Antara Aku, Riba, dan Putri Campa

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
103
Ilustrasi

Ilustrasi

Antara Aku, Riba, dan Putri Campa

Oleh Babay Parid Wazdi, Kader Muhamamdiyah, Aktifis IPM 1988-1991

Udara kota Yogya kala itu begitu panas. Sepanas diskusi aku dan Mas Firman di serambi SMA MUH 2 Yogyakarta. Para aktifis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) terbiasa membaca buku dan berdiskusi mempertengkarkan pemikiran dari apa yang kami baca. Pertengkaran tentang strategi da`wah para Wali Songo dan kisah Putri Campa. Berlanjut pada ranah politik & ekonomi. Pendirian ICMI dan terpotong oleh jadwal istrirahat yang sudah habis.

Dari diskusi-diskusi kecil itu mengkristal menjadi arah tujuan hidup dan dakwah kedepan buat kader Muhammadiyah. Salah satu kelemahan umat saat ini adalah kemiskinan. Jadi kita harus mengentaskan kemiskinan umat, lewat apa, lewat bank syariah. Kira-kira itulah salah saatu point penting diskusiku dengan Mas Firman.

Tentu lewat penguatan sektor ekonomi, lalu ekonomi mana. Pertanyaan itu terus terpikirkan di kepalaku. Dan berlanjut kepada rencana kuliahku, jadi aku harus kuliah bidang ekonomi di Universitas ternama di Yogya yakni UGM.

Disisi lain pikiranku juga masih sering terkacaukan oleh problem aku sendiri sebagai anak yatim, ibuku hanya seorang guru SD dengan beban empat orang anak plus harus membayar hutang almarhum Bapak ke BRI Cikampek. Sehingga fokusku belajar terganggu.

Dalam perenunganku dan hasil try out Bimbel di Yogya, pilihan realistisku adalah masuk Fakultas Pertanian. Dimana dunia pertanian atau para petani adalah komunitas yang termajinalkan saat itu. Karena jika aku pilih fakultas Ekonomi, bisa jadi aku tidak lolos masuk UGM.

Tibalah hari pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Subuh sudah lebih ramai dari hari-hari biasanya karena semua orang di kota pelajar itu akan mencari koran atau menunggu koran langganan lebih cepat datang dari biasanya untuk melihat pengumuman UMPTN.

Secepat kilat aku tangkap lemparan koran dari loper keliling. Aku buka sama Mas Irfan, Embak Erna, dan Mas Iis, untuk mencari namaku, apakah aku lulus masuk UGM atau gagal. Embak Erna berteriak ini Jang… kamu lulus sambil menunjuk namaku.

Jadilah aku mahasiswa UGM, di awal-awal aku masuk UGM, aku aktif di Sholahuddin. Tugasku sederhana menggulung tikar setelah Jumatan atau kegiatan lainnya. Diskusi dengan tema-tema keumatan dan ekonomi Islam yang diselenggarakan jamaah Shalahuddin itu menginspirasiku masuk Bank Muamalat dan mengembangkan ekonomi Islam.

Bank itu jantung dan darahnya perekenomian. Aku begitu menggelora agar bisa masuk Bank Muamalat. Untuk melangkah ke arah sana aku mengambil jurusan Sosial Ekonomi (SOSEK) di Fakultas Pertanian. Akupun mengambil topic skripsi mengenai Ekonomi Islam di BPR Margi Rizki Bahagia, BPR Syariah di Yogyakarta, sebagai upaya untuk bisa masuk Bank Muamalat.

Sekitar tahun 97-an sebelum aku wisuda datanglah pengumuman yang sudah aku nanti-nanti selama 4 tahun, disebuah koran pengumuman lowongan menjadi pegawai Bank Muamalat. Aku segera daftar dengan penuh harap dan berdebar-debar, waktu itu test di UI, Depok dengan naik kereta dari arah Bogor. Sayang pas pengumuman aku gagal, rasanya badanku seperti Tom dipukul Jerry dalam kisah film kartun TOM & JERRY.

Cita-cita membangun ekonomi umat, tetap tidak putus, aku putar haluan yakni menjadi dosen, karena dengan menjadi dosen aku bisa mengembangkan ekonomi Islam. Aku melamar jadi dosen dari mulai Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Irian Jaya ( Papua ). Agak nekat juga sih. Yang penting bisa bermanfaat untuk Bangsa ini melalui Ilmu Penegetahuan  begitulah pikiranku saat itu.

Namun sayang jangankan diterima, diresponpun tidak. Jadi sekitar 30 Universitas dari Sabang sampai Merauke  tidak ada yang respon.  Aku coba konsulttasi  ke Prof. Yunahar, mengenai nasib dan masa depanku. Salah satu nya adalah melamar ke bank konvensional karena bank adalah darah dan jantung perekonomian. Jadi posisinya strategis sekali baik untuk Bangsa  dan Umat.

Satu hal yang aku tangkap dari diskusi dengan Prof Yunahar itu adalah mengenai pendekatan fikih da`wah dan fikih syariat, tanpa mengikis tujuan awal  atau visi awal yang penting. Dari situ aku belajar pada strategi Wali Songo terutama Sunan Ampel dan Putri Campa. Dimana Sunan Ampel menikahkan Putri Campa dengan dengan Raja Brawijaya V. Secara syariat tentu itu tidak boleh karena Raja Brawijaya beragama Hindu, namun pendekatan Sunan Ampel adalah fikih da`wah. Jika Putri Champa nikah dengan Prabu Brawijaya V maka anaknya akan menjadi muslim, berarti kedepan akan ada raja atau  adipati yang beragama Islam. Berarti da`wah akan lebih mudah, itulah pendekatan fikih da`wah.

Coba aku belajar dari kisah itu jika aku menguasai ilmu perbankan maka aku akan bisa mengembangkan Bank Syariah. Dan aku betul-betul implementasikan gagasan diatas ketika aku di Bank DKI. 

Aset Unit Usaaha Syariah (UUS) Bank DKI naik sebesar Rp 2,5 trilyun  dan  menjadi UUS terbesar di Bank Pembangunan Daerah (BPD). Laba meningkat  dan Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet hanya 1% terkecil sepanjang sejarah UUS Bank DKI. Begitu juga ketika aku jadi Dirut Bank Sumut, UUS Bank Sumut berhasil memperoleh laba sebesar Rp93 milyar. Sebelumnya, selama UUS Bank Sumut ada, belum pernah membukukan laba. Aku pun mencoba membuat terobosan dengan program seribu hewan qurban baik di Bank DKI maupun di Bank Sumut.

Memang sebagian masih ada yang belum paham, atas langkah ijtihad ku itu, bagiku mungkin kita saat ini belum bisa merasakan indahnya iman dan islam jika Sunan Ampel tidak melakukan ijtihad menikahkkan bibinya, seorang muslimah dengan Brawijaya V seorang Hindu. Dengan pernikahan itulah lahir Raden Fatah, pendiri kerajaan Demak. Dari Demak ini Islam pesat menyebar di Jawa bahkan ke Kalimantan dan pulau-pulau lainnya.

Demikianlah kisah aku, riba dan Putri Champa. Sebuah langkah Ijtihad yang aku tempuh. Semoga Allah SWT memaafkan aku jika dalam ijtihadku itu salah. Segala kebenaran hanya milik Allah SWT.

Rutan Salemba, 15 Oktober 2025

Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Esay ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & Esay ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Berprasangka Baik di Bulan Mulia Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si, LPPA PWA Kalbar & Dosen  F....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Ketika Hati Menggelap, Dunia Ikut Meredup Oleh : Rusydi Umar, Dosen FTI UAD, Anggota MPI PPM (2015-....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025

Wawasan

TKA, Kesehatan Mental Siswa, dan Pendidikan yang Mencerahkan Oleh: Nabigh Shorim Faozan, Mahasiswa ....

Suara Muhammadiyah

21 January 2026

Wawasan

Ngurus Muhammadiyah Jangan Asal-asalan Oleh: Iu Rusliana: Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Wawasan

Mewujudkan Guru Profesional Oleh Wiguna Yuniarsih, Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 1 Ciputat Tan....

Suara Muhammadiyah

4 November 2024