Beda Metode, Tetap Bersinergi: Unismuh Kembali Buka Observatorium untuk Pemantauan Hilal

Publish

19 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
71
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menunjukkan wajah toleransi yang konkret. Meski Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, Unismuh tetap memfasilitasi pelaksanaan rukyatul hilal yang akan digelar pemerintah di Observatorium Unismuh Makassar.

Sikap ini ditegaskan dalam rapat koordinasi yang digelar pada Selasa, 17 Maret 2026, di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar. Rapat tersebut dihadiri Wakil Rektor II Unismuh Dr Ihyani Malik, Wakil Rektor IV Unismuh Dr Mawardi Pewangi, serta perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr Nurdin.

Bagi Unismuh, keterlibatan dalam rukyatul hilal bukan berarti mengubah sikap organisasi. Muhammadiyah tetap berpegang pada keputusan resmi yang menetapkan Lebaran jatuh pada Jumat berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Adapun fasilitasi terhadap rukyat pemerintah dipahami sebagai bentuk pelayanan kelembagaan, keterbukaan akademik, dan penghormatan terhadap perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.

Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 H dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, di observatorium lantai 18 Menara Iqra Unismuh Makassar.

Rapat koordinasi itu membahas secara rinci berbagai aspek teknis pelaksanaan rukyatul hilal. Mulai dari kesiapan alat observasi, kapasitas ruangan, penataan tamu undangan, posisi teleskop, area pemantauan alternatif, hingga distribusi konsumsi berbuka puasa.

Evaluasi dilakukan karena pengalaman pemantauan awal Ramadan lalu menunjukkan tingginya antusiasme peserta. Pada pemantauan menjelang 1 Syawal kali ini, jumlah tamu diperkirakan kembali besar karena melibatkan unsur pemerintah, akademisi, organisasi Islam, BMKG, Pengadilan Agama, MUI, serta media lokal dan nasional.

Dr Ihyani Malik menegaskan bahwa rapat koordinasi ini sangat penting agar seluruh aspek teknis dapat diantisipasi sejak awal.

“Pengalaman sebelumnya menunjukkan peserta yang hadir sangat banyak. Karena itu, kita perlu memastikan pengaturan ruang, distribusi tamu, dan kenyamanan seluruh peserta benar-benar dipersiapkan lebih matang,” ujarnya.

Menurutnya, suasana pemantauan hilal menjelang Idulfitri juga memiliki kekhasan tersendiri karena berlangsung saat peserta masih berpuasa. Karena itu, aspek pelayanan tidak bisa dipisahkan dari kesiapan teknis.

“Jangan sampai kegiatan yang penting ini justru menyulitkan tamu. Kita ingin semua yang hadir merasa nyaman, tertib, dan bisa mengikuti proses rukyat dengan baik,” kata Ihyani.

Dari pihak Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr Nurdin menegaskan bahwa koordinasi teknis menjadi sangat penting karena pemantauan hilal selalu melibatkan banyak unsur dan mendapat perhatian luas dari publik.

Menurutnya, pelaksanaan rukyatul hilal bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari proses resmi yang perlu didukung kesiapan tempat, kelancaran alur peserta, dan keterbukaan informasi.

“Peserta yang hadir biasanya cukup banyak. Karena itu, perlu diantisipasi sejak awal agar proses pemantauan berjalan tertib, lancar, dan semua pihak bisa mengikuti dengan baik,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang di observatorium, panitia juga membahas penggunaan area alternatif di lantai 17 Gedung Iqra Unismuh, dengan dukungan layar pemantau agar peserta tetap bisa menyaksikan proses rukyat. Selain itu, penataan ulang posisi teleskop, pengaturan area VIP, dan mekanisme pelabelan kursi turut menjadi perhatian dalam rapat.

Di tengah persiapan teknis tersebut, Unismuh menegaskan bahwa posisi Muhammadiyah sudah jelas: 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Menurut Wakil Rektor IV Unismuh, Dr Mawardi Pewangi, penetapan ini didasarkan pada hisab menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sistem kalender Islam yang memandang dunia sebagai satu kesatuan matlak. Dalam sistem ini, awal bulan hijriah dimulai secara serentak di seluruh dunia apabila parameter astronomis telah terpenuhi di salah satu kawasan bumi.

Mawardi melanjutkan, kriteria KHGT menyatakan bahwa bulan baru dimulai apabila sebelum pukul 24.00 UTC telah terpenuhi elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat pada saat matahari terbenam. Untuk Syawal 1447 H, seluruh parameter itu dinyatakan terpenuhi.

Data astronomis, sambung Mawardi, menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC. Lokasi pertama yang memenuhi parameter astronomis tercatat pada koordinat 64° 59′ 57,47″ LU dan 42° 3′ 3,47″ BT, dengan tinggi bulan 6,49 derajat dan elongasi 8 derajat. Di Makkah, parameter global itu juga terpenuhi, dengan tinggi bulan geosentrik +06° 09′ 09″ dan elongasi geosentrik 08° 05′ 24″ saat matahari terbenam.

Karena itu, bagi Muhammadiyah, penetapan Lebaran pada Jumat merupakan hasil perhitungan astronomis yang memenuhi kriteria KHGT secara global.

Sikap Unismuh dalam menyikapi perbedaan metode sebenarnya bukan hal baru. Pada penetapan awal Ramadan 1447 H, kampus ini juga telah menegaskan bahwa puasa dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026, sesuai ketetapan Muhammadiyah berbasis KHGT, meskipun pada saat yang sama Unismuh tetap memfasilitasi rukyatul hilal pemerintah.

Dalam kerangka KHGT, penentuan awal bulan tidak dibatasi oleh horizon lokal semata. Artinya, ketika di suatu tempat hilal belum tampak atau bahkan masih di bawah ufuk, awal bulan tetap dapat dimulai jika parameter astronomis telah terpenuhi di wilayah lain di muka bumi sesuai kriteria yang ditetapkan.

Karena itu, bagi Unismuh, sebagaimana  pandangan organisasi induknya Muhammadiyah, keputusan Lebaran Jumat merupakan konsekuensi ilmiah dari sistem kalender yang dianut, bukan keputusan yang diambil secara sembarangan.

Yang paling menonjol dari seluruh persiapan ini adalah pesan bahwa perbedaan metode tidak menghalangi kerja sama. Muhammadiyah tetap pada keputusan hisab globalnya, sementara pemerintah menempuh mekanisme rukyatul hilal dan sidang isbat. Namun perbedaan itu tidak dihadapi dengan jarak, melainkan dengan saling menghormati.

Di situlah letak makna penting fasilitasi yang dilakukan Unismuh. Kampus ini tidak sedang mengaburkan sikap organisasinya. Sebaliknya, Unismuh justru menunjukkan bahwa konsistensi prinsip bisa berjalan beriringan dengan keterbukaan dan pelayanan kepada pihak lain.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

UM Bandung Selenggarakan Mimbar Iqra Edisi ke-8 BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen prog....

Suara Muhammadiyah

6 December 2023

Berita

KULONPROGO, Suara Muhammadiyah - Kulonprogo, wilayah yang memiliki posisi strategis sebagai rumah ba....

Suara Muhammadiyah

6 September 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Seiring dengan kemajuan di sektor digital yang amat pesat, Ketua....

Suara Muhammadiyah

23 July 2025

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Perkaderan merupakan proses penting dalam menggerakkan organisasi ....

Suara Muhammadiyah

16 November 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Direktorat R....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah