Big Bang dan Black Hole, Misteri Semesta yang Al-Qur'an Singkap secara Terperinci

Suara Muhammadiyah

4 September 2026

83
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Medkom PP Muhammadiyah

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Medkom PP Muhammadiyah

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Adalah fakta, jagat semesta raya ini menjadi ciptaan nomor wahid Allah SwT. Betapa tidak, proses penciptaannya tersistematisasi dengan sedemikian rupa.

“Sekitar 13,8 miliar tahun yang lampau materi awal alam semesta ini adalah sesuatu yang sangat masif,” singkap Muhammad Saad Ibrahim. Hal yang masif itu kemudian meledak dan menyeruak ke berbagai penjuru.

“Terus-menerus bergerak, bergerak, bergerak. Maka terciptalah alam semesta seperti yang kita rasakan,” sambung Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Dari situlah lantas alam semesta mengembang dengan sangat cepat. Ketika energi dari ledakan itu mulai menyusut dan tandas, alam semesta mendingin dan mengembang lebih lanjut.

“Ledakan itu kemudian orang menyebut dengan istilah Big Bang, ledakan yang besar,” ujarnya, Sabtu (29/8) dalam Tausiyah Kiai Saad TvMu.

Ledakan yang besar itu kemudian colaps. Digambarkan Saad, situasi yang seperti itu galaksi-galaksi di semesta ini digulung dan masuk ke pusaran lubang hitam (black hole).

“Sebuah objek yang tidak bisa diamati, tetapi efeknya dapat diamati. Segala yang mendekatinya menjadi lenyap terserap ke dalam black hole,” terang Saad.

Dikonfirmasi dalam dunia sains, sebagian besar alam semesta ini telah masuk ke dalam black hole. Disebut Saad, saat ini terdapat 300 miliar galaksi di alam semesta. Masing-masing rata-rata punya 300 milar tata surya.

Satu sisi, ada juga lubang putih (white bole), yakni kebalikan dari black hole. “Yang lubang putih itu justru menyemburkan kembali,” imbuh Saad.

Demikian terlihat secara universal dari sisi pengetahuan sains. Sisi lain, menyigi bentang ayat-ayat Al-Qur’an, sangat detail dan terperinci melukiskan itu semua. Qs al-Anbiya ayat 30, misalnya. Di sini diperoleh konfirmasi dulu langit dan bumi menyatu lalu dipisahkan oleh Allah.

“Ayat ini dekat dengan ungkapan black hole, yakni asalnya menyatu padu kemudian terjadi ledakan,” bebernya. Bedanya dalam dunia sains, tidak ada penyebutan dimensi teologisnya, sementara Al-Qur’an amat komprehensif.

“Kalau di sini (Al-Qur’an) yaitu ‘Kami pecahkan, kami ledakkan, kami pisahkan keduanya (langit dan bumi),” sebutnya.

Seturut dengan itu, ayat 104-nya, juga mengemukakan konteks yang sama di atas tadi. “Pada hari ketika langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi.”

“Pada ayat ini ada informasi penting kalau dalam kaitan dunia sains kita mengenal black hole,” ucapnya.

Dari dua redaksi ayat tadi, kalau maknanya dikontekstualisasikan dengan black hole—jika hal tersebut disebut sebagai awal penciptaan—maka modelnya kurang lebih menjadi sesuatu yang sangat masif, berupa materi yang terkumpul dalam jumlah besar.

“Kalau di Al-Anbiya 30, sesuatu yang masif. Lalu yang masif itu meledak atau diledakkan oleh Allah. Kemudian akan tersedot oleh black hole,” tutur Saad.

Maknanya, tarikan yang begitu dahsyat dari black hole tersebut akan membuat sesuatu yang ada di dalamnya tergulung, memenuhi ruang-ruang black hole.

“Kita bisa memahami bahwa Allah menjadikan sesuatu yang sangat masif sebagai awal penciptaan, sesuatu yang sangat padat, lalu Allah ledakkan. Kalau sudah Allah gulung semuanya, lalu (Kami) akan mengulang,” terangnya.

Ungkapan itu, kata Saad, mendekati konteks white hole. Ketika semuanya sudah masuk ke dalam black hole, maka black hole tersebut seolah menjadi tempat seluruh materi terserap. Kemudian, di balik black hole itu terdapat white hole.

“Dan White Hole itulah kemudian menyemprotkan kembali ya apa yang telah diserap mereka itu. Maka ini akan Allah lakukan. Kita tidak tahu apakah miliar tahun yang lampau itu awal penciptaan atau itu sudah pengulangan-pengulangan,” urainya.

Ketika kiamat terjadi dan semuanya berakhir, Allah akan mengulangi kembali proses penciptaan tersebut. Lalu, manusia akan melalui proses selanjutnya sampai ke surga atau ke neraka.

“Dengan kata lain ketika Allah menciptakan itu akan terus-menerus terjadi,” bebernya.  Proses itu yang kata Saad, akan terjadi berulang-ulang. ketika diciptakan berulang-ulang proses-proses ledakan tadi, maka itu pun akan tertampung dalam konteks ini,” imbuhnya.

Pendek kata, kehidupan akan terus berjalan seperti itu. Dan manusia sejagat sedang berada pada salah satu bagian dari proses tersebut.

“Kita tidak tahu kalau nanti sudah kiamat lagi Allah katakan, ‘Kami akan mengulang,’ maka proses-proses itu akan terjadi semuanya seperti itu,” pungkasnya. Dan tentu, dengan demikian, semakin menyadari betapa Maha Besarnya Allah, Tuhan Pencipta Semesta Alam Raya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah – PKKMB kali ini dikemas dengan memperkenalkan Program Merdeka Belaj....

Suara Muhammadiyah

24 September 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Riau (FT Umri) dalam upayan....

Suara Muhammadiyah

30 May 2024

Berita

KL, Suara Muhammadiyah - Mudir pesantren KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang, Dr. Derliana dianugerah....

Suara Muhammadiyah

21 September 2023

Berita

BATAM, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batam menggelar kegiatan buka pu....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Berita

MANGGARAI TIMUR, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka mensukseskan program sistem penerimaan murid baru....

Suara Muhammadiyah

17 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah