BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Pesantren Muhammadiyah sejatinya menjadi tempat yang strategis dalam mencetak para santri yang peduli terhadap lingkungan serta memiliki kesadaran penuh terhadap efisiensi energi. Tidak hanya itu, melalui agenda Lokakarya bertajuk Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Lingkungan Pesantren yang terselenggara atas kolaborasi 1000 Cahaya, LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah, agenda berusaha menjawab permasalahan ketergantungan energi yang besar kepada negara.
Bertempat di Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah Banyumas (28/2), Lokakarya yang dijadwalkan berlangsung selama 3 hari itu mengumpulkan 40 perwakilan dari berbagai pesantren Muhammadiyah untuk membahas terkait solusi apa saja yang bisa dilakukan untuk efisiensi energi. Dalam hal ini Maskuri menyampaikan solusinya, yaitu membentuk perilaku hemat energi.
Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengatakan, kedepan, kebutuhan akan energi listrik akan menjadi tantangan yang serius bagi umat manusia jika manusia tidak siap menghadapinya. Terutama pesantren Muhammadiyah yang dalam kesehariannya tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan listrik. Apalagi, secara lebih spesifik, dalam hal efisiensi energi listrik, setiap manusia memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam memanfaatkan energi yang ada. "Ada yang hanya bisa tidur jika lampu dimatikan dan sebaliknya, harus menyalakan AC, dan sebagainya," ujarnya.
“Tantangan kedepan adalah terkait bagaimana energi ini dikelola, oleh karena Lokakarya ini menjadi sangat penting bagi Pesantren Muhammadiyah agar bagaimana kita memanfaatkan energi secara hemat,” ia menambahkan.
Maskuri memaparkan bahwa jumlah pesantren Muhammadiyah saat ini berada di angka 445 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, masing-masing pesantren memiliki jumlah santri yang beragam. Mulai dari di bawah 500 hingga di atas 1000 santri.
“Atas nama LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Eco Bhinneka Muhammadiyah sebagai pelaksana program 1000 Cahaya yang telah bekerjasama dan bersinergi dengan Pesantren Muhammadiyah,” tegasnya.
Lalu mengapa efisiensi energi listrik menjadi penting, ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi tantangan dan ancaman perubahan iklim yang mana hal ini menyebabkan terjadinya krisis energi. Merespon persoalan ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah sigap membentuk lembaga baru yaitu Muhammadiyah Climate Center (MCC).
“Tentu perubahan iklim dan krisis energi menjadi persoalan bersama yang perlu segera dicarikan solusinya,” jelasnya.
Sehingga Islam melarang umatnya untuk berlaku boros dalam hal apapun, khususnya terkait pemanfaatan energi. Sehingga untuk menjauhakan manusia dari perilaku boros energi, perilaku manusia perlu dikontrol dan dikondisikan melalui program yang diselenggarakan oleh 1000 Cahaya.
“Untuk mewujudkan efisiensi energi ini, perlu ada pembiasaan perilaku manusia untuk tidak berlaku boros,” tegasnya. (diko)

