerja-kerja sosial. KH Ahmad Dahlan memahami bahwa dakwah Islam tidak cukup disampaikan melalui lisan, tetapi harus dihadirkan melalui tindakan nyata yang menyentuh problem riil umat. Inilah yang kemudian dikenal sebagai dakwah bil-hal, yang berakar kuat pada teologi Al-Ma’un.

Amal usaha bukan sekadar sarana teknis untuk menopang organisasi, melainkan pengejawantahan nilai-nilai Islam dalam ruang sosial. Sekolah Muhammadiyah adalah dakwah tentang pentingnya ilmu dan akal sehat. Rumah sakit Muhammadiyah adalah dakwah tentang kasih sayang dan kemanusiaan. Panti asuhan dan lembaga sosial adalah dakwah tentang keberpihakan pada kaum mustadh‘afin.

Dalam kerangka ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa amal usaha adalah jantung gerakan Muhammadiyah. Tanpanya, Muhammadiyah tidak akan menjadi kekuatan sosial-keagamaan sebesar hari ini. Amal usaha telah berkontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mengurangi beban sosial kelompok rentan, dan menampilkan wajah Islam yang berkemajuan dan inklusif.

Karena itu, kritik terhadap relasi amal usaha dan dakwah tidak boleh dimaknai sebagai penolakan terhadap amal usaha. Sebaliknya, kritik ini harus ditempatkan sebagai upaya meluruskan kembali orientasi agar amal usaha tetap menjadi instrumen dakwah yang hidup.

Dalam Risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan (progressive values), seperti rasionalitas, keadilan, keseimbangan, dan keberpihakan pada kaum lemah. Islam tidak berhenti pada dimensi ibadah individual, tetapi hadir sebagai kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.

Sejarah amal usaha Muhammadiyah adalah bukti konkret dari gagasan ini. Sekolah Muhammadiyah lahir sebagai respons atas kebodohan struktural umat. Rumah sakit Muhammadiyah berdiri sebagai kritik atas layanan kesehatan yang diskriminatif. Panti asuhan dan lembaga sosial Muhammadiyah hadir sebagai jawaban atas ketimpangan sosial.

Dengan demikian, sejak awal amal usaha bukan sekadar perangkat organisatoris, melainkan manifestasi Islam berkemajuan dalam praksis sosial. AUM adalah bentuk dakwah yang menjelmakan nilai rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan muncul ketika Islam berkemajuan lebih sering diucapkan sebagai slogan, tetapi kurang dihayati sebagai etos gerakan. Dalam praktik, sebagian amal usaha berkembang pesat secara fisik dan administratif, namun mengalami pelemahan dalam dimensi ideologis dan dakwah.

Seiring dengan pertumbuhan amal usaha yang semakin besar dan kompleks, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru yang tidak ringan. Amal usaha hari ini dituntut untuk profesional, akuntabel, kompetitif, dan memenuhi berbagai standar regulasi. Dalam banyak hal, tuntutan ini niscaya dan tidak dapat dihindari. Namun, persoalan muncul ketika logika profesionalisme berjalan sendiri, terlepas dari orientasi ideologis Persyarikatan. Amal usaha kemudian lebih sibuk mengurus manajemen, akreditasi, dan persaingan pasar, sementara dimensi dakwah dan kaderisasi perlahan tersisih ke pinggir.

Tidak sedikit AUM yang secara kelembagaan maju, tetapi secara ideologis kering. Para pegawainya bekerja dengan baik, tetapi tidak memahami Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Amal usaha menjadi tempat mencari nafkah, bukan ruang pengabdian. Dalam kondisi seperti ini, dakwah tidak hilang, tetapi tereduksi menjadi simbol dan seremoni. Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Ketika amal usaha terlepas dari kesadaran dakwah, maka yang tumbuh adalah institusi tanpa ruh gerakan.

Muhammadiyah memiliki tradisi dakwah yang tertib, rasional, dan terlembaga. Kondisi ini adalah keunggulan yang membedakannya dari banyak gerakan Islam lainnya. Namun, dalam praktiknya, keteraturan struktural itu kadang justru menjauhkan dakwah dari denyut kehidupan umat. Di banyak tempat, kita menyaksikan masjid Muhammadiyah yang kurang hidup, pengajian yang tidak lagi menarik generasi muda, serta cabang dan ranting yang melemah. Sementara itu, dakwah-dakwah non-struktural justru berkembang pesat, meski sering kali minim kedalaman.

Fenomena ini mengisyaratkan satu hal penting yaitu dakwah yang baik secara konseptual belum tentu efektif secara sosiologis. Dakwah membutuhkan kehadiran, kedekatan, dan keberpihakan. Ia harus menyapa problem konkret umat, bukan hanya menyampaikan norma. Risalah Islam Berkemajuan menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus bersifat transformatif, membebaskan, dan mencerahkan. Dakwah tidak boleh berhenti pada penguatan kesalehan individual, tetapi harus menyentuh struktur sosial yang tidak adil.

Namun, dalam praktik, dakwah Muhammadiyah kerap terjebak pada pendekatan struktural yang terlalu formal. Pengajian berjalan rutin, tetapi kurang menyentuh problem konkret umat. Masjid berdiri megah, tetapi kurang menjadi pusat pemberdayaan. 

Sementara itu, amal usaha yang besar justru sering berjalan sendiri, terpisah dari denyut dakwah komunitas. Akibatnya, terjadi jurang antara kebesaran institusi dan kedalaman pengaruh dakwah. Islam berkemajuan menuntut dakwah yang hadir, menyapa, dan berpihak. Tanpa itu, dakwah kehilangan relevansi sosiologisnya.

Ketika amal usaha tumbuh besar tanpa diiringi penguatan ideologi, Muhammadiyah menghadapi risiko deideologisasi gerakan. Amal usaha tetap berjalan, bahkan mungkin semakin maju, tetapi Persyarikatan kehilangan daya penggerak dan militansi kader.

Risiko ini tampak dalam beberapa gejala seperti lemahnya kaderisasi berbasis amal usaha, minimnya integrasi antara AUM dan struktur Persyarikatan, dan terbatasnya kontribusi amal usaha bagi penguatan cabang dan ranting. Jika kondisi ini dibiarkan, Muhammadiyah bisa terjebak pada situasi paradoks yaitu besar secara institusional, tetapi rapuh secara ideologis.

Refleksi kritis ini harus diakhiri dengan ikhtiar konstruktif. Amal usaha justru harus ditempatkan kembali sebagai episentrum dakwah Muhammadiyah, bukan sekadar unit layanan sosial. Pertama, penguatan ideologi di lingkungan AUM. Ideologi Muhammadiyah tidak cukup diajarkan dalam orientasi singkat, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam kebijakan, budaya kerja, dan kepemimpinan.

Kedua, integrasi dakwah dan pelayanan. Pelayanan yang baik adalah dakwah, tetapi dakwah harus disadari, dirancang, dan dievaluasi. Nilai keislaman harus hadir dalam etika pelayanan, keberpihakan sosial, dan keberanian moral.

Ketiga, amal usaha sebagai ladang kaderisasi. Dengan jutaan orang yang terlibat di dalamnya, AUM adalah ladang kader terbesar Muhammadiyah. Mengabaikannya adalah kesalahan strategis. Keempat, keberpihakan sosial sebagai wajah dakwah keumatan. Amal usaha harus terus meneguhkan orientasi Al-Ma’un: membela yang lemah, menjangkau yang terpinggirkan, dan menghadirkan keadilan sosial.

“Amal Usaha Besar, Dakwah Kecil?” hendaknya dibaca sebagai ajakan untuk meneguhkan kembali jati diri Muhammadiyah. Amal usaha adalah kekuatan besar yang harus terus dirawat dan dikembangkan. Namun, kebesaran itu hanya bermakna jika ia tetap berpijak pada misi dakwah Islam. Muhammadiyah tidak boleh memilih antara amal usaha atau dakwah. Keduanya adalah satu tarikan napas. Amal usaha tanpa dakwah akan kehilangan arah, sementara dakwah tanpa amal usaha akan kehilangan daya.

Islam berkemajuan menuntut lebih dari sekadar kebesaran fisik. Islam berkemajuan menuntut keberanian moral, kedalaman ideologis, dan keberpihakan sosial. Amal usaha yang besar harus menjadi pintu masuk bagi dakwah yang besar pula yaitu dakwah yang mencerahkan akal, membebaskan manusia, dan memajukan peradaban. Di situlah Muhammadiyah akan tetap relevan yaitu bukan hanya sebagai organisasi besar, tetapi sebagai gerakan Islam yang berkemajuan dan berkeumatan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Raja Penentu Masa Depan: Tafsir Reflektif QS. Al-Fatihah [1]: 4 dan Relevansinya dengan Visi Kehidup....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Wawasan

Agama Sebagai Pandangan Hidup Oleh: Prof Dr Syamsul Anwar, MA Agama dapat didefinisikan dari beber....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Kemaksuman Para Nabi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Saya akan....

Suara Muhammadiyah

31 July 2024

Wawasan

Negara Sebagai Properti Keluarga Oleh: Immawan Wahyudi, Immawan Wahyudi, Pengajar di Fakultas Hukum....

Suara Muhammadiyah

21 January 2026

Wawasan

Oleh: Dr Amalia Irfani, MSi, Dosen IAIN Pontianak, Sekretaris LPP PWM Kalbar Judul diatas hanya tig....

Suara Muhammadiyah

12 September 2024