Ashabul Kahfi (3): Menemukan Hakikat Tauhid di Balik Pintu Gua

Publish

6 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
49
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ashabul Kahfi (3): Menemukan Hakikat Tauhid di Balik Pintu Gua

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Perjalanan intelektual dan spiritual kita dalam memahami Al-Qur'an kini sampai pada titik yang sangat menarik di dalam Surah ke-18, yakni Surah Al-Kahfi, khususnya pada ayat ke-18. Ayat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah jendela menuju diskusi teologis yang mendalam mengenai bagaimana cara kita memandang para kekasih Allah. Di dalam ayat ini, terdapat sebuah referensi yang sering kali memicu kerutan di dahi para pembaca: sebuah penggambaran mengenai potensi reaksi emosional Nabi Muhammad SAW jika beliau berada di hadapan para Pemuda Gua (Ashabul Kahfi).

Mari kita resapi maknanya melalui terjemahan berikut:

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.”

Keunikan ayat ini dimulai dari penggunaan kata ganti “kamu”. Secara gramatikal dan kontekstual, ini adalah sapaan langsung (khitab) dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur'an tidak sedang berbicara kepada audiens umum secara abstrak, melainkan sedang membangun sebuah narasi dialogis yang intim antara Sang Pencipta dan utusan-Nya.

Melalui narasi ini, Allah mengajak Nabi-Nya—dan secara tidak langsung mengajak kita semua—untuk melihat kisah Ashabul Kahfi dari perspektif yang benar-benar baru. Kita harus memahami konteks zamannya: saat itu, kisah pemuda yang tertidur di gua telah menjadi bagian dari tradisi lisan (folklore) yang populer, terutama di kalangan umat Nasrani. Namun, Al-Qur'an hadir sebagai Muhaymin (penjaga dan pengoreksi), yang memerintahkan Nabi untuk menanggalkan versi-versi luar dan melihatnya melalui lensa wahyu yang murni. Allah seolah berkata, "Biarkan mereka bercerita dengan sudut pandang mereka, namun inilah sudut pandang Muslim yang sesungguhnya."

Ada kontradiksi yang menggugah rasa ingin tahu kita. Ashabul Kahfi adalah simbol kesalehan, pemuda-pemuda bertauhid yang dilindungi Allah dari tiran. Namun, mengapa ayat tersebut menyatakan bahwa jika Nabi melihat mereka, beliau akan dipenuhi rasa ngeri (ru'ba) dan berpaling melarikan diri? Mengapa sosok yang paling berani dan paling dekat dengan Allah justru digambarkan akan merasa takut terhadap hamba-hamba Allah yang saleh?

Selama berabad-abad, para mufasir (komentator Al-Qur'an) mencoba memecahkan teka-teki ini. Muncul berbagai spekulasi dalam tafsir klasik:

1.      Transformasi Fisik yang Menakutkan: Beberapa pendapat menyatakan bahwa karena mereka tidur selama 309 tahun, fisik mereka mungkin mengalami perubahan yang drastis. Kuku yang tumbuh memanjang seperti cakar, rambut yang lebat tidak beraturan, dan mata yang mungkin terbuka meskipun dalam kondisi tidur, menciptakan visual yang menyerupai "monster" dalam kegelapan gua.

2.      Aura Kewibawaan (Haibah): Pendapat lain, yang lebih populer dalam literatur klasik, menyebutkan bahwa Allah menanamkan aura "ketakutan ilahiah" di sekitar mereka. Tujuannya adalah sebagai mekanisme pertahanan alami (protokol keamanan gaib) agar tidak ada manusia yang berani mendekat atau mengganggu istirahat mereka.

Namun, jika kita menggunakan pendekatan logika tekstual yang lebih kritis, penjelasan mengenai "fisik yang mengerikan" memiliki kelemahan besar. Al-Qur'an menceritakan bahwa ketika mereka akhirnya terbangun, mereka saling bertanya, "Berapa lama kita tinggal di sini?" dan mereka menjawab, "Mungkin sehari atau setengah hari." Ini adalah detail yang krusial. Jika kuku mereka sepanjang cakar atau rambut mereka menyentuh tanah, mereka tidak akan mengira hanya tertidur beberapa jam. Mereka akan menyadari transformasi fisik mereka seketika. Lebih jauh lagi, ketika salah satu dari mereka pergi ke pasar untuk membeli makanan, penduduk kota hanya terkejut karena mata uang kuno yang ia bawa, bukan karena wajahnya yang menyerupai hantu atau monster. Jika penduduk kota tidak lari ketakutan, mengapa Nabi Muhammad—yang memiliki keteguhan hati luar biasa—harus lari?

