Pemikiran Revitalisasi Ajaran Islam

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

2267
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Pemikiran Revitalisasi Ajaran Islam

Oleh: Dr. Masud HMN, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta

Pekerjaan besar menantang kita untuk menyingsingkan lengan baju, bekerja keras dalam berusaha. Di antaranya adalah melakukan revitalisasi ajaran Islam.

Aliran pembaruan Islam amat terkenal pada zaman tabi'in, tetapi di zaman sekarang juga menjadi tugas kita menyambung tugas tabi'in itu. Alasannya, pada masa di mana para sahabat telah tiada, muncullah para pemikir utama yang menjadi “penerang zaman”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang terkemuka. Dia menjadi terdepan tatkala puncak abad pertengahan mengalami masalah. Berperan sebagai “juru penerang dari situasi dan kondisi” lantaran para sahabat telah wafat.

Sang tokoh Ibnu Taimiyah tampil membawa literasi Islam dengan ar-rujuu ilal-Islam wa as-Sunnah, kembali pada Al-Qur'an dan as-Sunnah, hingga Islam diamalkan secara benar dan terlepas dari takhayul dan bid'ah.

Dia lahir pada tahun 1263 Masehi dan wafat pada 1328 Masehi, pada masa puncak abad pertengahan Dinasti Khalifah Abbasiyah. Lahir di Baghdad, Irak, Ibnu Taimiyah (1263-1328) menghasilkan pemikiran dan menulis berbagai buku. Di antara bukunya yang terkenal yang ditulis dalam terjemahan Inggris berjudul "A Great Compilation of Fatwa". Buku lainnya juga banyak lagi.

Pemikirannya identik dengan pemikiran Mohammad Abduh (1849–1905) tentang teologi dalam Islam. Buku itu hampir sama dengan ilmu kalam, ilmu tentang ketuhanan. Buku Muhammad Abduh yang mengemukakan tentang takwil berbeda dengan tafsir. Hal ini dikutip oleh Buya Hamka (1908-1981) dalam buku tafsirnya "Tafsir al-Azhar". Buya Hamka lebih setuju dengan kata tafsir ketimbang kata takwil.

Kita memandang tokoh Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan Buya Hamka sebagai tokoh pemikir Islam. Mereka itu tampil sebagai penghindar dari Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat (TBC).

Demikian itu perlu kita tindak lanjuti. Ke depan, agar Islam tetap terkawal dengan baik, maju, dan berkeadaban.

Zaman kini, revitalisasi menjadi penting tatkala paham global sekulerisasi dan semacamnya merajalela. Kita tak boleh berdiam diri saja. Mari kita aktif melakukan usaha.

Pekerjaan itu seperti diciptakan KH Ahmad Dahlan lewat organisasi Muhammadiyah, mengejawantahkan ajaran Islam dan menentang takhayul, bid'ah, dan khurafat (TBC).


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Al-Qur`an diturunkan secara ber....

Suara Muhammadiyah

12 April 2024

Wawasan

Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an Masa Depan Oleh: Tri Ermayani, Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Is....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Wawasan

Peran Masyarakat dan Ormas dalam Mendorong Penggunaan Perbankan Syariah Oleh: Sudarta Salman, SE, M....

Suara Muhammadiyah

14 April 2026

Wawasan

Satu Frekuensi dalam Ibadah: Pengamalan Shalat Oleh: Mohammad Fakhrudin Ada dua butir tuntunan yan....

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

Wawasan

Industrialisasi Muhammadiyah Sebagai Jalan Baru Dakwah Berkemajuan Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Ari....

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah