Amin Abdullah: Darul Arqam Muhammadiyah Cece Harus Cetak Santri Berkarakter

Suara Muhammadiyah

12 May 2025

1391
Foto Istimewa

Foto Istimewa

ENREKANG, Suara Muhammadiyah - Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menuntut lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren, untuk terus beradaptasi. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Pemikiran Islam Prof Amin Abdullah saat memberikan motivasi kepada santri di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Cece, Enrekang, Ahad, 11 Mei 2025.

Dalam orasi bertajuk “Tantangan Pesantren Abad ke-21”, Prof Amin Abdullah menekankan pentingnya pembaruan strategi pendidikan di pesantren agar tidak sekadar mencetak penghafal teks keagamaan, melainkan juga membentuk karakter dan kepekaan nurani.

“Kalau sudah banyak hafal teks-teks agama, tapi hati nurani tumpul, maka masa depan akan pesimis,” ujarnya di hadapan ratusan santri, asatidz, dan pimpinan pesantren di Masjid Istiqomah Pebu, kompleks Darul Arqam Muhammadiyah Cece.

Prof Amin Abdullah yang juga anggota Dewan Pengarah BPIP dan mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga itu memaparkan tiga tantangan utama yang dihadapi pesantren masa kini. Pertama, budaya digital yang mengubah cara belajar dan memengaruhi karakter generasi muda. Kedua, peran guru yang kini harus menyesuaikan diri dengan perkembangan AI. Ketiga, lemahnya ketahanan mental generasi digital yang lebih rentan secara emosional.

Meski demikian, Prof Amin menyatakan optimisme bahwa pesantren tetap bisa bertahan jika mampu melakukan tiga hal penting. Pertama, mempertahankan dan mengembangkan pendidikan karakter melalui disiplin khas kehidupan pesantren. Kedua, melakukan inovasi pembelajaran yang mempertimbangkan kebutuhan psikologis santri. Ketiga, menjadikan pengasahan hati nurani (qalbun salim) sebagai orientasi utama pendidikan, bukan sekadar hafalan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Amin juga membagikan kisah masa mudanya yang penuh perjuangan. Ia menjalani pendidikan pesantren selama 11 tahun di Gontor, dari tingkat MTs hingga D3, sembari mengabdi. Kemudian ia melanjutkan studi S2 dan S3 selama enam tahun di Turki dalam sistem asrama. “Selama 17 tahun hidup saya di asrama. Dari situ saya tahu kekuatan karakter yang dibentuk di pesantren,” tuturnya.

Kegiatan motivasi ini menjadi bagian dari upaya pesantren untuk memperkuat wawasan dan semangat para santri menghadapi tantangan global, tanpa kehilangan identitas dan misi pendidikan Islam yang berkemajuan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Air Mata di Pelepasan Siswa SMK Muhammadiyah 9 Nanggung - BOGOR Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Wakil Sek....

Suara Muhammadiyah

15 June 2026

Berita

Transformasi Kelembagaan, Penguatan Kemitraan, dan Apresiasi bagi Karyawan serta Anggota BOGOR, Sua....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasio....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Upaya peningkatan kualitas hidup remaja penyandang talasemia terus di....

Suara Muhammadiyah

31 January 2026

Berita

​KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat kini bukan lagi s....

Suara Muhammadiyah

13 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah