Berkat Kiai Dahlan Mengamalkan Al-Qur’an, Muhammadiyah Jadi Persyarikatan Terkaya di Dunia

Publish

20 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1793
Muhammad Ikhwan Ahada. Foto: Nadia (Magang)

Muhammad Ikhwan Ahada. Foto: Nadia (Magang)

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kiai Dahlan dengan ketajaman analisis yang tinggi, mampu mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 di Kauman Yogyakarta. Hal itu berkat merenungi Al-Qur’an, salah satunya yang menginspirasi yaitu Qs ali-Imran [3] ayat 104. 

Berlanjut dari situ, Muhammadiyah mampu mendirikan ribuan amal usaha yang dirasakan kemaslahatannya oleh masyarakat luas. Dan, surat yang menginspirasi pendirian itu ialah Qs al-Maun [107] ayat 1-7.

“Kiai Dahlan dengan surat itu, mampu mendorong kekuatan beliau dan para muridnya mengembangkan Muhammadiyah. Sehingga kita menjadi Persyarikatan paling kaya di dunia,” kata Muhammad Ikhwan Ahada Ketua PWM DIY saat Pengajian Nuzulul Qur’an Suara Muhammadiyah di Ballroom Lantai 3 SM Tower Malioboro Yogyakarta, Rabu (19/3).

Ikhwan menyebut, amal usaha yang didirikan oleh Kiai Dahlan antara lain dibidang pendidikan mendirikan "Sekolah Agama Modern” bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, Qismul Arqa (sekarang—Madrasah Mu’allimin). Lalu, biang kesehatan mendirikan RS PKU Muhammadiyah dengan maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa’. Serta bidang sosial mendirikan panti asuhan dan pelayanan sosial lainnya.

“Pada awalnya mengamalkan Al-Qur’an Al-Maun ditertawakan oleh banyak orang. Tetapi dengan kerja kerasnya, berkembang menjadi luar biasa seperti sekarang ini,” sebutnya.

Di situlah relevansinya membaca, merenungi, dan mengamalkan isi Al-Qur’an. “Dan Kiai Dahlan telah membuktikan hal itu,” tuturnya. Sehingga, dengan hadirnya Al-Qur’an, Ikhwan mengemukakan agar umat manusia tertib dan tertata. 

“Menjadi manusia yang unggul, pinjul (lebih dari yang lain). Ini kalau kembali kepada pokok-pokok dan value-value yang ada di Al-Qur’an,” jelasnya.

Maka, keyakinan bahwa Al-Qur’an menjadi jalan hidup bagi umat manusia adalah keniscayaan. Dari situ kemudian, dapat menggapai peradaban yang maju dan unggul. Kuncinya membaca, namun juga disatupadukan pada kemampuan memahami, merenungkan, dan mengamalkan. 

“Itu yang terpenting. Kita sadar baca Al-Qur’an menjadi bagian yang harus kita upayakan, tapi tidak mudah. Baca Al-Qur’an itu sak maknane (serta maknanya). Itu yang akan menjadikan peradaban kita unggul. Kita menjadi maju karena ada values (nilai-nilai) yang mendorong kita. Kita tampil terbaik karena ada dorongan kadang itu nilai Al-Qur’an tapi tidak disadari,” tegasnya.

Karena itu, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu memaknai momen Nuzulul Qur’an bukan sekadar romantisme peringatan kulit luar. Tetapi, mesti membumi sampai ke kulit dalamnya, yakni dengan menjadikan Al-Qur’an hidup dalam denyut nadi gerak kehidupan umat manusia di muka bumi.

“Nuzulul Qur’an bagi kita hakikatnya bagaimana kita menempatkan Al-Qur’an dalam diri kita, sehingga kita bergerak, berprestasi, melakukan apa pun, itu semua merupakan dorongan dan motivasinya dari firman Allah itu (Al-Qur’an),” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PW....

Suara Muhammadiyah

23 February 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah — Energi bukan hanya persoalan kebutuhan harian, melainkan juga men....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Berita

MALAYSIA, Suara Muhammadiyah - International Conference Santri Mendunia (ICSM) merupakan progra....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-111 tanggal 4 Jumadil Awwal 144....

Suara Muhammadiyah

19 November 2023

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Dukungan penuh atas terselenggaranya CRM Award VI Banjarmasin 2025....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah