JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam mencari kebenaran, dunia pers seringkali dihadapkan pada tabir realitas yang penuh polesan. Menariknya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., mengajak para insan pers untuk membedah realitas tersebut dengan meneladani ketajaman detektif legendaris, Sherlock Holmes.
Hal tersebut disampaikan Haedar dalam Orasi Kebangsaan bertajuk "Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan" saat menerima penghargaan Wartawan Utama Khusus di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8).
Haedar Nashir mengutip karya Sir Arthur Conan Doyle tersebut untuk menggambarkan betapa sulitnya menemukan pelaku kejahatan atau sebuah kebenaran sejati. Beliau menyebutkan istilah "Snowball" (bola salju), sebuah proses di mana kebenaran ditemukan melalui akumulasi informasi yang dilakukan secara terus-menerus, terkadang memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya sang pelaku atau realitas sesungguhnya terungkap.
“Kebenaran apa yang disebut dengan sesuatu yang kita tampilkan di pers, di apapun itu, harus sebisa mungkin pada titik snowball itu,” tegas Haedar mengingatkan bahwa pers tidak boleh puas hanya dengan informasi permukaan.
Menggunakan kacamata sosiologi politik Erving Goffman, Haedar menjelaskan adanya dua ranah dalam relasi sosial: "Front Stage" (Latar Depan) dan "Backstage" (Latar Belakang).
Menurutnya, apa yang tersaji di hadapan publik seringkali adalah front stage yang penuh drama, polesan, dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas. Sebaliknya, kebenaran yang sesungguhnya seringkali tersembunyi di backstage.
“Sutradara itu yang tahu kebenaran yang sesungguhnya dari apa yang ada di panggung itu. Nah, semuanya hanya figuran saja,” ujar Haedar. Oleh karena itu, tugas pers sebagai pilar keempat adalah mencari titik tumpu kebenaran dengan memahami kedua ranah tersebut agar tidak terjebak dalam hegemoni atau kepentingan pihak tertentu.
Meski mendorong pers untuk gigih mencari kebenaran layaknya detektif, Haedar mengingatkan bahwa dalam relasi sosial, benar dan salah bukan satu-satunya ukuran. Ada dimensi lain yang harus dijaga, yakni etika tentang baik-buruk serta pantas dan tidak pantas.
“Boleh jadi ada sesuatu yang benar belum tentu baik. Sesuatu yang benar dan baik belum tentu selalu pantas ketika kita tidak bisa menyuarakan sesuatu yang benar dan baik itu di wilayah publik,” jelasnya.
Tak banyak yang mengetahui, perjalanan Haedar dalam sebagai jurnalis tidaklah instan. Saat menjadi awak redaksi Suara Muhammadiyah Haedar benar-benar "digojlok" sebagai wartawan lapangan. Ia mengenang masa-masa memungut berita dengan menempuh perjalanan jauh menggunakan bus, kereta ekonomi, bahkan berjalan kaki menyusuri berbagai daerah di Jawa maupun luar Jawa.
Pengalaman paling membekas bagi Haedar adalah saat tulisannya ditolak mentah-mentah. "Menjadi wartawan yang tidak jarang berita yang saya bikin itu tidak dipakai. Bahkan satu-dua disobek di depan kita. Rasanya sakit hati itu, sudah merasa benar tapi disobek," kenangnya.(Riz)