Begitu pula dengan argumen "aura ketakutan." Kita harus bertanya: apakah memang demikian cara Allah melindungi kekasih-Nya? Jika kita berkaca pada peristiwa Hijrah, Allah melindungi Nabi Muhammad di Gua Tsur bukan dengan menciptakan monster atau aura ngeri, melainkan dengan cara yang sangat sederhana namun cerdas: sebuah sarang laba-laba dan burung yang bersarang di depan pintu gua. Hal-hal yang tampak sepele inilah yang mengecoh kaum kafir Quraisy. Lantas, mengapa untuk Ashabul Kahfi Allah harus menggunakan cara yang membuat hamba-Nya terlihat mengerikan?

Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa ayat ini merupakan meta-narasi. Allah tidak sedang menyatakan sebuah fakta objektif bahwa Nabi pasti akan takut, melainkan Allah sedang merespons apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di masa itu.

Di kalangan masyarakat Arab dan ahli kitab saat itu, cerita tentang gua tersebut dibumbui dengan berbagai hiperbola dan unsur mistis yang berlebihan. Orang-orang suka mendramatisasi cerita dengan berkata, "Gua itu angker! Siapa pun yang masuk pasti akan mati ketakutan!" Dengan mengatakan "Kamu akan berpaling melarikan diri," Allah sebenarnya sedang melakukan diskursus dengan asumsi-asumsi manusiawi tersebut. Allah sedang memaparkan kembali "versi populer" yang beredar di masyarakat sebagai latar belakang untuk memberikan pengajaran yang lebih besar. Ini adalah cara Tuhan berkata, "Inilah gambaran mengerikan yang mereka buat tentang kisah ini, tetapi Aku memiliki kebenaran yang berbeda untukmu."

Jika kita menarik napas sejenak dan melihat struktur Surah Al-Kahfi secara utuh, kita akan menemukan harmoni yang luar biasa. Surah ini dibuka dengan pujian bagi Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) tanpa ada "kebengkokan" ('iwaja) di dalamnya.

Setelah memaparkan fragmen kisah gua yang penuh dengan perdebatan masyarakat (termasuk soal jumlah pemuda dan durasi waktu), Surah ini diakhiri dengan instruksi kepada Nabi: "Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu... dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan."

Ini adalah sebuah simfoni pesan:

·         Awal Surah: Al-Qur'an adalah standar kebenaran yang lurus (tidak bengkok).

·         Tengah (Kisah Gua): Menyajikan potongan cerita rakyat yang mungkin "bengkok" karena dilebih-lebihkan oleh manusia (seperti unsur ketakutan yang ekstrim).

·         Kesimpulan: Kembalilah kepada wahyu sebagai otoritas tertinggi.

Melampaui Cerita Rakyat menuju Hakikat

Melalui ayat ke-18 ini, kita belajar bahwa Al-Qur'an sering kali hadir bukan hanya untuk menceritakan sejarah, tetapi untuk memberikan komentar atas bagaimana sejarah itu dipahami oleh masyarakat. Allah ingin membebaskan pikiran Nabi Muhammad (dan umatnya) dari ketergantungan pada cerita-cerita spekulatif yang tidak berdasar.

Pesan utamanya sangat jernih: Dunia mungkin dipenuhi dengan berbagai "cerita" yang penuh hiperbola, takhayul, dan ketakutan yang tidak perlu. Namun, bagi seorang mukmin, tempat kembali yang paling aman adalah Al-Qur'an. Al-Qur'an hadir untuk meluruskan perspektif, membuang bagian-bagian yang "bengkok" dari narasi manusia, dan menyisakan inti sari keimanan yang murni.

Pada akhirnya, kisah Ashabul Kahfi bukan tentang monster di dalam gua atau kuku yang memanjang, melainkan tentang penjagaan absolut Allah terhadap mereka yang berpegang teguh pada tauhid, terlepas dari betapa pun menakutkannya dunia di luar sana bagi pandangan orang lain.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bersahabat dengan Kegagalan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tange....

Suara Muhammadiyah

16 July 2024

Wawasan

Oleh: Rusydi Umar, Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Anggota MPI PP Muhammadiyah (2015-2022) Nasyiatu....

Suara Muhammadiyah

21 May 2025

Wawasan

Presiden Prabowo, Himbara dan Tantangan Lapangan Kerja  Oleh: Buya Anwar Abbas  Angka pe....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Wawasan

Immawati IMM Makassar: Menyongsong Kepemimpinan Baru di Panggung Musycab Oleh: Nur Islamia Sam, Kad....

Suara Muhammadiyah

30 September 2025

Wawasan

Ziarah Pertapaan Rawaseneng Oleh: Khafid Sirotudin Gereja Santa Maria dan Yosef di sisi kanan jala....

Suara Muhammadiyah

27 December 2025