Azab bagi Pendusta

Suara Muhammadiyah

5 October 2026

220
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Azab bagi Pendusta

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Pada era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) pergeseran nilai benar-salah atau baik-buruk makin kita rasakan. Bagi orang-orang tertentu, perasaan heran dan prihatin sepertinya makin menipis ketika ada anak kecil dan orang awam mengolok-olok tokoh nasional. Tentu hal itu perlu kita jadikan bahan renungan: apakah perilaku yang demikian sekadar merupakan refleksi terhadap perilaku tokoh itu sendiri atau karena hal lain.

Di antara kita pun ada yang mulai tidak lagi tersentak ketika ada orang yang berubah pikiran dan sikap secara drastis: dari mengolok-olok menjadi memuji-muji. Bahkan, ada yang hanya tertawa dan menganggap sebagai lawakan murahan tanpa marah ketika ada orang yang lebih dari dua dasawarsa tampak sebagai "pejuang" kebenaran dan keadilan serta pemberantas kezaliman dan mengklaim dirinya sebagai akademisi, sebagai orang paling pintar dan paling benar, tiba-tiba berubah menjadi “pejuang kedudukan” demi “cuan”. 

Tentu ada juga di antara kita yang berubah: dari memuji-muji menjadi mengolok-olok. Ada yang dulu optimistis dengan reformasi, berubah menjadi pesimistis, bahkan,  frustrasi.

Kisah Pendusta Nabi

Perkataan dan/atau perbuatan dusta merupakan kezaliman. Dampaknya dahsyat sekali. Tidak hanya orang zalim yang terdampak, tetapi juga orang-orang saleh sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat al-Anfal (8):25,

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.”

Sementara itu, di dalam Al-Qur’an surat Hud (11):117 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ 

“Dan Tuhanmu sama sekali tidak akan membinasakan negeri-negeri dengan sewenang-sewenang, sedangkan penduduknya orang-orang saleh.” 
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum Nabi Hud, Nabi Luth, Nabi Nuh, dan Nabi Saleh karena durhaka pada Nabinya. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan sikap kaum ‘Ad kepada Nabi Hud sebagaimana terdapat dalam surat Hud (11):53, yang artinya,

قَالُوْا يٰهُوْدُ مَاجِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَّمَا نَحْنُ بِتَارِكِيْٓ اٰلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ

“Kaum Ad berkata, "Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.”

Nabi Hud terus berusaha menyadarkannya, tetapi mereka tetap saja membangkang. Sebagai pembelajaran bagi umat manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazabnya sebagaimana dijelaskan pada ayat 58 dan 59,

وَلَمَّا جَاۤءَ اَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُوْدًا وَّالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا ۚ وَنَجَّيْنٰهُمْ مِّنْ عَذَابٍ غَلِيْظٍ

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهٗ وَاتَّبَعُوْٓا اَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ

“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari `azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).”

Bagaimana halnya kaum Luth? Kaum Nabi Nuh dan sesudahnya? Mereka yang tidak mematuhinya pun diazab. 

Dalam surat al-Isra (17):16 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa ayat 16 menunjukkan betapa kekayaan dan kemewahan dapat meruntuhkan sebuah negeri. Orang-orang yang berkuasa di dalam satu negeri mendapat kesempatan yang amat luas dengan sebab kekuasaannya itu. Allah membuka kesempatan bagi mereka seluas-luasnya dengan kekuasaan yang ada padanya. Namun, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap orang banyak, terhadap negeri yang mereka diami, orang-orang yang terkemuka dan berkuasa itu diperintah. Artinya kepada merekalah terlebih dahulu perintah itu datang supaya mereka yanag menghormati undang-undang. Mereka yang memelopori mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Namun, perintah itu kerapkali diabaikannya. 

Kekuasaan dapat membuat manusia menjadi mabuk kekuasaan. Jiwa mereka tidak lagi terkendali oleh iman. Lalu, mereka berbuat fasik. Mereka berbuat maksiat dan memelopori pendurhakaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengakui dengan mulut bahwa mereka bermaksud hendak mengerjakan perbaikan, padahal bekas dari perbuatannya bukanlah perbaikan, melainkan perusakan.

Pada ujung ayat 16 tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, “Lantaran itu, patutlah turun ke atas mereka azab, maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya.”

Selanjutnya, pada ayat 17 Subhanahu wa Ta’ala Allah berfirman,

وَكَمْ اَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُوْنِ مِنْۢ بَعْدِ نُوْحٍ ۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا

“Dan berapa banyak negeri yang telah Kami hancurkan, dari sesudah Nuh. Dan cukuplah Tuhanmu, terhadap dosa hamba-hamba-Nya itu Mengetahui dan Melihat.” 

Berkenaan dengan ayat tersebut, Hamka menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan penduduk negeri Mekkah yang menantang Nabi dan pemimpin-pemimpinnya yang berkuasa karena mereka kebanyakan kaya dan mewah, bahwa banyak negeri sesudah Nabi Nuh yang telah dihancurkan kerena kefasikan penguasa-penguasanya. Dan ayat ini pun menjadi peringatan bagi umat manusia selanjutnya bahwa Allah sewaktu-waktu dapat berbuat demikian. Ancaman-ancaman seperti ini kadang-kadang ditantang oleh kafir Quraisy. Penolakan dengan kesombongan orang Quraisy itu didapati juga pada segala zaman. Mereka meminta dicepatkan azab yang menghancurkan itu “kalau memang ada.” 

Solusi Ilahi

Agar terhindar dari azab dahsyat yang menimpa tidak hanya pada orang-orang zalim, tidak ada jalan lain, kecuali beriman, bertakwa, dan tidak mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan di dalam firman-Nya dalam surat al-A’raf (7):96

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” 

Tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tantangan yang makin berat dapat membuat frustrasi. Hanya dengan kecerdasan intelektual, kita tidak mampu mengatasi berbagai masalah yang makin  tidak menentu. Oleh karena itu, kita diberi hidayah iman. Dengan penuh keimanan, berdoa menjadi solusi yang paling tepat.  

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, janganlah sampai aku tersesat atau disesatkan (syaitan atau orang jahat), tergelincir atau digelincirkan orang lain, menganiaya atau dianiaya orang lain, dan berbuat bodoh atau dibodohi orang lain." (HR Abu Dawud dan At Tirmizi)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (al-Baqarah [2]:286)

Aamiin.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Purbaya, PNM, dan Nasib UMKM  Oleh: Buya Anwar Abbas Rencana Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi ....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (15) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Di da....

Suara Muhammadiyah

14 December 2023

Wawasan

Menjaga Nyala Gerakan Perempuan Muda; (Refleksi Milad 95 Nasyiatul Aisyiyah: Srikandi Penjaga Perada....

Suara Muhammadiyah

12 May 2026

Wawasan

Menelisik Makna "Mata Ganti Mata": Keadilan dalam Perspektif Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fa....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Wawasan

Kekuatan Cinta Menyelamatkan Indonesia Oleh: Agusliadi Massere Indonesia adalah kode—yang me....

Suara Muhammadiyah

25 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah