YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bagai karang di tengah lautan. Demikian adagium yang menggambarkan Suara Muahmamdiyah. Tidak pernah henti berkarya dalam melahirkan buah bisnisnya.
Setelah sukses hotel, selanjutnya lahir anak buah bisnis baru berikutnya; Toko Oleh-oleh Khas Jogja. Namanya: Toko Oleh-oleh 1915 Khas Jogja.
Resmi diluncurkan Selasa (11/8) di lapangan parkir Grha Suara Muhammadiyah Yogyakarta dan dihadiri Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman.
Ia mengapresiasi Suara Muhammadiyah memenghadirkan Toko Oleh-oleh 1915 Khas Jogja ini sebagai bentuk pembangkitan ekonomi dan pemberdayaan produk UMKM masyarakat luas.
“Alhamdulillah hari ini Suara Muhammadiyah di Milad yang ke-111 nya menambah unit usaha bisnis baru yakni pusat oleh-oleh 1915. Tentu ini upaya yang bagus dalam rangka membangun ekosistem ekonomi Muhammadiyah, ekonomi umat,” katanya.
Menurut Agus, kehadiran Toko Oleh-oleh 1915 Khas Jogja ini sebagai bentuk atensi Suara Muhammadiyah mendukung tiga dasar fundamen yang melekat di Yogyakarta; Kota Pelajar, Kota Pariwisata, dan Kota Budaya.
“Hari ini membuktikan bahwa Suara Muhammadiyah mendukung tiga hal besar itu. Menghadirkan tokoh oleh-oleh yang sangat berkontribusi Jogja sebagai Kota Pariwisata yang sekaligus oleh-oleh yang dijual itu khas produk masyarakat, sehingga ini bagian dari menghidupkan budaya Jogja,” tegasnya.
Agus sangat bangga dengan Suara Muhammadiyah bergerak di sektor perdagangan dan industri pariwisata. Ia yakin dan optimis, Toko Toko Oleh-oleh 1915 Khas Jogja ini tidak hanya berada di jantung ibukota Muhammadiyah—Jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta—tapi ada di pelbagai titik tempat lainnya.
“Kami yakin toko oleh-oleh ini tetap akan mendapatkan sambutan yang baik. Semoga tidak lama lagi nanti muncul di tempat-tempat yang lain,” tuturnya.
Selain itu, juga ditekankan agar dapat menjaga standar kualitas. Bagi Agus, ini memegang peranan amat substansial untuk menjaga kepercayaan konsumen sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis berikutnya.
“Hadir dengan membawa standar seluruh Toko harus baik, seluruh produk harus memenuhi standar, baik standar pom maupun standar halal,” tekan Agus.
Pada saat yang sama, harus memberi sisi distingsi dengan yang lainnya. Menurut Agus, ini menjadi modal penting untuk membangun daya saing sekaligus memperkuat identitas Toko Oleh-oleh 1915 Khas Jogja.
“Itulah sekarang orang mencari di tempat makan bukan mencari rasa makan karena yang dikejar bedanya. Sehingga yang dicari suasananya. kalau semuanya sudah ada pembeda, masing-masing punya karakter,” beber Agus.
Dan, yang jauh lebih utamanya lagi, menyentuh hati dan perasaan pelanggan. Ini menjadi pasak dari pengejawantahan pelayanan yang berkesan dan membangun kedekatan emosional dengan konsumen.
“Bisa menyentuh hati dan perasaan pelanggan. Sehingga pelanggan itu merasa bagian yang tidak terpisahkan,” tandasnya. (Cris)

