Berupaya Memosisikan Diri Tetap Berada dalam Koridor-Nya

Suara Muhammadiyah

Penulis

2
374
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Filsuf Inggris, Thomas Hobbes mengemukakan adagium pada abad ke-17: Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesama manusia.

Pandangan ini, kata Muhammad Saad Ibrahim, paradoksal dengan yang diajarkan oleh agama Islam. “Manusia diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya (fi ahsan at-taqwim),” kata, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Ditambah lagi, manusia dilahirkan dalam keaadan fitrah. Benang merahnya, Islam memosisikan manusia pada taraf makhluk Allah yang dimuliakan.

“Manusia diberikan desain dalam konteks tubuhnya, jiwanya. Itu betul-betul sangat dahsyat,” tegasnya dalam Tausiyah Kiai Saad Ibrahim, Sabtu (14/3) di TvMu Channel.

Lebih-lebih lagi, manusia diberikan Allah berupa keyakinan. “Untuk percaya kepada Allah,” ucapnya. Demikian jua, potensi, yang amat melekat dalam kediriannya.

“Untuk cenderung kepada kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan hal-hal yang baik,” sambungnya.

Yang paling fundamental substansi kehidupan ini, bukan ketika lahir ke dunia ini. Sebab, hal demikian itu pastilah dalam keadaan baik. Tapi, pada jejak akhir pengembaraan di dunia: husnul khatimah atau su’ul khatimah?

“Tentu yang terbaik adalah orang lahir dalam keadaan baik, lalu menjalani hidup dengan baik semuanya sampai kemudian husnul khatimah,” tekannya.

Tapi, di lain sisi pun, ada juga orang yang lahir dalam keadaan baik. Lalu kemudian menjadi tidak baik. Namun, atas kesadaran personal, hatta bertobat kepada Allah dengan penuh kesungguhan, lalu menjadi baik.

“Yang paling tidak bagus adalah ketika orang dilahirkan dalam keadaan baik, dalam keadaan fitrah, dalam keadaan punya potensi-potensi semuanya itu. Justru setelah dewasa menyimpang dari semuanya itu, membawa kejelekan, keburukannya sampai wafat,” ujarnya.

Demikian sisi yang lainnya. Setelah lahir dalam keadaan baik, lalu menjaga kebaikan-kebaikannya itu. Tetapi, jelang wafat, malah berbuat yang tidak baik.

“Maka dalam konteks yang seperti itu, menjadi su’ul khatimah,” tegas Saad.

Dengan penuh harap, sepanjang dengus napas berhembus, senantiasa dalam keadaan baik. Berikut memegang prinsip-prinsip kebaikan sebagaimana yang diajarkan agama Islam.

“Tentu pada umumnya orang-orang yang istikamah dalam kebaikan, akhirnya wafat dalam keadaan husnul khatimah. Sebaliknya, orang-orang yang beristikamah tentang kejahatan-kejahatan, wafatnya dalam keadaan tidak baik,” tegasnya sekali lagi. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Implementasi Humanitas di Desa Karang Sari PRINGSEWU, Suara Muhammadiyah – PK IMM FEB UMPRI s....

Suara Muhammadiyah

14 August 2024

Berita

"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur'an....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menyelenggarakan acara pemberia....

Suara Muhammadiyah

23 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Mengejawantahkan dakwah di era digitalisasi seperti sekarang ini....

Suara Muhammadiyah

23 June 2025

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Komunitas Rumah Sakit ‘Aisy....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah