MADIUN, Suara Muhammadiyah – Mahasiswa non-Muslim di Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) kembali mencatat prestasi membanggakan.Sebelumnya, Kristofora Karoline Kewa, mahasiswi Kristen asal NTT dari Program Studi Administrasi Kesehatan (Adminkes) UMMAD, berhasil menjadi Wisudawan Terbaik UMMAD 2025.
Kini, giliran mahasiswi non-Muslim lainnya yang mengharumkan nama almamater di kancah nasional. Ia adalah Hembalina Irma Tasiripoula, mahasiswi semester 4 Prodi Administrasi Kesehatan yang merupakan pemeluk Katolik yang taat.
Pada ajang Putra Putri Kampus Indonesia (PPKI) 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 6–8 Februari 2026, Irma—sapaan akrabnya—sukses menyabet penghargaan Best Outfit. Kompetisi ini diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Prestasi ini sangat istimewa bagi Irma, yang lahir di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 20 tahun lalu. Pasalnya, ajang PPKI merupakan kompetisi bergengsi bertaraf nasional dengan konsep 4B (beauty, brand, behaviour, brave), dan Irma langsung meraih penghargaan pada partisipasi pertamanya.
“Saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan Best Outfit di PPKI 2026. Ini pengalaman pertama saya mengikuti ajang putra-putri kampus,” ungkap Irma.Awal Perjalanan
Irma bisa berpartisipasi berkat ajakan Fuad Dwi Artha, mahasiswa Prodi Hukum UMMAD sekaligus ketua panitia PPKI. Saat itu, Irma sedang menjabat sebagai penanggung jawab event Duta Kampus UMMAD Fest 2026, sehingga sempat ragu karena bentrok jadwal.
“Awalnya diajak Mas Fuad saat proses persiapan Duta Kampus. Setelah melihat jadwal, akhirnya saya bisa ikut. Saya berangkat ke Surabaya pada malam tanggal 5 Februari,” cerita Irma pada Rabu, 25 Februari 2026.
Fuad menuturkan bahwa ia memang yang mengajak Irma dan membantu mengurus dukungan dana dari kampus. “Alhamdulillah, Irma langsung menang di ajang nasional pada percobaan pertama,” kata Fuad, yang juga bekerja di perusahaan event organizer Artha Talenta Management Madiun.
Menurut Fuad, kemenangan ini sangat positif bagi Irma dan branding UMMAD. Outfit pemenang yang dikenakan Irma dirancang oleh Arga Wijaya, desainer sekaligus owner Artha Talenta Management. “Semua outfit peserta memang bagus, tapi juri memilih yang dikenakan Irma sebagai yang terbaik,” tambah Fuad.
Irma menjalani rangkaian ketat, mulai dari karantina hingga grand final. Selama karantina, ia mendapatkan pelatihan public speaking, wawancara, dance, catwalk, serta pengembangan kepribadian.
“Di grand final, juri bertanya alasan mengapa mereka harus memilih saya. Dari sini, saya merasa lebih percaya diri dan memahami bahwa hidup perlu perjuangan,” ungkap Irma.
Fuad menambahkan bahwa selama karantina, Irma belajar banyak hal seperti modern dance, berjalan di catwalk, public speaking dengan pronunciation yang baik, serta deep interview tentang kepribadian. “Ajang ini bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memberikan wawasan dan gerakan advokasi. Irma mendapat banyak pembelajaran berharga,” jelasnya.
Irma pun menyampaikan rasa bangganya menjadi bagian dari UMMAD. “Saya sangat bersyukur kuliah di sini. Kampus dan dosen-dosennya sangat mendukung mahasiswa, termasuk dalam suasana yang inklusif,” tutup Irma. (Pujoko)

