Bukan Pendapatan, Perilaku Keuangan Jadi Penyebab Sulit Menabung

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

337
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menabung masih menjadi tantangan bagi banyak masyarakat, termasuk mereka yang telah memiliki penghasilan tetap. Tidak sedikit orang yang merasa pendapatannya selalu habis setiap bulan sehingga sulit menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan. Padahal, kegagalan menabung tidak selalu disebabkan oleh rendahnya pendapatan, melainkan juga dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola keuangannya.

Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, S.E.I., M.E.I., menjelaskan bahwa persoalan menabung merupakan masalah klasik yang banyak ditemui, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah. Kondisi tersebut sering terjadi karena pendapatan yang diperoleh hampir selalu habis untuk memenuhi kebutuhan dan pengeluaran rutin sehari-hari.

“Permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan karena menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ujarnya, Rabu (24/6).

Menurut Satria, akar persoalan tersebut tidak semata-mata terletak pada besarnya penghasilan. Dalam banyak kasus, kegagalan menabung justru dipengaruhi oleh perilaku keuangan (financial behavior) yang kurang sehat. Ketika pendapatan meningkat, sebagian orang cenderung menaikkan standar hidup dan pengeluarannya, sementara porsi tabungan tidak ikut bertambah.

Fenomena tersebut dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu kondisi ketika kenaikan pendapatan diikuti peningkatan konsumsi untuk memenuhi berbagai kebutuhan maupun keinginan. Akibatnya, ruang untuk menabung tetap sempit meskipun kemampuan finansial sebenarnya telah meningkat.

“Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung. Permasalahannya bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi. Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” jelasnya.

Selain perilaku konsumtif, Satria juga menyoroti pentingnya memiliki tujuan keuangan yang jelas. Menurutnya, banyak orang menabung hanya karena menganggapnya sebagai kebiasaan baik, tanpa memiliki target yang spesifik. Padahal, tujuan yang terukur dapat menjadi motivasi sekaligus panduan dalam mengelola keuangan.

“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.

Lebih lanjut, Satria menjelaskan bahwa kebiasaan menabung juga sering terganggu karena masyarakat belum memiliki perlindungan keuangan yang memadai. Ketika muncul kebutuhan mendadak, seperti biaya kesehatan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan keluarga lainnya, tabungan yang telah terkumpul terpaksa digunakan sehingga nilainya kembali berkurang bahkan habis.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa menabung bukan hanya soal kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga kemampuan mengelola, melindungi, dan mengarahkan pendapatan sesuai prioritas keuangan.
Karena itu, masyarakat perlu mulai memandang tabungan sebagai kebutuhan penting yang berkaitan dengan masa depan, bukan sekadar pilihan yang dilakukan jika masih terdapat sisa uang di akhir bulan.

“Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa. Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit diwujudkan. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” tegas Satria.

Ia menambahkan bahwa disiplin mengelola keuangan, menetapkan tujuan yang jelas, serta mengendalikan gaya hidup menjadi kunci utama dalam membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan.

“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” pungkasnya. (NF)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Spirit Nuzulul Qur’an: Pembangun Peradaban Islam Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Pondok Shabran....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Karomah KH Ahmad Dahlan Oleh: Arip Hidayat, Praktisi Keuangan Syari'ah di BTM Artha Surya. MTT PDM ....

Suara Muhammadiyah

21 November 2025

Wawasan

Peradaban Dimulai dari Titik Nol: Kedisiplinan Diri dan Kemerdekaan Jiwa, saat Individu Menaklukkan ....

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

Wawasan

Benarkah Orang yang Tidak Religius Lebih Sukses? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Un....

Suara Muhammadiyah

5 July 2024

Wawasan

Jangan Biarkan Algoritma Mengalahkan Ahmad Dahlan; Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Menyelamatka....

Suara Muhammadiyah

23 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah