Amin Abdullah: Muhammadiyah di Jalur Muslim Progresif Ijtihadis

Suara Muhammadiyah

22 February 2026

589
Prof Dr M Amin Abdullah, MA. Foto: Cris

Prof Dr M Amin Abdullah, MA. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995–2000, Amin Abdullah hadir di Pengajian Ramadhan 1447 H PP Muhammadiyah, Sabtu (21/2) di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Amin menyoroti tentang permasalahan manhaj. Dikatakan bahwa, dulu problemnya ada pada Qauly atau Manhajiiy. Tetapi sekarang, permasalahannya selain di aspek Qauly dan Manghajiiy, ada pada Manhajiy itu sendiri.

“Karena apa? Semua al-Firaq al-Islamiyyah mengklaim memiliki Manhaj sendirisendiri dalam memahami teks/nash al-Qur’an dan al-Hadis/al-Sunnah. Sampai disebut “ikhtilafu ummatii rahmah,” katanya.

Saat ini, lanjut Amin, ada tren kecenderungan pemikiran Muslim kontemporer. “Yang semua mempunyai manhaj sendiri-sendiri,” katanya. Tersebut antara lain The Legalist-Traditionalis (Fuqaha’; ahli Fikih), The Theological Puritants (Mutakallimun/Teolog).

Lalu, ada The Political Islamist (Islamis Politik). “Punya manhaj sendiri. Ayat-ayat yang diambil ayat politik, kebudayaan, sosial,” tuturnya. The Islamists Extremist (Islamis Ekstrim), The Secular Muslim (Muslim Sekuler). “Ada di barat, punya manhaj sendiri,” tuturnya.

Berikutnya, ada The Progressive Ijtihadists (Muslim Progressif Ijtihadis). “Saya melihat Muhammadiyah itu Progressif Ijtihadis,” ujarnya. Pada intinya, “Problemnya bukan qauli dan manhaji. Tapi, Manhajinya bermacam-macam,” simpul Amin.

Karena itu, untuk memperjelas konteks manhaj tersebut, Amin melakukan pencandraan atas tiga multipendekatan. Yang ketiga hal itu meliputi bayani (Hadharah al-Nash; teks, wahyu), buharni (Hadharah al-Ilm; sains), dan irfani (Hadharah al-Falsafah wa al-Irfan; intuisi; wujdan; hati nurani).

Bagi Amin, tiga pendekatan ini sangat penting. Ia mengemukakan, jangan sampai hanya terfokus pada aspek pendekatan bayani dan burhani saja.

“Kalau kombinasi hanya bayani dan burhani, melepas irfani, maka dakwah al-ta’ashub akan muncul,” tegasnya.

Amin menyoroti perubahan sosial global selama 150 tahun terakhir yang menuntut pembaruan cara berpikir keislaman. Menurutnya, hal itu meliputi penghormatan terhadap martabat manusia, interaksi lintas agama, kesetaraan kewargaan, serta isu kesetaraan gender.

“Apakah kita bisa melihat orang lain itu sebagai human dignity? Itu tantangan besar,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ex-DAD Pimpinan Komisariat FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengad....

Suara Muhammadiyah

11 November 2025

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muham....

Suara Muhammadiyah

30 November 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Pergeseran besar dalam dunia pendidikan tinggi tengah berlangsu....

Suara Muhammadiyah

18 June 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konferensi Islam (OKI) dan Liga Arab berhasil menyelenggarakan Ko....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Berita

TUBABA, Suara Muhammadiyah - Bertempat di aula rumah dinas Bupati, Kamis (30/1), Ketua Pimpinan Daer....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah